Surabaya | PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim memfasilitasi tiga UMKM binaannya untuk mengikuti misi dagang dan investasi Jawa Timur di Aceh. Keikutsertaan tersebut menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha memperkenalkan produk unggulan secara langsung kepada calon pembeli, sekaligus membuka komunikasi dengan mitra usaha di luar daerah. Melalui pertemuan itu, UMKM dapat menyampaikan karakter produk, kapasitas produksi, serta potensi kerja sama yang dapat dikembangkan.
Partisipasi dalam misi dagang juga diarahkan untuk menjajaki peluang perdagangan antardaerah. Aceh menjadi pasar yang dapat dikenali lebih dekat oleh para peserta, baik melalui interaksi dengan calon pembeli maupun pertukaran informasi mengenai kebutuhan pasar setempat. Langkah ini diharapkan membantu UMKM memahami kemungkinan penyerapan produk mereka, menemukan jaringan distribusi, dan mengidentifikasi bentuk kolaborasi yang sesuai. Dengan demikian, kehadiran dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada promosi, tetapi dapat menjadi awal hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, memandang misi dagang sebagai momentum untuk mempertemukan potensi UMKM dengan pasar yang lebih luas. Menurutnya, produk unggulan pelaku usaha daerah perlu memperoleh ruang untuk dikenal oleh calon pembeli di berbagai wilayah. Pertemuan langsung dalam forum perdagangan dapat mendukung proses tersebut, karena pelaku UMKM memiliki kesempatan menjelaskan nilai produk dan menjajaki kebutuhan mitra secara lebih konkret.
Fasilitasi Bank Jatim mencerminkan upaya untuk mendampingi UMKM binaan dalam memperluas jangkauan pemasaran. Melalui keikutsertaan tiga usaha tersebut, bank daerah ini mendorong terbangunnya koneksi pelaku usaha Jawa Timur dan calon mitra di Aceh. Jika penjajakan berkembang menjadi transaksi atau kemitraan, peluang perdagangan antardaerah dapat memberi ruang pertumbuhan baru bagi usaha yang terlibat. Keterangan mengenai partisipasi tersebut disampaikan di Surabaya pada Jumat, dengan misi dagang sebagai wadah untuk mengenalkan produk dan membuka peluang pasar bagi UMKM binaan.
Dalam misi dagang Bank Jatim ke Aceh, tiga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Jawa Timur hadir membawa produk dari bidang yang berbeda. Keikutsertaan mereka mempertemukan produk lokal dengan calon pembeli dan mitra bisnis di wilayah tujuan. Bagi setiap peserta, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan barang secara langsung, menjelaskan karakteristiknya, serta membuka komunikasi dengan pihak yang berpotensi menjalin kerja sama.
Masnia Collection, yang berasal dari Pasuruan, bergerak di bidang pakaian bordir. Produk yang dibawanya menunjukkan keterampilan dalam mengolah pakaian dengan detail bordir sebagai unsur utama. Melalui pertemuan langsung di Aceh, usaha ini dapat menampilkan produknya kepada calon pembeli, sekaligus memberikan informasi mengenai jenis barang yang ditawarkan. Interaksi tersebut juga memberi ruang bagi pelaku usaha untuk mendengar kebutuhan pasar dan mengenalkan identitas produknya secara lebih jelas.
Dari Surabaya, Sharleez Skincare menawarkan produk perawatan kulit. Kehadirannya menambah ragam produk yang diperkenalkan dalam misi dagang, tidak terbatas pada kerajinan atau busana. Kesempatan bertatap muka dengan calon pembeli memungkinkan Sharleez Skincare menjelaskan penawaran produknya secara langsung dan membangun komunikasi dengan calon mitra. Pertemuan seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk memahami peluang pemasaran di Aceh, tanpa mengabaikan kebutuhan dan preferensi konsumen setempat.
Peserta ketiga, Batik Gajah Mungkur dari Gresik, memasarkan produk batik. Keikutsertaan dalam kegiatan tersebut memberi usaha ini kesempatan untuk membawa karya batiknya ke hadapan calon pembeli di luar daerah asal. Bersama Masnia Collection dan Sharleez Skincare, Batik Gajah Mungkur mewakili beragam sektor usaha dari Jawa Timur. Ketiganya dapat memperlihatkan produknya secara langsung, menyampaikan informasi kepada calon pembeli, dan menjajaki kemungkinan hubungan bisnis di Aceh. Misi dagang pun menjadi ruang pertemuan pelaku UMKM dan pasar yang lebih luas, sekaligus sarana untuk mengenalkan variasi produk daerah kepada pihak yang mungkin belum pernah menjumpainya.
Winardi menegaskan bahwa dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah tidak seharusnya berhenti pada peningkatan kemampuan produksi. Pelatihan, pendampingan, dan penguatan kualitas produk tetap penting, tetapi upaya tersebut perlu disertai pembukaan akses pasar agar pelaku usaha dapat menjangkau calon pembeli yang lebih luas. Tanpa jalur pemasaran yang memadai, kemampuan menghasilkan produk yang baik belum tentu berujung pada peluang usaha yang berkelanjutan. Karena itu, peran perbankan dapat mencakup fasilitasi pertemuan, pengenalan pasar, dan penghubung dengan mitra potensial di luar daerah asal.
Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi tiga UMKM Jawa Timur yang mengikuti penjajakan peluang di Aceh. Keikutsertaan mereka memberi ruang untuk memperkenalkan produk kepada pasar baru sekaligus memahami karakter, kebutuhan, dan peluang yang tersedia di wilayah tersebut. Para peserta datang bukan semata untuk menunjukkan kapasitas produksi, melainkan juga untuk melihat kemungkinan pengembangan pemasaran dan membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang berpotensi menjadi mitra. Interaksi seperti ini dapat membantu pelaku usaha menilai kesesuaian produk, mengenali kebutuhan penyesuaian, serta menyusun langkah lanjutan berdasarkan respons pasar.
Penjajakan itu juga diarahkan untuk melihat potensi transaksi, tanpa berarti bahwa transaksi tertentu telah terealisasi. Peluang tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui pembicaraan, pemenuhan kebutuhan calon mitra, dan kesepakatan yang sesuai bagi kedua belah pihak. Dengan memperluas jangkauan pemasaran produk Jawa Timur hingga Aceh, UMKM diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasar yang selama ini mereka kenal dan membuka kemungkinan kerja sama lintas daerah. Kemitraan semacam ini berpotensi menjadi fondasi bagi hubungan usaha jangka panjang, selama komunikasi dan tindak lanjut dilakukan secara konsisten. Bagi perbankan, fasilitasi akses pasar merupakan bagian dari dukungan yang melengkapi pengembangan kapasitas usaha. Dengan demikian, dorongan kepada UMKM tidak hanya membantu mereka memproduksi secara lebih baik, tetapi juga memberi kesempatan untuk menemukan pembeli dan mitra baru di luar Jawa Timur. Langkah tersebut sejalan dengan tujuan peserta menjajaki peluang bisnis di Aceh secara realistis dan terukur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memandang misi dagang sebagai sarana untuk mempertemukan daerah yang memiliki komoditas dengan daerah yang membutuhkan pasokan. Pertemuan ini membantu pelaku usaha menemukan mitra yang sesuai, sekaligus membuat kebutuhan pasar dapat dipenuhi langsung oleh produsen dari daerah lain. Dengan demikian, hubungan perdagangan antardaerah tidak hanya bergantung pada jaringan yang sudah terbentuk, tetapi juga membuka ruang bagi kerja sama baru.
Menurut Khofifah, misi dagang juga berperan memperpendek rantai distribusi. Ketika produsen dan calon pembeli bertemu secara langsung, proses penjajakan pasokan dapat berlangsung lebih efisien dan peluang produk menjangkau konsumen menjadi lebih luas. Upaya tersebut mendukung perluasan pasar bagi produk dalam negeri, termasuk produk usaha mikro, kecil, dan menengah. Pertemuan lintas provinsi dapat memperkenalkan komoditas kepada pembeli yang sebelumnya belum terjangkau serta membantu pelaku usaha memahami kebutuhan pasar tujuan.
Khofifah menjelaskan bahwa capaian transaksi misi dagang ditopang oleh persiapan yang dilakukan sebelum pertemuan berlangsung. Pelaku usaha dan produk yang akan ditawarkan telah melalui kurasi sedikitnya dua kali, sehingga kesesuaian produk dan kesiapan mitra dapat diperiksa lebih dahulu. Selain itu, business matching dilakukan minimal lima kali, termasuk melalui pertemuan daring. Rangkaian ini memberi kesempatan kepada penjual dan calon pembeli untuk membahas kebutuhan, kapasitas pasokan, serta kemungkinan transaksi secara lebih terarah. Persiapan tersebut menjadi bagian penting untuk menghubungkan penawaran dengan permintaan secara konkret.
Dalam misi dagang Jawa Timur dan Aceh, Khofifah menyampaikan nilai transaksi mencapai Rp1,21 triliun.
Baca juga: Sinergi Bank Jatim dengan Dua Lembaga Negara untuk Penyelesaian Aset | Tindakan Tegas TNI AL Cegah Peredaran Rokok dan Miras Ilegal di Jawa Timur | Peluang Kerja: Job Fair Jakarta Pusat 2026






