BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Sebanyak 55 orang masih dalam pencarian pada hari ke-21 operasi SAR KM Virgo Transport 8. Basarnas melanjutkan upaya pencarian dan pertolongan terhadap para korban yang belum ditemukan dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes kapal tersebut. Perkembangan ini menjadi fokus utama operasi yang terus dilakukan hingga Sabtu, 3 Oktober 2026.
Informasi mengenai status pencarian itu disampaikan Kepala Basarnas Mohammad Syafii dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-21 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Sabtu malam. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa proses pencarian masih berlanjut untuk menemukan 55 orang yang hingga kini belum ditemukan.
Operasi pencarian telah berlangsung selama 21 hari sejak insiden yang melibatkan KM Virgo Transport 8. Selama periode tersebut, Basarnas bersama unsur terkait terus mengupayakan penanganan dan pencarian berdasarkan data manifes yang menjadi acuan operasi. Jumlah 243 orang dalam manifes menjadi dasar pendataan, sementara 55 orang masih menjadi sasaran pencarian pada perkembangan terbaru.
Basarnas menyampaikan pembaruan tersebut sebagai bagian dari laporan resmi mengenai pelaksanaan operasi SAR. Keterangan yang disampaikan pada konferensi pers itu menegaskan bahwa pencarian belum berakhir dan tetap berlanjut untuk menindaklanjuti keberadaan para korban yang belum ditemukan. Hingga memasuki hari ke-21, status 55 orang tersebut masih menjadi perhatian utama dalam operasi KM Virgo Transport 8.
Berdasarkan data Basarnas, tim gabungan telah menemukan atau mengevakuasi 188 korban dalam operasi pencarian KM Virgo Transport 8. Angka tersebut menjadi capaian sementara hingga memasuki hari ke-21 dan menunjukkan bahwa proses pencarian telah menghasilkan pendataan terhadap sebagian besar orang yang tercantum dalam manifes kapal. Dari total 188 korban itu, sebanyak 108 orang dinyatakan selamat, sedangkan 80 orang dinyatakan meninggal dunia.
Rincian tersebut memperlihatkan status korban secara jelas. Jumlah korban selamat mencapai 108 orang, sementara jumlah korban meninggal dunia sebanyak 80 orang. Jika kedua angka itu dijumlahkan, hasilnya adalah 188 orang, sesuai dengan jumlah korban yang telah ditemukan atau dievakuasi oleh tim gabungan. Penyajian berdasarkan status ini membantu menggambarkan perkembangan operasi tanpa mencampurkan data korban yang telah teridentifikasi ke dalam kelompok yang berbeda.
Data pencarian tersebut perlu dilihat dalam kaitannya dengan total 243 orang yang tercatat dalam manifes. Dengan 188 orang telah ditemukan atau dievakuasi, masih terdapat selisih 55 orang dari jumlah keseluruhan dalam manifes. Selisih inilah yang menjadi jumlah korban yang masih dicari dalam kelanjutan operasi SAR. Dengan demikian, posisi data saat ini menunjukkan bahwa 188 dari 243 orang telah tercatat melalui hasil pencarian tim gabungan, terdiri atas 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia, sementara pencarian terhadap 55 korban lainnya masih berlanjut. Angka-angka ini merupakan perkembangan operasi berdasarkan data Basarnas dan dapat menjadi acuan untuk memahami cakupan pencarian pada hari ke-21.
Setelah evaluasi terhadap pelaksanaan operasi, pencarian KM Virgo Transport 8 memasuki penyesuaian arah. Tim SAR tidak lagi hanya memusatkan perhatian pada pola penyisiran yang sama, tetapi diarahkan untuk menelusuri sejumlah titik yang dinilai berpotensi berkaitan dengan keberadaan 55 korban yang masih dicari. Penentuan titik tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan operasi, kondisi lapangan, serta kemungkinan perubahan posisi korban atau material yang terbawa arus.
Wilayah pencarian mencakup kemungkinan jalur hanyut, area permukaan, dan kawasan pesisir. Jalur hanyut menjadi perhatian karena arus dapat memindahkan korban maupun benda-benda terkait insiden dari lokasi awal. Sementara itu, pemeriksaan di area permukaan tetap diperlukan untuk mengidentifikasi tanda-tanda yang terlihat dari laut atau udara. Penelusuran kemudian diperluas ke wilayah pesisir sebagai bagian dari upaya memeriksa titik-titik yang mungkin menjadi tempat material atau korban terbawa hingga mendekati daratan.
Koordinator Posko Terpadu, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa perhatian operasi saat ini tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya personel atau besarnya kekuatan yang dikerahkan. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah melakukan penilaian ulang terhadap situasi 55 korban yang masih berada dalam daftar pencarian. Reassessment tersebut menjadi dasar untuk meninjau kembali area prioritas dan menyesuaikan metode pencarian dengan informasi serta kondisi terbaru di lapangan.
Dengan perubahan fokus ini, setiap unsur yang terlibat diarahkan untuk bekerja berdasarkan titik potensial yang telah ditetapkan melalui evaluasi. Penyisiran tetap dilaksanakan secara terukur pada jalur hanyut, permukaan perairan, dan wilayah pesisir, dengan memperhatikan keselamatan personel serta efektivitas cakupan area. Pengalihan perhatian tersebut merupakan bagian dari proses pencarian yang berkelanjutan, bukan pernyataan bahwa telah ditemukan tambahan korban atau petunjuk baru. Operasi masih berlangsung untuk menelusuri kemungkinan lokasi 55 korban yang belum ditemukan.
Memasuki hari ke-21, operasi SAR KM Virgo Transport 8 dinilai semakin kompleks karena perkembangan di lapangan menuntut penyesuaian secara berkelanjutan. Menurut Syafii, evaluasi tidak hanya berfokus pada jumlah dan perkembangan korban, tetapi juga pada capaian pencarian yang telah dilakukan. Tim perlu menilai kembali wilayah yang sudah disisir, hasil pemantauan, serta kemungkinan adanya perubahan informasi yang dapat memengaruhi arah operasi.
Evaluasi juga mencakup kegiatan penyelaman beserta risiko keselamatannya. Kondisi perairan, jarak tempuh, visibilitas, kedalaman, dan daya tahan personel menjadi pertimbangan penting sebelum penyelam diturunkan. Setiap kegiatan harus disesuaikan dengan kemampuan tim serta dukungan peralatan yang tersedia. Pertimbangan tersebut diperlukan agar upaya menemukan 55 korban tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan petugas yang berada di lokasi.
Peristiwa ini bermula di Laut Jawa pada Minggu, 13 September, sekitar 81 mil laut dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lokasi awal kejadian berada pada koordinat 4°31’ lintang selatan dan 114°2’ bujur timur. Seiring berlangsungnya pencarian, area yang perlu diperiksa semakin luas. Perubahan cakupan tersebut membuat metode pencarian tidak dapat diterapkan secara kaku, melainkan harus mengikuti kondisi tim dan situasi perairan di lapangan.
Menurut Syafii, hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk menyusun rekomendasi strategi lanjutan. Penentuan pola penyisiran, pembagian sektor, penggunaan unsur pencarian, serta pelaksanaan penyelaman perlu mempertimbangkan capaian sebelumnya dan tingkat risiko masing-masing kegiatan. Dengan area pencarian yang meluas, koordinasi antartim dan pengaturan sumber daya menjadi semakin penting. Pencarian masih berlanjut dengan penyesuaian strategi berdasarkan perkembangan operasi dan kondisi keselamatan personel.

