Jakarta | Selebgram dan YouTuber Ria Ricis mendapat perhatian setelah membagikan video aktivitasnya saat membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Video tersebut diunggah melalui akun Threads miliknya, @riaricis1795, dan memperlihatkan Ricis berada di area yang terdampak kebakaran. Dalam rekaman itu, ia tampak menyiram lahan untuk membantu membasahi permukaan yang sebelumnya terbakar. Aksi tersebut kemudian menjadi sorotan warganet, terutama karena unggahan itu berkaitan dengan kondisi karhutla yang masih memerlukan perhatian dan penanganan.
Melalui keterangan yang menyertai video, Ricis menyampaikan harapannya agar Indonesia segera membaik. Ia juga menekankan bahwa area terdampak tetap perlu dibasahi meskipun api sudah padam. Pesan itu menggarisbawahi bahwa padamnya api belum tentu berarti seluruh risiko langsung berakhir, sehingga kondisi lahan tetap perlu diperhatikan. Namun, unggahan tersebut hanya menampilkan aktivitas yang dilakukan Ricis dan pesannya; informasi itu tidak dengan sendirinya menjelaskan skala kebakaran, kondisi keseluruhan di lokasi, ataupun langkah penanganan oleh pihak terkait. Karena itu, konteks yang tersedia dari unggahan perlu dibedakan dari laporan resmi mengenai keadaan karhutla di Kalimantan.
Perhatian terhadap video itu muncul bersamaan dengan perbincangan mengenai unggahan Ricis lainnya yang memakai caption “Kidzania 2026”. Dua hal tersebut menjadi bagian dari sorotan publik terhadap aktivitas dan konten yang ia bagikan. Dalam video karhutla, fokus pesannya adalah harapan agar keadaan di Indonesia membaik serta ajakan untuk menjaga area yang telah terbakar tetap basah setelah api padam. Unggahan itu dikutip pada Jumat (6/11/2026), sesuai keterangan dalam sumber. Penyebutan waktu tersebut merujuk pada keterangan sumber, bukan penjelasan tambahan mengenai kapan proses pengambilan video berlangsung. Dengan demikian, informasi yang dapat dipastikan dari unggahan adalah bahwa Ricis memperlihatkan dirinya menyiram area terdampak dan menyampaikan pesan tentang pemulihan serta kewaspadaan setelah kebakaran. Aktivitasnya menarik perhatian, sementara kondisi lapangan secara lebih luas tetap memerlukan informasi dari sumber yang berwenang.
Unggahan video Ria Ricis saat berada di lokasi kebakaran hutan dan lahan memunculkan beragam tanggapan. Sebagian warganet menyoroti kehadirannya di tengah upaya pemadaman, bukan hanya isi unggahan atau caption “Kidzania 2026”. Mereka mempertanyakan apakah kegiatan merekam dan mencoba menggunakan peralatan pemadam berlangsung tanpa menghambat pekerjaan petugas yang sedang menangani situasi darurat.
Kritik yang beredar menyebut petugas di lapangan seharusnya memusatkan perhatian pada pemadaman, tetapi disebut perlu memberi pendampingan tambahan kepada Ricis, termasuk mengajari cara menggunakan selang. Penilaian tersebut membuat sebagian komentar memandang kunjungan itu sebagai beban bagi petugas, terutama apabila arahan dan pengawasan harus dialihkan dari tugas utama. Namun, hal itu merupakan kekhawatiran yang disampaikan warganet; konteks video saja tidak cukup untuk memastikan dampak kegiatan tersebut terhadap proses pemadaman.
Sejumlah tanggapan juga membandingkan adegan Ricis mencoba peralatan dengan permainan peran pemadam kebakaran yang biasa dilakukan anak-anak. Perbandingan itu menyiratkan anggapan bahwa aktivitas tersebut terlihat seperti simulasi atau permainan, sementara lokasi yang didatangi merupakan area bencana dan petugas tengah bekerja. Nada kritik ini berfokus pada kesan yang ditimbulkan video serta kecocokan kegiatan dengan keadaan di lapangan.
Pakaian putih yang dikenakan Ricis turut menjadi bahan komentar. Sebagian warganet menilai busana tersebut kurang sesuai untuk berada di area kebakaran, yang dapat berdebu atau dipenuhi asap, serta mempertanyakan pertimbangan keselamatan dan kepraktisannya. Kritik mengenai pakaian itu berdampingan dengan perhatian terhadap peran pengunjung di lokasi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pakaian tersebut menyebabkan bahaya atau mengganggu pemadaman.
Secara umum, perbedaan tanggapan menunjukkan bahwa publik menilai unggahan tersebut melalui dua hal: cara kegiatan ditampilkan dan sensitivitas terhadap kerja petugas dalam situasi darurat. Karena bahan yang tersedia tidak memuat kutipan langsung komentar warganet, kritik-kritik itu lebih tepat disampaikan sebagai ringkasan pandangan, bukan dikemas sebagai ucapan spesifik yang belum terverifikasi. Dengan demikian, perbandingan dengan permainan pemadam kebakaran dan sorotan terhadap busana putih tetap dapat dipahami sebagai bagian dari respons publik, tanpa menganggap seluruh komentar memiliki pandangan yang sama.
Setelah menerima beragam komentar atas unggahan sebelumnya, Ria Ricis kembali membagikan foto melalui Threads. Kali ini, ia menambahkan keterangan singkat, “kidzania 2026”. Foto tersebut memperlihatkan dirinya berdiri di ruang terbuka dengan kedua tangan terbentang. Latar di sekelilingnya tampak tertutup kabut berwarna kekuningan, sehingga suasana dalam gambar terlihat berbeda dari dokumentasi kegiatan sehari-hari. Caption yang ringkas itu kemudian menarik perhatian karena muncul di tengah pembicaraan mengenai kabut asap dan kebakaran hutan serta lahan.
Unggahan tersebut juga memuat dokumentasi penyaluran bantuan kesehatan. Di antaranya terlihat tabung oksigen, yang menjadi salah satu perlengkapan penting untuk membantu kebutuhan pernapasan dalam situasi terdampak asap. Kehadiran dokumentasi bantuan memberi konteks bahwa unggahan Ricis tidak hanya berisi foto dirinya di lokasi, tetapi juga menunjukkan kegiatan yang berkaitan dengan dukungan bagi masyarakat. Meski demikian, caption “kidzania 2026” menjadi bagian yang paling banyak diperhatikan dan memunculkan pertanyaan mengenai maksud pemilihan istilah tersebut. Sejumlah pembaca dapat menafsirkan keterangan itu secara berbeda, terutama karena suasana dalam foto tampak berkaitan dengan kondisi darurat lingkungan.
KidZania sendiri dikenal sebagai tempat hiburan edukatif untuk anak-anak. Di dalamnya, pengunjung dapat mencoba berbagai profesi melalui permainan peran dalam lingkungan yang dirancang menyerupai dunia kerja. Anak-anak, misalnya, dapat berperan sebagai dokter, pilot, atau petugas pemadam kebakaran. Aktivitas menjadi pemadam kebakaran biasanya memberi gambaran sederhana tentang tugas profesi tersebut, meskipun dilakukan sebagai permainan edukatif. Karena konteks itulah, penggunaan kata “Kidzania” pada foto berlatar kabut asap dapat dibaca sebagai rujukan pada pengalaman bermain peran atau profesi pemadam kebakaran, tetapi unggahan singkat tersebut tidak menjelaskan maksudnya secara terperinci. Perbedaan penafsiran ini turut membentuk respons publik, sementara dokumentasi bantuan kesehatan dalam unggahan yang sama memperlihatkan sisi lain dari kegiatan yang dibagikan Ricis.
Caption “Kidzania 2026” pada unggahan Ria Ricis kembali memicu kritik karena sebagian warganet menilai istilah tersebut tidak tepat untuk menggambarkan situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bagi mereka, karhutla bukan sekadar latar untuk sebuah lelucon atau ungkapan ringan. Peristiwa itu dapat berdampak pada kesehatan, aktivitas sehari-hari, serta kehidupan masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Sejumlah tanggapan mempertanyakan kepekaan Ricis dalam memilih kata ketika kondisi bencana masih menjadi perhatian. Ada warganet yang menyebut caption itu tidak berempati, sebab asap dan kebakaran dapat menimbulkan gangguan pernapasan serta menyulitkan warga menjalani kegiatan. Kritik tersebut berpusat pada kesan yang ditimbulkan oleh pilihan caption, bukan hanya pada foto yang dibagikan. Dalam situasi seperti ini, publik cenderung menilai pesan media sosial dengan mempertimbangkan pengalaman orang-orang yang terdampak langsung.
Di sisi lain, beberapa komentar menduga unggahan itu merupakan balasan terhadap sindiran yang sebelumnya diarahkan kepada Ricis. Dugaan tersebut muncul dalam percakapan warganet, tetapi tidak dapat dipastikan sebagai alasan di balik unggahan. Ada pula yang menyarankan agar foto tersebut dihapus untuk mencegah polemik berkembang lebih luas. Saran itu mencerminkan kekhawatiran bahwa perdebatan mengenai caption dapat mengalihkan perhatian dari kondisi karhutla dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Unggahan tersebut juga memperlihatkan dokumentasi bantuan kesehatan, sehingga isi unggahan tidak hanya berkaitan dengan caption yang dipersoalkan. Kehadiran dokumentasi itu menjadi bagian dari konteks yang turut dibicarakan, meskipun tidak menghapus perbedaan pandangan mengenai pilihan kata.
Baca juga: Respons Pemprov Sumsel terhadap Protes Karhutla dan Penanganan ISPA | Gerak Cepat Polsek Loa Janan Tangani Karhutla di Bukit Soeharto, Api Berhasil Dipadamkan | Kualitas Udara Makassar Menurun, BMKG Kaitkan dengan Asap Karhutla dari Kalimantan
61 kunjungan