Pemkot Bekasi Siapkan Akses Baru dan Pembenahan Transaksi di Pasar Baru

Pemkot Bekasi Siapkan Akses Baru dan Pembenahan Transaksi di Pasar Baru

KOTA BEKASI, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Pemerintah Kota Bekasi menyiapkan penambahan fasilitas pendukung di Pasar Baru Bekasi untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat saat berbelanja. Fasilitas yang direncanakan meliputi lift barang dan eskalator. Kehadiran sarana tersebut diharapkan dapat memudahkan mobilitas pengunjung sekaligus memperlancar pemindahan barang di dalam area pasar.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyampaikan rencana itu pada Jumat, 2 Oktober 2026, ketika menghadiri kegiatan Gerakan Belanja Rame-Rame ke Pasar Rakyat atau Gebrak Pasar di Pasar Baru Bekasi. Menurutnya, pembenahan fasilitas perlu dilakukan agar pasar rakyat dapat memberikan pengalaman berbelanja yang lebih nyaman, tertib, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Penambahan eskalator menjadi perhatian penting, terutama bagi ibu-ibu dan kelompok lanjut usia yang sering membawa barang belanjaan atau membutuhkan akses yang lebih praktis antararea pasar. Sementara itu, lift barang dapat mendukung aktivitas pedagang serta mengurangi beban ketika barang dagangan dipindahkan ke lantai atau bagian lain bangunan. Dengan fasilitas yang memadai, aktivitas jual beli diharapkan berlangsung lebih efektif.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bekasi memperkuat daya tarik pasar rakyat. Pasar yang nyaman, bersih, dan memiliki akses pendukung yang baik dinilai lebih mampu bersaing dengan pasar modern. Selain membantu pedagang mempertahankan pelanggan, peningkatan fasilitas dapat mendorong masyarakat untuk kembali menjadikan pasar tradisional sebagai pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah berharap pembenahan ini berjalan seiring dengan peningkatan pelayanan, kebersihan, serta pengelolaan pasar secara berkelanjutan.

Tri Adhianto menempatkan perbaikan fasilitas fisik dan pembenahan tata kelola sebagai prioritas dalam evaluasi Pemerintah Kota Bekasi terhadap Pasar Baru. Evaluasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan, tetapi juga mencakup kenyamanan, kemudahan akses, serta pengelolaan pasar agar dapat berfungsi lebih baik bagi pedagang dan masyarakat. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pasar rakyat tetap mampu menjawab kebutuhan pengunjung di tengah perubahan pola belanja.

Dalam penjelasannya, Tri menyampaikan bahwa dirinya telah meminta pengadaan lift, terutama lift barang, serta eskalator bagi pengunjung. Lift barang diperlukan untuk membantu mobilitas pengangkutan komoditas dan perlengkapan menuju area pasar, sehingga aktivitas pedagang dapat berlangsung lebih efisien. Sementara itu, keberadaan eskalator diharapkan memudahkan masyarakat berpindah antararea tanpa harus menghadapi akses tangga yang menyulitkan.

Perhatian terhadap akses pengunjung menjadi semakin relevan karena Pasar Baru banyak didatangi ibu-ibu dan warga lanjut usia. Bagi kelompok tersebut, fasilitas transportasi vertikal yang aman dan mudah digunakan dapat memberikan pengalaman berbelanja yang lebih nyaman. Kemudahan akses juga berpotensi membuat masyarakat lebih tertarik mengunjungi pasar, karena kebutuhan berbelanja dapat dipenuhi tanpa hambatan fisik yang berarti.

Pembenahan fasilitas tersebut berjalan beriringan dengan evaluasi tata kelola. Pengelolaan yang tertib, didukung sarana memadai, diharapkan menciptakan lingkungan pasar yang lebih nyaman, aman, dan teratur. Dengan demikian, peningkatan akses bukan semata-mata pembangunan infrastruktur, melainkan bagian dari upaya memperkuat daya tarik pasar rakyat. Pemerintah Kota Bekasi berharap perbaikan itu dapat menjaga keberadaan Pasar Baru sebagai ruang perdagangan yang mudah dijangkau dan tetap relevan bagi berbagai lapisan masyarakat.

Wali kota mengimbau para pedagang di Pasar Baru Bekasi agar turut aktif menjaga kebersihan lingkungan pasar. Imbauan tersebut menegaskan bahwa kondisi pasar bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola atau pemerintah, melainkan juga memerlukan kepedulian dari seluruh pihak yang beraktivitas di dalamnya. Pedagang berinteraksi langsung dengan pembeli dan menempati area pasar setiap hari, sehingga peran mereka penting dalam mempertahankan lingkungan yang rapi, bersih, dan nyaman.

Secara umum, kondisi Pasar Baru Bekasi saat ini dinilai sudah cukup nyaman untuk dikunjungi. Pembenahan fasilitas fisik dan penyediaan akses yang lebih baik dapat membantu meningkatkan pengalaman masyarakat ketika berbelanja. Namun, kenyamanan tersebut perlu didukung oleh kebersihan yang terjaga secara konsisten. Lingkungan pasar yang bersih akan membuat pengunjung merasa lebih tenang, sekaligus memberikan kesan positif terhadap aktivitas perdagangan di dalamnya.

Kebersihan menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong masyarakat kembali berbelanja di pasar tradisional. Pasar yang bersih dapat memperkuat kepercayaan pengunjung bahwa kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi dalam suasana yang layak dan menyenangkan. Karena itu, perhatian terhadap kebersihan perlu ditempatkan sebagai pelengkap dari pembenahan fasilitas fisik di Pasar Baru Bekasi. Akses yang lebih baik dan fasilitas yang semakin tertata akan memberikan hasil yang lebih optimal apabila diiringi kepedulian pedagang dalam menjaga lingkungan pasar. Imbauan wali kota tersebut sekaligus mengingatkan bahwa perubahan kenyamanan pasar tidak hanya terlihat dari bangunan dan sarana, tetapi juga dari kebiasaan menjaga kebersihan di area perdagangan.

Selama pelaksanaan Gebrak Pasar, pengunjung turut menyoroti masih minimnya penggunaan pembayaran nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS di kalangan pedagang. Catatan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pengalaman pengunjung ketika melakukan transaksi di area pasar, bukan sebagai keterangan mengenai kebijakan baru. Eti, aparatur sipil negara Pemerintah Kota Bekasi, menyebut bahwa pemanfaatan QRIS oleh pedagang masih terbatas.

Kondisi itu membuat sebagian pembeli dan pedagang tetap perlu menyiapkan uang tunai saat bertransaksi. Agar pembayaran dapat dilakukan, pembeli biasanya harus membawa pecahan kecil, sementara pedagang juga perlu menyediakan uang kembalian dengan jumlah yang sesuai. Situasi tersebut dapat membuat proses pembayaran berlangsung lebih lambat, terutama ketika terjadi antrean atau ketika uang yang dibawa pembeli tidak tersedia dalam pecahan yang mudah digunakan.

Masukan mengenai QRIS menunjukkan bahwa kemudahan transaksi menjadi salah satu hal yang diperhatikan pengunjung selama Gebrak Pasar. Pembayaran nontunai dinilai dapat menjadi pilihan praktis, khususnya ketika pembeli tidak membawa uang tunai dalam jumlah atau pecahan yang sesuai. Namun, berdasarkan sorotan yang muncul di lapangan, penggunaan QRIS di kalangan pedagang masih belum banyak ditemukan.

Catatan ini menutup rangkaian informasi mengenai pelaksanaan Gebrak Pasar dengan menempatkan pengalaman pengunjung sebagai perhatian penting. Persoalan pembayaran QRIS yang disampaikan berkaitan dengan minimnya penggunaan di lapangan dan dampaknya terhadap kelancaran transaksi. Tidak terdapat keterangan mengenai penerapan aturan baru atau tambahan data lain di luar sorotan pengunjung dan penjelasan Eti mengenai kondisi penggunaan QRIS tersebut.