Sport  

Sebanyak 63 Korban KM Virgo Transport 8 Teridentifikasi, Jatim Terbanyak

Sebanyak 63 Korban KM Virgo Transport 8 Teridentifikasi, Jatim Terbanyak

BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan telah mengidentifikasi 63 jenazah korban kecelakaan KM Virgo Transport 8. Perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan pascakejadian, terutama untuk memastikan setiap jenazah dapat dikenali secara tepat dan diserahkan kepada keluarga sesuai prosedur yang berlaku.

Dari 80 jenazah yang telah diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, sebanyak 63 jenazah berhasil dikenali oleh tim DVI. Sementara itu, 17 jenazah lainnya masih menjalani proses identifikasi. Pemeriksaan terhadap jenazah yang belum teridentifikasi dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada data dan informasi pembanding yang tersedia.

Informasi mengenai perkembangan identifikasi tersebut disampaikan Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol dr Much Sofwan, di Banjarmasin pada Minggu. Pernyataan itu memberikan gambaran terbaru mengenai jumlah jenazah yang telah dikenali serta sisa proses yang masih berlangsung di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.

Proses identifikasi menjadi tahapan krusial karena hasilnya diperlukan untuk memastikan kesesuaian identitas korban secara medis dan administratif. Dengan demikian, keluarga memperoleh kepastian mengenai anggota keluarganya yang menjadi korban. Tim DVI masih melanjutkan pemeriksaan terhadap 17 jenazah yang belum dikenali, sedangkan data mengenai 63 jenazah yang telah teridentifikasi terus menjadi dasar dalam penanganan berikutnya.

Sebaran daerah asal korban KM Virgo Transport 8 yang telah teridentifikasi menunjukkan Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak. Berdasarkan hasil identifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI), sebanyak 28 korban tercatat berasal dari provinsi tersebut. Data ini menempatkan Jawa Timur di urutan teratas dibandingkan daerah lain yang telah terdata.

Much Sofwan menyampaikan bahwa terdapat 28 korban teridentifikasi dari Jawa Timur. Keterangan tersebut merujuk pada korban meninggal yang identitas serta daerah asalnya telah berhasil dipastikan melalui proses identifikasi oleh tim DVI. Proses itu dilakukan dengan mencocokkan berbagai data, termasuk informasi antemortem dan postmortem, sebelum hasilnya diumumkan kepada keluarga maupun publik.

Setelah Jawa Timur, Jawa Tengah menjadi daerah asal dengan jumlah korban teridentifikasi terbanyak berikutnya, yakni 16 orang. Selanjutnya, delapan korban tercatat berasal dari Kalimantan Selatan, sedangkan enam korban lainnya berasal dari Jawa Barat. Persebaran tersebut menggambarkan asal wilayah para korban yang identitasnya sudah dikonfirmasi hingga pendataan dilakukan.

Angka-angka itu perlu dipahami secara tepat karena tidak menunjukkan keseluruhan korban yang telah ditemukan dalam peristiwa tersebut. Jumlah tersebut secara khusus mencakup korban meninggal yang sudah berhasil diidentifikasi oleh tim DVI dan memiliki data asal daerah yang dapat dipastikan. Dengan demikian, masih terdapat perbedaan jumlah korban yang ditemukan, korban meninggal, dan korban yang identitasnya telah dikonfirmasi.

Pendataan berdasarkan daerah asal menjadi bagian penting dalam proses penanganan pascakejadian. Informasi itu membantu pemerintah dan petugas berkoordinasi dengan keluarga korban, termasuk dalam penyampaian kabar, pemulangan jenazah, serta pemenuhan kebutuhan administrasi. Pembaruan data tetap mengikuti hasil pemeriksaan dan verifikasi tim DVI, sehingga angka maupun sebaran wilayah dapat berubah apabila proses identifikasi berikutnya menghasilkan penetapan baru.

Rangkaian identifikasi korban KM Virgo Transport 8 diawali dengan dikenalnya Reyner Fausta Yosilianto, seorang pemuda berusia 22 tahun asal Malang, Jawa Timur. Reyner tercatat sebagai jenazah pertama yang berhasil diidentifikasi dalam proses tersebut. Penetapan identitas ini menjadi tahap awal dalam upaya memastikan nama-nama korban yang ditemukan dapat disampaikan secara jelas kepada pihak terkait.

Proses identifikasi terhadap Reyner berlangsung pada Senin, 14 September. Dalam pelaksanaannya, petugas menggunakan catatan sidik jari sebagai salah satu dasar pencocokan identitas. Penggunaan data tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan berdasarkan catatan yang tersedia, sehingga identitas jenazah dapat ditentukan secara lebih terukur dan tidak hanya mengandalkan keterangan umum.

Identifikasi dilakukan seiring ditemukannya korban meninggal. Setelah ditemukan, jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Rumah sakit tersebut menjadi tempat berlangsungnya proses penanganan dan pemeriksaan identitas terhadap jenazah yang telah ditemukan. Dari rangkaian pemeriksaan itu, Reyner Fausta Yosilianto menjadi nama pertama yang berhasil dipastikan.

Informasi mengenai identitas Reyner juga mencantumkan usia dan daerah asalnya, yakni 22 tahun dan Malang, Jawa Timur. Keterangan tersebut melengkapi hasil pencocokan melalui catatan sidik jari serta memberikan kepastian mengenai identitas korban yang telah diperiksa. Penyebutan nama secara resmi menjadi bagian penting dalam pendataan korban, terutama ketika proses identifikasi masih berlangsung terhadap jenazah lainnya.

Dengan teridentifikasinya Reyner, rangkaian pendataan korban KM Virgo Transport 8 memiliki titik awal yang jelas. Setiap hasil pemeriksaan berikutnya dapat dicatat berdasarkan prosedur identifikasi yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Tahap ini menunjukkan bahwa catatan sidik jari digunakan untuk membantu mengenali korban secara pasti, sementara informasi mengenai nama, usia, dan asal daerah disusun sebagai bagian dari keterangan identitasnya.

Proses identifikasi korban KM Virgo Transport 8 masih berlangsung. Tim Disaster Victim Identification (DVI) terus melakukan pemeriksaan terhadap jenazah yang telah dievakuasi dan diterima di rumah sakit. Sebagian sampel DNA dari korban maupun keluarga telah dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pengiriman tersebut menjadi bagian dari tahapan pencocokan data yang dilakukan secara ilmiah dan berlapis.

Much Sofwan mengimbau keluarga korban agar tetap bersabar menunggu hasil pemeriksaan. Proses identifikasi memerlukan ketelitian karena setiap temuan harus dibandingkan dengan data ante mortem yang disampaikan keluarga, seperti informasi medis, ciri fisik, rekam gigi, sidik jari, serta sampel DNA. Keakuratan menjadi prioritas agar identitas yang disampaikan kepada keluarga benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Tim DVI tetap bekerja tanpa mengenal hari libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Setiap jenazah yang diterima langsung diperiksa sesuai prosedur, kemudian datanya dicocokkan dengan informasi ante mortem dari keluarga. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap melalui sejumlah metode, sehingga prosesnya tidak hanya bergantung pada satu jenis data. Apabila diperlukan, tim juga menindaklanjuti pemeriksaan laboratorium dan koordinasi dengan pihak terkait.

Kerja berkelanjutan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh korban dapat diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga secara tepat. Namun, hingga perkembangan terakhir, masih terdapat 17 jenazah yang belum teridentifikasi. Tim masih melanjutkan pemeriksaan serta pencocokan data, sementara keluarga diminta mengikuti informasi resmi dari petugas dan menunggu hasil proses identifikasi dengan sabar.