Kabupaten, Sumedang, Radarnusantara.net |Padepokan Pengadegan Balekambang yang berlokasi di Blok Balekambang, Desa Rancamulya, wilayah Arjuna Tradisi Sumedang Larang, menjadi ruang perjumpaan budaya dalam kegiatan seni panahan tradisional yang sarat nilai filosofis. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai komunitas budaya di Kabupaten Sumedang, Sabtu (27/12/2025).
Event panahan tradisional tersebut diselenggarakan oleh Padepokan Balekambang di bawah naungan Yayasan Pengadegan Sundayana (Suguhan Seni Budaya Saayana), sebagai upaya nyata melestarikan warisan budaya leluhur Nusantara, khususnya tradisi panahan khas Sumedang Larang.
Uyut Syarif selaku pengelola Padepokan Balekambang menjelaskan bahwa panahan tradisional bukan sekadar olahraga ketangkasan, melainkan sebuah laku spiritual dan budaya. Menurutnya, panahan mengandung filosofi mendalam tentang pengendalian diri, keseimbangan batin, serta penghancuran sifat angkara murka.
“Melestarikan panahan berarti menjaga nilai-nilai leluhur Sumedang. Panahan tradisional adalah olah rasa dan olah batin yang lebih mengandalkan intuisi daripada sekadar bidikan mata. Di dalamnya terkandung konsep kesetaraan, keheningan, dan kesadaran diri,” ujar Uyut Syarif.
Padepokan Balekambang sendiri dikenal dengan suasana alamnya yang asri, berada tidak jauh dari pusat Kota Sumedang. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 50 meter dari jalan utama setelah Jembatan Cipeles dan Bundaran Alam Sari, melewati gang kecil dan jalan setapak yang berujung pada saung-saung sederhana, warung kopi, serta arena panahan tradisional.
Selain memfasilitasi kegiatan panahan, padepokan ini juga terbuka bagi masyarakat umum tanpa dipungut biaya pendaftaran, baik untuk kategori profesional maupun hiburan. Para pengunjung disuguhi aneka makanan tradisional khas Sunda seperti singkong rebus, ubi, pisang, bandrek, hingga lontong sayur yang dapat dinikmati secara gratis sebagai bentuk kearifan lokal dan keramahan budaya.
Dalam kegiatan ini diperkenalkan beberapa klasifikasi panahan tradisional, di antaranya pemanah wiwitan, pemanah panyilih, pemanah satria (jawara), serta pemanah ahli (paninggaran), yang diharapkan mampu menjadi media penguatan budaya sekaligus potensi pengembangan pariwisata daerah.
Acara tersebut turut dihadiri Ketua Sumedang Larang Asep Yudi, yang hadir bersama putranya dan ikut berpartisipasi dalam lomba panahan tradisional.
Sejumlah tokoh budaya Sumedang Larang juga tampak hadir, di antaranya Abah Uday, Bah Ura, Pembina Keraton Sumedang Larang Abah Abin, Abah Opik, Abah Uwow Dewok, Abah Sani Ompong, Abah Ude, Abah Ucrit, Abah Dadi Purwa, serta Ambu Wiwin (Ambu Nagari) sebagai penyaji hidangan tradisional.
Pengawasan kegiatan dilakukan oleh Abah Rahmat, Ketua Advokat Bangsa Indonesia (ABI) Jawa Barat, yang memiliki nama lengkap Rahmat Mulyana, S.H.
Dari hasil perlombaan, Abah Prop dinobatkan sebagai juara panahan tradisional pada kategori sasaran tembak jantung pisang dengan tingkat akurasi terbaik pada jarak 20 meter. Juara menerima piagam penghargaan dan hadiah uang sebagai bentuk apresiasi.
Uyut Syarif menegaskan bahwa esensi lomba panahan tradisional ini adalah membangkitkan kembali semangat ketangkasan generasi muda agar tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap gawai.
“Kegiatan ini diharapkan mampu memancing gairah ketangkasan dan membentuk karakter, sehingga generasi muda tidak larut dalam pengaruh negatif penggunaan gadget,” pungkasnya.
Reporter: Ade M. Kosasih / Abah Erief

