Jakarta | Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyiapkan anggaran Rp17,5 miliar pada 2026 untuk menjalankan program Madrasah Layak Belajar. Melalui program ini, Baznas akan bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) untuk merenovasi 700 madrasah swasta. Sasaran bantuan tersebut mencakup madrasah ibtidaiyah swasta (MIS) dan madrasah tsanawiyah swasta (MTsS). Rencana pendanaan dan renovasi ini ditujukan agar dukungan dapat menjangkau ratusan lembaga pendidikan keagamaan yang menjadi bagian dari sasaran program.
Pimpinan Baznas bidang pendistribusian, pendayagunaan, dan pemberdayaan, Idy Muzayyad, menjelaskan bahwa anggaran yang disiapkan setara dengan bantuan sebesar Rp25 juta untuk setiap madrasah. Perhitungan itu menggambarkan pembagian alokasi secara merata berdasarkan jumlah 700 lembaga yang direncanakan menerima dukungan. Dengan demikian, rencana Rp17,5 miliar tersebut berkaitan langsung dengan target renovasi yang telah ditetapkan dalam program Madrasah Layak Belajar untuk tahun 2026.
Idy menyampaikan keterangan tersebut setelah peluncuran program di kantor Baznas, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Peluncuran itu menandai rencana kolaborasi Baznas dan Kemenag dalam membantu perbaikan madrasah swasta. Alokasi bantuan per lembaga menjadi salah satu rincian utama dalam rencana tersebut, sementara sasaran program mencakup MIS dan MTsS. Melalui kerja sama ini, kedua lembaga menyiapkan dukungan renovasi bagi 700 madrasah pada 2026. Besaran Rp25 juta per madrasah merujuk pada pembagian total anggaran yang diumumkan, yakni Rp17,5 miliar, terhadap jumlah penerima yang direncanakan. Rincian itu memberi gambaran mengenai skala pendanaan sekaligus jumlah lembaga yang masuk dalam cakupan program. Pelaksanaan renovasi akan diarahkan kepada madrasah yang menjadi sasaran sesuai rencana bersama Baznas dan Kemenag. Program ini menghubungkan alokasi dana dengan kebutuhan perbaikan fisik lembaga pendidikan, tanpa mengubah jumlah sasaran yang telah disebutkan. Informasi tersebut disampaikan dalam rangkaian peluncuran program di kantor Baznas.Program renovasi ini diarahkan untuk membantu madrasah swasta memperbaiki sarana belajar yang sudah ada, terutama ruang kelas yang kondisinya belum mendukung kegiatan pendidikan secara optimal. Perbaikan lingkungan belajar menjadi penting karena keadaan ruang kelas dapat memengaruhi kenyamanan siswa dan guru saat belajar, mengajar, serta berinteraksi. Melalui bantuan ini, madrasah diharapkan memiliki ruang yang lebih layak digunakan dan mampu menunjang proses pembelajaran sehari-hari. Sasaran utamanya bukan sekadar membuat bangunan tampak lebih baik, melainkan memastikan ruang kelas dapat digunakan dengan aman dan berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan demikian, program memberikan perhatian pada kebutuhan dasar sekolah sekaligus mendorong tersedianya tempat belajar yang lebih memadai bagi peserta didik.
Kelayakan ruang kelas dinilai melalui lima aspek utama, yaitu kenyamanan, kebersihan, siklus udara, pencahayaan, dan keamanan struktur. Kenyamanan mencakup kondisi ruang yang mendukung siswa mengikuti pelajaran dalam waktu yang cukup lama. Kebersihan perlu dijaga agar kegiatan belajar berlangsung di lingkungan yang sehat dan tertata. Sirkulasi udara yang memadai membantu menjaga kualitas udara di dalam kelas, sedangkan pencahayaan yang cukup mendukung kegiatan membaca, menulis, dan melihat materi pembelajaran. Aspek keamanan struktur memastikan bagian-bagian bangunan yang digunakan tidak menimbulkan risiko bagi warga madrasah. Kelima hal tersebut saling berkaitan dan menjadi perhatian dalam menentukan kebutuhan perbaikan. Renovasi yang mempertimbangkan aspek-aspek ini diharapkan menghasilkan ruang kelas yang tidak hanya lebih rapi, tetapi juga lebih layak, sehat, dan aman untuk digunakan.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara swakelola dan difokuskan pada renovasi ruang kelas yang telah tersedia. Artinya, bantuan ini ditujukan untuk memperbaiki bagian yang membutuhkan penanganan, bukan membangun gedung baru. Fokus tersebut menjaga program tetap sejalan dengan tujuan peningkatan kelayakan sarana belajar di madrasah. Bentuk pekerjaan dapat disesuaikan dengan kondisi ruang kelas dan kebutuhan perbaikan yang ditemukan, dengan tetap mengutamakan lima aspek kelayakan. Pendekatan swakelola juga menempatkan pelaksanaan renovasi pada pengelolaan langsung di tingkat madrasah, sehingga pekerjaan dapat diarahkan pada kebutuhan nyata di lokasi. Dengan batasan yang jelas renovasi dan pembangunan baru, dukungan dapat digunakan untuk memperbaiki ruang belajar yang ada agar lebih mendukung kegiatan pendidikan.
Program Madrasah Layak Belajar periode 2024–2025 telah menjangkau sekitar 2.000 titik yang tersebar di 37 provinsi di Indonesia. Cakupan tersebut menunjukkan bahwa upaya memperbaiki kondisi sarana pendidikan madrasah telah dilakukan secara lintas wilayah, termasuk menjangkau berbagai daerah dengan kebutuhan yang beragam. Bantuan diberikan agar lingkungan belajar menjadi lebih layak dan mendukung kegiatan pendidikan bagi para siswa.
Menurut Idy, program tersebut bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari bantuan yang sebelumnya telah disalurkan kepada para penerima manfaat. Keberlanjutan ini menjadi penting karena perbaikan fasilitas madrasah umumnya memerlukan proses bertahap. Setelah satu kebutuhan ditangani, masih mungkin terdapat bagian bangunan atau sarana lain yang perlu diperbaiki agar kegiatan belajar dapat berlangsung dengan lebih aman dan nyaman.
Idy berharap jangkauan program dapat terus bertambah pada periode berikutnya. Harapan tersebut berkaitan dengan besarnya jumlah madrasah swasta di Indonesia, yang diperkirakan mencapai sekitar 84 ribu lembaga. Angka ini menggambarkan luasnya kebutuhan peningkatan kondisi bangunan dan fasilitas pendidikan di berbagai daerah. Dengan jumlah penerima potensial yang besar, cakupan bantuan yang telah menjangkau 2.000 titik masih merupakan bagian dari upaya yang lebih luas.
Kebutuhan perbaikan madrasah swasta pun masih jauh lebih besar dibandingkan bantuan yang telah disalurkan. Sejumlah lembaga mungkin membutuhkan renovasi ruang kelas, perbaikan atap, penanganan kerusakan bangunan, atau peningkatan fasilitas dasar lainnya. Kondisi setiap madrasah tidak sama, sehingga pendataan kebutuhan dan penentuan prioritas menjadi aspek penting dalam memperluas manfaat program. Bantuan yang tepat sasaran dapat membantu lembaga mengatasi kerusakan yang paling mendesak.
Besarnya kesenjangan kebutuhan dan dukungan yang tersedia menegaskan perlunya kesinambungan kolaborasi serta perluasan jangkauan. Program yang telah berjalan dapat menjadi pijakan untuk mengidentifikasi wilayah dan madrasah yang belum terlayani. Dengan demikian, harapan agar semakin banyak penerima manfaat memperoleh dukungan dapat diarahkan pada kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih layak bagi siswa madrasah swasta di seluruh Indonesia.
Untuk mendukung renovasi 700 madrasah swasta, Baznas menyiapkan penguatan penggalangan dana melalui kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag). Kolaborasi ini diharapkan memperluas jangkauan program sekaligus mempertemukan kebutuhan madrasah dengan potensi bantuan dari masyarakat dan berbagai lembaga. Dukungan pendanaan menjadi faktor penting agar rencana perbaikan dapat berjalan secara bertahap dan menjangkau lebih banyak sekolah yang membutuhkan. Baznas dan Kemenag dapat menyampaikan informasi program secara terkoordinasi, termasuk tujuan, sasaran, serta bentuk renovasi yang direncanakan. Dengan komunikasi yang jelas, calon pemberi dana dapat memahami bagaimana kontribusi mereka membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak bagi para siswa.
Baznas juga mendorong lebih banyak muzaki dan donatur untuk menitipkan dana melalui lembaga tersebut. Penghimpunan melalui Baznas memungkinkan kontribusi masyarakat dikelola dan diarahkan untuk mendukung kebutuhan program, dengan sasaran yang disusun bersama para pihak terkait. Ajakan ini ditujukan kepada masyarakat yang ingin menyalurkan zakat, infak, sedekah, maupun donasi lainnya bagi peningkatan kualitas sarana pendidikan. Informasi mengenai kebutuhan renovasi dan perkembangan program dapat membantu menjaga kepercayaan publik serta mendorong partisipasi berkelanjutan. Semakin luas dukungan yang terhimpun, semakin besar pula peluang untuk membantu madrasah swasta yang kondisi bangunannya memerlukan perhatian, tanpa mengabaikan proses pendataan dan penentuan prioritas penerima bantuan.
Dalam upaya memperbesar sumber pendanaan Baznas berencana menggandeng unit pengumpul zakat UPZ.
Baca juga: Penyelesaian Persoalan di Gereja Kristen Protestan Indonesia: Kemenag Tegaskan Pentingnya Dialog | Fakta Persidangan Haji 2023-2024: Saksi Kemenag Nyatakan Tak Ada Bukti Fee






