Erick Thohir Desak Sanksi Tegas atas Penyerangan Bus Persib U-18

Erick Thohir Desak Sanksi Tegas atas Penyerangan Bus Persib U-18

Kota Bandung | Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengecam keras penyerangan terhadap rombongan Persib Bandung U-18. Ia menilai insiden tersebut bukan sekadar pelanggaran terhadap sportivitas, melainkan tindakan kriminal yang tidak dapat ditoleransi dalam lingkungan sepak bola Indonesia. Menurut Erick, setiap bentuk kekerasan yang mengancam keselamatan pemain, ofisial, maupun anggota rombongan harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

Erick menyampaikan sikap itu di Solo pada Senin, 12 Oktober 2026, sehari setelah penyerangan terjadi pada Minggu malam, 11 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak boleh dianggap sebagai bagian dari dinamika persaingan antarsuporter. Sepak bola, kata dia, semestinya menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, bukan alasan untuk melakukan intimidasi atau menyerang pihak lain.

Ia juga menolak anggapan bahwa aksi kekerasan dapat dibenarkan oleh fanatisme. Bagi Erick, suporter sepak bola Indonesia memiliki tradisi dukungan yang besar dan penuh semangat, tetapi fanatisme harus tetap disertai tanggung jawab. Penyerangan terhadap bus yang membawa tim muda menunjukkan adanya tindakan yang telah melampaui batas kewajaran serta berpotensi menimbulkan korban dan trauma.

Karena itu, Erick mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut kasus tersebut secara menyeluruh dan menjatuhkan sanksi tegas kepada pihak yang terbukti terlibat. Ia berharap proses hukum tidak berhenti pada kecaman, tetapi menghasilkan penindakan yang memberikan efek jera. PSSI, menurutnya, juga perlu berkoordinasi dengan klub, penyelenggara pertandingan, dan aparat keamanan agar perlindungan terhadap tim-tim usia muda diperkuat.

Erick menekankan bahwa pembinaan sepak bola tidak hanya menyangkut kemampuan teknis di lapangan. Pendidikan mengenai disiplin, penghormatan terhadap lawan, serta penolakan terhadap kekerasan harus menjadi bagian penting dalam ekosistem sepak bola nasional. Dengan demikian, insiden serupa diharapkan tidak kembali terjadi dan kompetisi dapat berlangsung dalam suasana aman bagi seluruh peserta.

Erick Thohir mendorong pihak liga dan klub terkait untuk segera menindaklanjuti penyerangan terhadap bus Persib U-18. Menurutnya, proses penanganan tidak boleh berhenti pada pernyataan keprihatinan, tetapi harus berlanjut hingga pelaku memperoleh sanksi yang tegas dan terukur. Liga diminta memeriksa seluruh fakta, meminta pertanggungjawaban pihak yang terlibat, serta memastikan klub mengambil langkah disipliner sesuai aturan kompetisi.

Erick menilai tindakan perampasan, perusakan bus, dan pemukulan terhadap ofisial bukan sekadar pelanggaran etik dalam pertandingan. Perbuatan tersebut telah masuk kategori kriminalitas karena menimbulkan kerugian, ancaman keselamatan, serta rasa takut bagi pemain dan ofisial. Oleh sebab itu, penyelesaiannya memerlukan koordinasi otoritas sepak bola, klub, dan aparat penegak hukum. Sanksi olahraga tetap diperlukan, tetapi proses hukum juga harus berjalan agar kasus serupa tidak dianggap sebagai hal biasa.

Pihak kepolisian disebut telah bekerja sama dalam penanganan kasus tersebut. Kolaborasi ini diharapkan membantu mengungkap rangkaian kejadian, mengidentifikasi pelaku, dan memastikan setiap pihak yang terbukti terlibat diproses berdasarkan ketentuan yang berlaku. PSSI juga mendorong klub dan penyelenggara kompetisi memperkuat pengamanan, terutama ketika tim menjalani perjalanan atau pertandingan yang berpotensi menghadirkan gesekan antarsuporter.

Langkah tegas itu diperlukan untuk mencegah terulangnya insiden yang mencoreng sepak bola Indonesia. Erick mengingatkan adanya kesepakatan dengan FIFA bahwa suporter tim nasional maupun klub harus dapat pulang dengan selamat setelah menyaksikan pertandingan. Prinsip tersebut mencakup perlindungan terhadap pemain, ofisial, perangkat pertandingan, dan seluruh penonton. Karena itu, keamanan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab tuan rumah, melainkan kewajiban bersama yang harus diwujudkan melalui aturan jelas, pengawasan konsisten, dan penegakan sanksi tanpa pandang bulu.

Peristiwa penyerangan terhadap bus Persib U-18 bermula ketika kendaraan yang membawa rombongan tim berhenti di Rest Area Batang Km 360, Jawa Tengah. Bus tersebut berada di area yang berdekatan dengan rombongan suporter berinisial J yang diketahui baru menyelesaikan perjalanan pulang dari Yogyakarta. Pada tahap awal, situasi di rest area disebut masih berjalan seperti biasa. Namun, keadaan kemudian berubah setelah sejumlah orang mendekati dan mengerumuni kendaraan tim Persib U-18.

Berdasarkan penuturan ofisial Persib U-18, Pandu Persada, rombongan yang menghampiri bus membuat suasana menjadi tegang. Para pemain dan ofisial berada di sekitar kendaraan ketika massa mulai mendekat. Dalam kondisi tersebut, rekan Pandu yang bernama Ridwan sempat ditarik oleh salah seorang suporter. Ridwan kemudian berhasil melepaskan diri dan masuk kembali ke dalam bus untuk menghindari situasi yang semakin tidak terkendali.

Pandu tidak sempat menyusul masuk ke kendaraan. Ia tertinggal di luar ketika bus mulai dikerumuni. Menurut ceritanya, dirinya kemudian menjadi sasaran kelompok tersebut. Pandu disebut dipaksa untuk melepas jersey Persib yang dikenakannya. Tindakan itu menjadi bagian dari intimidasi sebelum dirinya mengalami pengeroyokan di area rest area.

Kronologi tersebut menggambarkan bahwa insiden tidak sekadar berupa kerumunan di sekitar bus, melainkan berkembang menjadi tindakan pemaksaan dan kekerasan terhadap ofisial tim. Posisi Pandu yang berada di luar bus membuatnya menghadapi situasi tersebut seorang diri, sementara Ridwan telah berhasil masuk ke dalam kendaraan. Informasi mengenai kejadian ini menjadi dasar perhatian terhadap aspek keamanan rombongan olahraga ketika melakukan perjalanan, terutama saat berhenti di tempat umum yang berdekatan dengan kelompok suporter lain.

Setelah terjatuh dalam penyerangan terhadap bus Persib U-18, Pandu Persada berusaha menyelamatkan diri dari situasi yang semakin mencekam. Ia mencari celah untuk menjauh dari lokasi, meski kondisi tersebut membuatnya harus bergerak dengan cepat dan penuh kewaspadaan. Kesempatan untuk pergi akhirnya terbuka, sehingga Pandu segera berlari meninggalkan tempat kejadian demi menghindari kemungkinan serangan lanjutan.

Dalam upayanya mencari perlindungan, Pandu berlari menuju sebuah kios tambal ban. Tempat itu menjadi titik yang ditujunya setelah ia berhasil menjauh dari para penyerang. Dari sana, Pandu kemudian memperoleh perlindungan dari petugas di area peristirahatan atau rest area. Bantuan tersebut memberikan kesempatan baginya untuk menenangkan diri sekaligus memastikan keselamatannya setelah insiden berlangsung.

Pandu berharap aparat kepolisian mengusut penyerangan itu secara tuntas. Menurut keterangan yang beredar, para penyerang disebut menutupi wajah mereka, sehingga proses mengenali dan mengidentifikasi pihak yang terlibat menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut membuat penyelidikan membutuhkan pemeriksaan menyeluruh, termasuk penelusuran keterangan saksi dan bukti lain di sekitar lokasi kejadian.

Selain itu, muncul kabar mengenai penangkapan salah seorang yang diduga berkaitan dengan penyerangan tersebut. Namun, informasi itu masih perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi dari pihak berwenang. Pandu tetap berharap setiap orang yang terlibat dapat ditemukan dan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum. Ia juga menginginkan agar proses penyelidikan berjalan transparan, sehingga rangkaian kejadian dapat terungkap secara jelas dan para korban memperoleh kepastian atas penanganan kasus tersebut.