James A. Robinson Menilai Pancasila Menarik untuk Mengkaji Keberhasilan Indonesia Pascakolonial

James A. Robinson Menilai Pancasila Menarik untuk Mengkaji Keberhasilan Indonesia Pascakolonial

Jakarta | James A. Robinson, peraih Nobel Ekonomi 2024, menyatakan ketertarikannya untuk mengkaji Pancasila sebagai ideologi dan filosofi yang mendasari pembentukan Indonesia setelah berakhirnya masa kolonial. Ketertarikan tersebut menempatkan Pancasila dalam pembahasan yang lebih luas mengenai bagaimana sebuah negara membangun institusi, menjaga persatuan, dan menciptakan kondisi yang mendukung keberhasilan pembangunan.

Pandangan Robinson disampaikan dalam diskusi yang diselenggarakan Dewan Ekonomi Nasional bersama Prasasti Center for Policy Studies pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, Pancasila dipandang sebagai gagasan penting untuk ditelaah karena lahir dari konteks sejarah Indonesia yang beragam. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi bahan kajian untuk memahami cara Indonesia membentuk identitas nasional serta mengelola perbedaan sosial, budaya, dan politik.

Meski demikian, ketertarikan Robinson tidak berarti bahwa ia menyatakan Pancasila sebagai satu-satunya penyebab keberhasilan Indonesia dalam pembangunan pascakolonial. Pernyataan tersebut lebih tepat dipahami sebagai ajakan untuk meneliti hubungan ideologi, pilihan kelembagaan, kepemimpinan, dan kebijakan ekonomi dalam perjalanan suatu negara. Keberhasilan pembangunan biasanya terbentuk melalui kombinasi berbagai faktor, termasuk kualitas institusi, kapasitas negara, stabilitas politik, serta kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan.

Dengan demikian, Pancasila menjadi salah satu perspektif yang menarik dalam memahami pengalaman Indonesia. Kajian terhadapnya dapat membantu menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip dasar negara diterjemahkan ke dalam praktik pemerintahan dan kehidupan sosial. Pada saat yang sama, pendekatan tersebut tetap memerlukan analisis yang hati-hati agar tidak menyederhanakan sejarah pembangunan Indonesia atau mengabaikan kontribusi faktor-faktor lain yang turut memengaruhi capaian negara setelah masa kolonial.

Selain pengalaman sejarahnya sebagai negara pascakolonial, Indonesia menarik perhatian James A. Robinson karena memiliki keragaman kebudayaan yang sangat luas. Keragaman tersebut terlihat dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, termasuk penggunaan bahasa, tradisi, tata sosial, serta keberadaan kelompok-kelompok suku dengan latar belakang sejarah yang berbeda. Indonesia bukanlah masyarakat yang dibentuk oleh satu identitas budaya tunggal. Sebaliknya, negara ini mencakup berbagai komunitas yang berkembang di wilayah geografis dan lingkungan sosial yang beragam.

Bahasa menjadi salah satu gambaran penting mengenai kompleksitas tersebut. Di samping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, berbagai bahasa daerah tetap digunakan dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa-bahasa itu tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memuat ingatan kolektif, nilai, dan cara pandang komunitas penuturnya. Hal serupa tampak pada kelompok-kelompok suku yang memiliki adat, pengalaman historis, dan bentuk organisasi sosial masing-masing. Keberagaman ini menyediakan konteks yang kaya untuk memahami bagaimana sebuah negara membangun identitas bersama.

Dalam kerangka itu, perhatian Robinson terhadap Pancasila dapat ditempatkan sebagai ketertarikan pada gagasan filosofis yang mendasari pembentukan negara Indonesia. Pancasila menawarkan seperangkat prinsip yang dirumuskan untuk menjadi dasar kehidupan bernegara di tengah masyarakat yang majemuk. Prinsip tersebut dapat dikaji bersama pertanyaan mengenai cara Indonesia mengelola perbedaan, merumuskan keanggotaan politik, dan membangun institusi yang berlaku bagi berbagai kelompok.

Namun, keragaman budaya tidak dengan sendirinya menjelaskan keberhasilan Indonesia atau membuktikan bahwa Pancasila secara langsung menghasilkan capaian tertentu. Hubungan kemajemukan, gagasan kenegaraan, dan perkembangan institusi merupakan persoalan yang perlu diteliti melalui sejarah serta bukti yang lebih luas. Karena itu, daya tarik Indonesia bagi Robinson terletak pada kesempatan untuk mengkaji bagaimana masyarakat dengan bahasa dan kelompok suku yang beragam berupaya membentuk negara bersama, sekaligus memahami peran ide-ide dasar yang menyertai proses tersebut.

James A. Robinson menilai pengalaman Indonesia memperlihatkan hasil yang berbeda dibandingkan dengan Nigeria dan Republik Demokratik Kongo dalam konteks pembangunan pascakolonial. Ketiga negara tersebut sama-sama pernah berada di bawah penjajahan. Namun, pengalaman bersama sebagai negara jajahan tidak menghasilkan perjalanan pascakolonial yang serupa. Bagi Robinson, perbedaan tersebut membuat Indonesia menjadi kasus yang menarik untuk dikaji, terutama ketika keberhasilannya ditempatkan dalam perbandingan dengan dua negara Afrika tersebut.

Robinson juga menempatkan pengalaman kolonial ketiga negara dalam kerangka yang serupa. Kekuatan kolonial yang menguasainya disebut menjalankan sistem ekstraktif, menggunakan kekerasan, serta menerapkan pemaksaan untuk mengendalikan masyarakat. Dengan demikian, Indonesia tidak dapat dipahami sebagai negara yang sejak awal memiliki kondisi kolonial yang sepenuhnya berbeda. Justru, kesamaan berupa warisan penjajahan dan praktik pengendalian tersebut menjadikan perbandingan dengan Nigeria serta Republik Demokratik Kongo semakin penting.

Dalam penilaian Robinson, Indonesia tidak mengalami nasib yang sama seperti Nigeria dan Republik Demokratik Kongo setelah berakhirnya masa kolonial. Proses pembentukan negara Indonesia menunjukkan keberhasilan yang sangat besar apabila dibandingkan dengan pengalaman negara-negara di Afrika, khususnya kedua negara tersebut. Penilaian ini menyoroti bahwa latar belakang kolonial yang serupa tidak secara otomatis membawa setiap negara pada hasil pascakolonial yang sama. Indonesia, dalam kerangka perbandingan Robinson, tampil sebagai contoh keberhasilan pembentukan negara yang patut dikaji secara khusus. Karena itu, Pancasila menjadi menarik untuk ditempatkan dalam pembahasan mengenai mengapa Indonesia dapat menempuh arah yang berbeda dari Nigeria dan Republik Demokratik Kongo, tanpa mengabaikan kenyataan bahwa ketiganya pernah menghadapi sistem kolonial yang ekstraktif, kekerasan, dan pemaksaan.

Menurut James A. Robinson, pembangunan negara tidak hanya bergantung pada kebijakan ekonomi, kapasitas pemerintahan, atau ketersediaan sumber daya. Proses tersebut memerlukan fondasi yang kokoh agar lembaga-lembaga negara dapat bekerja secara terarah dan masyarakat memiliki kerangka bersama dalam menghadapi perubahan. Dalam pandangan ini, ideologi berperan penting karena menyediakan seperangkat gagasan mengenai tujuan kehidupan bernegara, hubungan warga dan pemerintah, serta prinsip yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Ideologi yang kuat bukan berarti menutup ruang bagi penyesuaian, melainkan membantu negara mempertahankan arah ketika menghadapi tantangan politik, ekonomi, dan sosial.

Robinson juga menyatakan bahwa Korea Selatan dan negara-negara lain dapat dijadikan contoh untuk memahami bagaimana fondasi pembangunan tersebut dibangun. Pernyataan itu tidak semata-mata menunjuk pada hasil akhir yang dicapai oleh negara-negara tersebut, tetapi pada proses pembentukan dasar kelembagaan dan gagasan yang menopang pembangunan. Dengan mengamati contoh-contoh tersebut, perhatian dapat diarahkan pada cara suatu negara membangun koordinasi, menciptakan kepercayaan, dan menghubungkan visi nasional dengan praktik pemerintahan. Setiap contoh tetap perlu dipahami berdasarkan konteks sejarah dan politiknya sendiri, sehingga tidak serta-merta menjadi ukuran tunggal bagi pengalaman negara lain.

Gagasan tersebut memperlihatkan hubungan yang erat fondasi negara, ideologi, dan pembangunan. Fondasi memberikan ketahanan bagi institusi, ideologi membantu merumuskan orientasi bersama, sedangkan pembangunan menjadi proses yang menguji sekaligus memperkuat keduanya. Karena itu, pembahasan mengenai Pancasila dalam kerangka pemikiran Robinson berkaitan dengan pertanyaan tentang bagaimana sebuah negara pascakolonial membangun dasar yang memungkinkan kehidupan politik dan pembangunan berjalan secara berkelanjutan. Bagian ini merangkum pandangan Robinson mengenai pentingnya fondasi ideologis dan kelembagaan, tanpa menambahkan penilaian baru mengenai posisi Pancasila ataupun memperluas perbandingan dengan negara-negara lain di luar contoh yang disebutkan.

Baca juga: Kejadian Menarik di Gorontalo: Penampakan Meteor dan Suara Dentuman | Lawang Sewu: Ikon Wisata Heritage yang Menarik Perhatian Pengunjung | Menguatkan Keamanan untuk Menarik Investasi di Indonesia