Enam Desainer Mengolah Batik Menjadi Busana Modern untuk Mendukung UMKM Perempuan

Enam Desainer Mengolah Batik Menjadi Busana Modern untuk Mendukung UMKM Perempuan

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Batik Keris bersama Perkumpulan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (P2LIPI) menggandeng enam desainer Indonesia untuk menghadirkan koleksi busana batik modern. Kolaborasi ini melibatkan Denny Wirawan, Ivan Gunawan, Priyo Oktaviano, Danny Satriadi, Ayu Dyah Andari, dan Marini Zumarnis. Karya mereka menunjukkan bahwa batik dapat diolah menjadi busana yang relevan dengan perkembangan gaya hidup masa kini, tanpa kehilangan karakter, nilai sejarah, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya.

Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, tetapi memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar perayaan warisan budaya. Melalui koleksi yang dihasilkan, Batik Keris dan P2LIPI berupaya menggalang bantuan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan. Dengan demikian, apresiasi terhadap batik diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya perempuan yang mengandalkan kegiatan usaha sebagai sumber penghidupan dan penguatan ekonomi keluarga.

Ketua Umum DPP P2LIPI, Indah Suryadharma Ali, menyampaikan bahwa kolaborasi sosial tersebut bertujuan menghubungkan pelestarian budaya dengan dukungan konkret bagi UMKM perempuan. Menurutnya, keterlibatan para desainer dan industri batik dapat memperluas dampak kegiatan, baik melalui pengenalan karya kepada publik maupun melalui bantuan yang dihimpun untuk penerima manfaat. Pernyataan itu disampaikan dalam jumpa pers di Jakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026. Momentum tersebut menegaskan bahwa peringatan Hari Batik Nasional dapat menjadi ruang untuk merayakan kreativitas sekaligus mendorong solidaritas sosial. Koleksi modern hasil kolaborasi enam desainer itu diharapkan meningkatkan perhatian masyarakat terhadap batik dan memperkuat dukungan terhadap perempuan pelaku usaha di berbagai daerah.

Enam desainer menerjemahkan batik ke dalam busana modern melalui pendekatan yang berbeda, terutama pada permainan siluet, pengolahan motif, dan pemilihan warna. Kain tradisional tidak sekadar dipindahkan ke dalam bentuk pakaian, tetapi diolah agar memiliki karakter sesuai gagasan setiap perancang. Ada rancangan yang menonjolkan garis tegas dan struktur kontemporer, sementara desain lain mengutamakan potongan lembut, longgar, serta detail yang memberi kesan ringan. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa batik mampu mengikuti beragam gaya tanpa kehilangan identitas budayanya.

Kain yang digunakan merupakan batik buatan tangan dengan teknik cap dan tulis. Proses pengerjaan satu per satu membuat setiap lembar kain memiliki nuansa yang khas, baik dari ketepatan garis, kepadatan warna, maupun susunan motifnya. Sejumlah rancangan bahkan dibuat sebagai unique piece, sehingga tidak memiliki replika. Keistimewaan ini memberikan nilai tersendiri pada busana sekaligus mengingatkan konsumen bahwa produk batik memiliki hubungan erat dengan ketelitian, waktu, dan keterampilan pembuatnya.

Keragaman motif juga menjadi bagian penting dalam eksplorasi tersebut. Unsur binatang, bunga, dan bentuk-bentuk dekoratif hadir dalam komposisi yang tidak seragam. Pilihan warnanya mencakup palet gelap yang menampilkan kesan elegan hingga warna terang yang terasa segar dan ekspresif. Variasi ini membantah anggapan bahwa batik bersifat monoton. Sebaliknya, batik dapat disesuaikan dengan selera konsumen, kebutuhan acara, serta karakter pemakainya, baik untuk busana sehari-hari maupun kesempatan khusus.

Direktur Batik Keris, Andy Rusli, memandang upaya membawa batik ke ranah high fashion dan high street sebagai langkah penting untuk memperluas penerimaannya. Pendekatan modern memungkinkan motif tradisional hadir dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan mode masa kini. Penyegaran pada potongan dan styling tidak menghapus akar budaya, melainkan menempatkan warisan tersebut dalam konteks baru. Dengan cara ini, batik dapat menjangkau generasi dan segmen pasar yang lebih luas, sekaligus mendukung keberlanjutan karya perajin serta usaha fesyen perempuan.

Koleksi batik yang tampil di panggung tidak berhenti sebagai pertunjukan mode. Setelah peragaan, karya tersebut akan dilanjutkan melalui aksi sosial bertajuk “Auction for Charity”. Dalam kegiatan ini, masing-masing desainer menyumbangkan satu koleksi untuk dilelang. Seluruh hasil lelang akan disalurkan pada November 2026 sebagai bantuan permodalan bagi pelaku UMKM perempuan binaan P2LIPI.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas dampak kolaborasi dunia mode, pelaku usaha, dan masyarakat. Selama kurang lebih 10 tahun, P2LIPI telah mendampingi sekitar 10.000 pelaku UMKM perempuan. Para penerima manfaat menjalankan bidang usaha yang beragam, mulai dari makanan dan minuman, kerajinan, fesyen, hingga jasa rumahan. Keragaman ini membuat kebutuhan permodalan setiap pelaku usaha tidak sama, baik untuk membeli bahan baku, menambah peralatan, meningkatkan kapasitas produksi, maupun memperluas pemasaran.

Dukungan melalui lelang diharapkan dapat membantu penerima manfaat mengembangkan usaha sesuai kebutuhan masing-masing. Modal yang tersedia dapat menjadi penguat bagi usaha yang sedang bertumbuh, sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing. Dengan demikian, nilai sebuah koleksi tidak hanya diukur dari desain, material, atau daya tariknya di panggung, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan setelah acara berakhir.

CEO Batik Keris, Lina Handianto, menjelaskan bahwa kegiatan ini membawa semangat yang lebih luas daripada sekadar memberikan bantuan. Aksi tersebut juga ditujukan untuk membangun solidaritas dan kepedulian masyarakat terhadap perjuangan perempuan dalam mengembangkan usaha. Keterlibatan publik melalui lelang diharapkan menciptakan hubungan yang lebih dekat karya kreatif dan pemberdayaan ekonomi, sehingga dukungan terhadap UMKM perempuan dapat tumbuh secara berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan fesyen sebagai medium untuk menggerakkan kepedulian sekaligus memperkuat ekosistem usaha lokal.

Pelestarian batik perlu berjalan beriringan dengan upaya menjadikannya tetap relevan bagi kehidupan masa kini. Warisan budaya ini tidak cukup hanya disimpan sebagai peninggalan, melainkan perlu diolah agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat, perubahan selera, dan perkembangan gaya hidup. Karena itu, inovasi desain, pemilihan bahan, serta cara memperkenalkan produk menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan batik tanpa menghilangkan akar tradisinya.

Pendampingan P2LIPI kepada UMKM perempuan juga tidak berhenti pada dukungan permodalan. Pendampingan tersebut membantu pelaku usaha memahami perubahan perilaku konsumen di era digital, termasuk kemampuan melakukan penjualan secara digital dan menampilkan produk secara lebih menarik. Keterampilan memotret busana, menyusun informasi produk, memanfaatkan media sosial, serta membangun komunikasi dengan calon pembeli dapat memperluas jangkauan pasar. Dengan dukungan itu, perajin memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan usahanya sekaligus memperkenalkan batik kepada konsumen yang lebih beragam.

Setiap motif batik memiliki filosofi yang berkaitan dengan perjalanan sejarah Indonesia. Di balik pola dan warna yang tampak indah, terdapat nilai, ingatan, serta pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Penghargaan juga patut diberikan kepada para pelaku UMKM yang tekun mempertahankan proses pembuatannya. Lina Handianto memandang setiap batik sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang melibatkan banyak tangan, mulai dari perajin yang menorehkan malam hingga pihak-pihak yang mengembangkan, mengenakan, dan memperkenalkannya kepada masyarakat.

Andy Rusli menyoroti tantangan untuk membawa tradisi batik yang telah berusia ratusan tahun agar terus relevan bagi generasi berikutnya. Tantangan tersebut menuntut keseimbangan penghormatan terhadap teknik dan filosofi lama dengan keberanian menghadirkan bentuk, fungsi, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan zaman. Melalui kolaborasi desainer, perajin, dan pendamping UMKM, batik dapat terus hadir dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus mempertahankan jejak sejarah dan nilai kerja keras yang melekat pada proses pembuatannya.