Erick Thohir Ajak Dispora Daerah Menyatukan Arah Pembinaan Menuju Olimpiade

Erick Thohir Ajak Dispora Daerah Menyatukan Arah Pembinaan Menuju Olimpiade

Jakarta | Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Erick Thohir mengumpulkan perwakilan dinas pemuda dan olahraga (Dispora) dari seluruh Indonesia untuk membicarakan persiapan menuju Olimpiade. Ia menyampaikan hal tersebut kepada awak media dalam Forum Nasional Transformasi Kebijakan Kepemudaan dan Keolahragaan yang berlangsung di Hotel Pullman, Jakarta, pada Kamis (15/10). Pertemuan itu menjadi ruang untuk menyatukan perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap pembinaan olahraga nasional.

Pelibatan Dispora daerah dinilai penting karena pembinaan atlet tidak hanya berlangsung di tingkat pusat. Pemerintah daerah berperan dalam mendukung aktivitas olahraga, mengenali potensi atlet, serta menjaga proses pembinaan di wilayah masing-masing. Dengan mempertemukan para perwakilan, Menpora membuka pembahasan mengenai perlunya arah yang lebih selaras dalam menyiapkan atlet menuju ajang olahraga terbesar dunia tersebut.

Persiapan Olimpiade membutuhkan kerja yang berkesinambungan dan koordinasi berbagai pihak. Kesamaan arah kementerian dan pemerintah daerah dapat membantu menghubungkan upaya pembinaan di daerah dengan kebutuhan olahraga nasional. Dalam konteks itu, komunikasi dengan Dispora menjadi langkah untuk membahas bagaimana dukungan daerah dapat terintegrasi dalam agenda menuju Olimpiade, tanpa mengabaikan kondisi dan potensi yang berbeda di setiap wilayah.

Forum nasional tersebut juga mengangkat transformasi kebijakan kepemudaan dan keolahragaan, sehingga pembicaraan mengenai Olimpiade berada dalam lingkup yang lebih luas daripada persiapan satu kompetisi. Pembinaan yang terarah memerlukan perhatian terhadap kesinambungan program dan keterlibatan lembaga terkait. Pertemuan dengan perwakilan Dispora memberi kesempatan untuk membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya koordinasi dalam mengembangkan olahraga dan menyiapkan atlet.

Melalui pertemuan itu, Erick Thohir menegaskan pentingnya menyatukan arah pembinaan dengan pemerintah daerah. Langkah tersebut diharapkan memperkuat keterhubungan kebijakan nasional dan pelaksanaan di daerah. Dengan koordinasi yang lebih terarah, potensi atlet dari berbagai wilayah dapat menjadi bagian dari pembahasan persiapan Olimpiade, sementara Dispora memiliki ruang untuk terlibat dalam upaya bersama tersebut.

Erick Thohir menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) sebagai kerangka arah pembinaan olahraga nasional. Dokumen tersebut menetapkan 21 cabang olahraga unggulan yang menjadi perhatian dalam upaya membangun prestasi. Menurut Erick, DBON memberi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk melihat cabang mana yang perlu memperoleh perhatian pembinaan secara lebih terarah. Dengan adanya prioritas tersebut, pembinaan tidak hanya berjalan berdasarkan kegiatan rutin di masing-masing wilayah, tetapi juga dapat dikaitkan dengan sasaran prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional. Ia berharap kerangka nasional ini dipahami bersama agar potensi atlet daerah dapat berkembang selaras dengan tujuan olahraga nasional dalam jangka panjang.

Erick berharap pemerintah daerah mulai memusatkan perhatian dan sumber daya pembinaan pada cabang-cabang yang telah ditetapkan sebagai unggulan. Fokus tersebut dimaksudkan untuk membantu proses pembinaan berlangsung lebih terarah, mulai dari pengembangan atlet hingga persiapan menghadapi kompetisi. Daerah memiliki peran penting karena pembinaan dan pengenalan potensi atlet dapat dilakukan di lingkungan setempat. Dengan menyelaraskan upaya daerah terhadap DBON, jalur pembinaan diharapkan memiliki sasaran yang lebih jelas. Tujuan yang disampaikan adalah meningkatkan peluang Indonesia meraih prestasi, khususnya di Olimpiade. Harapan ini menjadi arah pembicaraan, bukan pernyataan bahwa setiap daerah telah menetapkan program atau target baru untuk seluruh cabang unggulan.

Pengumpulan perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) daerah dimaksudkan sebagai ruang untuk membahas arah persiapan serta menyatukan fokus pembinaan. Pertemuan tersebut memberi kesempatan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memahami prioritas yang tercantum dalam DBON dan mendiskusikan peran masing-masing dalam mendukungnya. Penyamaan arah penting agar pembinaan di berbagai wilayah tidak berjalan dengan sasaran yang saling terpisah dari tujuan nasional. Namun, keterangan mengenai pertemuan ini berfokus pada pembahasan dan penyelarasan pandangan; tidak disebutkan adanya keputusan baru yang mengubah DBON atau menetapkan kebijakan tambahan. Dengan demikian, pesan utama Erick adalah mendorong daerah menggunakan kerangka yang sudah ada sebagai acuan bersama, terutama dalam menyiapkan atlet menuju sasaran prestasi Olimpiade.

Dalam pandangan Erick Thohir, Olimpiade perlu ditempatkan sebagai tujuan penting dalam pembinaan olahraga prestasi karena ajang ini merupakan panggung tertinggi bagi atlet untuk mengukur kemampuan dan membawa nama Indonesia. Persiapan menuju Olimpiade memberi arah jangka panjang bagi program pembinaan, mulai dari pencarian bakat, peningkatan kualitas pelatih, penguatan kompetisi, hingga dukungan terhadap kebutuhan atlet. Dengan tujuan yang jelas, setiap unsur dapat memahami capaian yang hendak dibangun dan menyusun langkah secara konsisten. Orientasi tersebut bukan semata-mata soal mengejar medali, tetapi juga tentang membentuk sistem yang mampu melahirkan atlet berdaya saing tinggi secara berkelanjutan, serta menjaga kesinambungan prestasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurut Erick, prestasi di Olimpiade memiliki tempat khusus dalam ingatan masyarakat. Keberhasilan atlet pada ajang olahraga terbesar di dunia itu dapat menjadi kebanggaan bersama dan dikenang jauh setelah kompetisi berakhir. Ia mencontohkan perhatian publik terhadap para juara dunia bulu tangkis. Ketika masyarakat membicarakan pemain yang pernah menjadi juara dunia, nama atlet yang juga berhasil meraih gelar Olimpiade biasanya ikut disebut dan diingat. Hal ini menunjukkan bahwa capaian Olimpiade mempunyai nilai simbolis yang kuat, sekaligus menjadi tolok ukur penting dalam perjalanan karier atlet. Karena itu, keberhasilan di sana bukan hanya catatan bagi atlet dan federasi, melainkan bagian dari sejarah olahraga nasional yang bertahan dalam ingatan publik.

Contoh tersebut digunakan Erick untuk menegaskan perlunya kesamaan persepsi tentang orientasi prestasi olahraga. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, Dispora, federasi, pelatih, dan pemangku kepentingan lainnya perlu bergerak dengan pemahaman tujuan yang sejalan. Keselarasan ini membantu proses pembinaan di daerah terhubung dengan kebutuhan menuju level tertinggi, tanpa mengabaikan kompetisi dan sasaran yang penting. Setiap daerah dapat mengembangkan potensi cabang olahraga dan atletnya, sementara arah kerja bersama tetap tertuju pada pencapaian prestasi internasional. Dengan demikian, Olimpiade berfungsi sebagai muara sekaligus panduan untuk menetapkan prioritas, mengevaluasi perkembangan, dan menjaga konsistensi pembinaan. Penyamaan arah tidak berarti semua daerah menerapkan cara yang seragam, tetapi memastikan usaha yang beragam mendukung cita-cita prestasi Indonesia.

Pembangunan dan perawatan infrastruktur olahraga menjadi salah satu perhatian Kementerian Pemuda dan Olahraga dalam memperkuat pembinaan atlet. Fasilitas yang memadai dibutuhkan agar proses latihan berlangsung konsisten, aman, dan sesuai kebutuhan cabang olahraga. Ketersediaan sarana juga berpengaruh pada kesempatan atlet daerah untuk mengembangkan kemampuan tanpa harus selalu berpindah ke pusat-pusat latihan di kota besar. Karena itu, pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan program dan pelatih; dukungan tempat latihan, peralatan, serta pemeliharaan fasilitas perlu direncanakan sebagai bagian dari ekosistem olahraga. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan memiliki arah yang selaras dalam memenuhi kebutuhan tersebut, dengan mempertimbangkan kondisi, potensi, dan prioritas masing-masing wilayah. Langkah ini penting untuk memperluas akses pembinaan dan memperkuat kesinambungan prestasi.

Forum bersama pemangku kepentingan daerah dapat membantu memetakan persoalan fasilitas sekaligus menyusun masukan yang lebih terarah. Hasil pembahasan itu akan menjadi bahan bagi Kemenpora dalam merumuskan aturan yang lebih spesifik mengenai keolahragaan, termasuk sarana yang mendukung pembinaan. Regulasi yang jelas diharapkan memperkuat pembagian peran, perencanaan, dan tindak lanjut, sehingga kebutuhan infrastruktur tidak hanya dibahas secara umum. Erick Thohir juga mengingatkan bahwa rekomendasi Kemenpora mengenai fasilitas olahraga tidak semestinya berhenti sebagai dokumen atau usulan.