Sosial  

Tiga Agenda Said Abdullah dalam Bakti Sosial Bersama Warga Kabupaten Malang

Tiga Agenda Said Abdullah dalam Bakti Sosial Bersama Warga Kabupaten Malang

KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Bakti sosial yang dipimpin Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah digelar pada Jumat, 9 Oktober, di halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Desa Mojosari, Kecamatan Kepanjen. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan jajaran partai dan masyarakat, sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada warga di wilayah Kabupaten Malang.

Mengusung tema “Pertalian Cinta DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bersama Masyarakat Kabupaten Malang”, acara ini menghadirkan tiga rangkaian utama. Agenda pertama adalah pembagian 1.000 paket sembako kepada kaum marhaen. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan sehari-hari warga penerima, terutama masyarakat yang membutuhkan dukungan sosial dan ekonomi.

Rangkaian kedua berupa pemberian santunan kepada anak yatim. Penyerahan bantuan ini menjadi bagian dari perhatian terhadap kelompok masyarakat yang memerlukan kepedulian bersama. Selain memberikan dukungan secara langsung, kegiatan tersebut juga memperkuat semangat gotong royong serta kepedulian sosial yang menjadi nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Agenda ketiga ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Sekolah Tahfidz Alqur’an Puan Maharani. Pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan itu diharapkan dapat mendukung kegiatan belajar dan pembinaan generasi muda di lingkungan setempat. Kehadiran sekolah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyediakan ruang pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Seluruh kegiatan dirangkaikan dengan konsolidasi internal yang diikuti oleh seluruh pengurus PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Malang. Konsolidasi ini menjadi kesempatan bagi jajaran pengurus untuk memperkuat koordinasi, menyamakan langkah organisasi, serta menjaga hubungan dengan masyarakat. Dengan demikian, bakti sosial tidak hanya berisi kegiatan pemberian bantuan, tetapi juga memadukan agenda sosial, pendidikan, dan penguatan internal partai dalam satu rangkaian acara.

Pembagian sembako dan santunan dalam bakti sosial bersama warga Kabupaten Malang diposisikan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat. Kegiatan tersebut memberi perhatian kepada kelompok yang membutuhkan dukungan, khususnya kaum marhaen dan anak yatim. Kehadiran bantuan tidak semata-mata dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan sesaat, tetapi juga sebagai wujud perhatian sosial yang berangkat dari semangat untuk saling membantu.

Kaum marhaen disebut sebagai salah satu kelompok yang menjadi perhatian karena kehidupan mereka kerap menghadapi berbagai tantangan. Demikian pula anak yatim, yang membutuhkan kepedulian dan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Melalui pembagian sembako dan santunan, kegiatan ini berupaya menunjukkan bahwa masyarakat tidak berjalan sendiri. Ada perhatian, solidaritas, serta kemauan untuk menjaga hubungan sosial di tengah kehidupan bersama.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, yang akrab disapa Sam Didik, menegaskan makna yang lebih luas dari kegiatan tersebut. Menurutnya, bakti sosial bukan hanya kegiatan membagikan bantuan, melainkan ikhtiar merawat kebersamaan dan menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat. Pernyataan itu menempatkan kegiatan sosial sebagai bagian dari upaya memperkuat kepedulian antarsesama.

Perspektif tersebut membuat bantuan yang diberikan memiliki dimensi sosial yang penting. Perhatian kepada kaum marhaen dan anak yatim tidak berhenti pada penyerahan bantuan, tetapi juga mencerminkan kehadiran bersama dalam menghadapi kebutuhan masyarakat. Bakti sosial menjadi ruang untuk membangun kedekatan, menumbuhkan empati, dan mengingatkan bahwa kepedulian merupakan tanggung jawab bersama.

Dengan demikian, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa semangat gotong royong dapat diwujudkan melalui langkah nyata yang menyentuh kelompok yang memerlukan perhatian. Pembagian sembako dan santunan menjadi sarana untuk merawat kebersamaan sekaligus memperkuat ikatan sosial penyelenggara dan warga Kabupaten Malang.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir atau Adeng, menjelaskan bahwa tema “pertalian cinta” dalam kegiatan bakti sosial bersama warga memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar rangkaian kata. Adeng, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, menyebut pertalian cinta sebagai ikatan batin yang lahir dari ketulusan, diwujudkan melalui kepedulian, dan dibuktikan lewat pengabdian kepada sesama. Nilai tersebut, menurutnya, merupakan pesan yang selalu ditekankan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam membangun kehidupan politik yang berakar pada kemanusiaan.

Adeng menilai nilai cinta dan pengabdian itu tercermin dalam kepemimpinan Said Abdullah. Kepemimpinan tidak hanya diukur dari gagasan atau pernyataan, tetapi juga dari kesediaan untuk hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan warga, serta mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan mereka. Karena itu, cinta dimaknai sebagai kesediaan untuk hadir, peduli, dan berbagi. Kehadiran dalam kegiatan sosial menjadi bentuk nyata hubungan batin pemimpin dan rakyat, terutama ketika perhatian diberikan secara tulus kepada mereka yang membutuhkan.

Ia juga menghubungkan makna tersebut dengan keberpihakan kepada wong cilik, yang menjadi bagian penting dari napas ideologis PDI Perjuangan. Bagi Adeng, ideologi tidak cukup disampaikan dari mimbar melalui pidato atau slogan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan yang menyentuh kehidupan kaum marhaen. Perhatian kepada masyarakat kecil, santunan bagi anak yatim, serta pembangunan sarana pendidikan merupakan contoh konkret dari pengabdian tersebut. Langkah-langkah itu menunjukkan bahwa politik dapat hadir sebagai kerja kemanusiaan yang berkelanjutan, bukan sekadar aktivitas menjelang momentum tertentu. Melalui kepedulian dan pelayanan langsung, pertalian cinta menjadi landasan untuk memperkuat solidaritas, menjaga martabat warga, dan menerjemahkan ajaran perjuangan partai ke dalam manfaat yang dapat dirasakan masyarakat Kabupaten Malang.

Rangkaian kegiatan sosial tersebut dilengkapi dengan agenda peletakan batu pertama pembangunan Sekolah Tahfidz Alqur’an Puan Maharani. Pembangunan ini menjadi langkah penting untuk menghadirkan sarana pendidikan keagamaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang. Sekolah tahfidz diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk menghafal dan mempelajari Alqur’an, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, serta nilai-nilai moral bagi generasi muda. Kehadirannya diharapkan memberi manfaat berkelanjutan bagi warga Kabupaten Malang dan memperkuat akses terhadap pendidikan yang berlandaskan nilai keislaman.

Selain mendukung pembangunan sarana kemasyarakatan, Said Abdullah juga mengikuti konsolidasi internal bersama jajaran struktur PDI Perjuangan di Kabupaten Malang. Konsolidasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat soliditas organisasi, menyamakan pemahaman, dan menyatukan langkah seluruh unsur partai. Melalui pertemuan itu, setiap struktur diharapkan mampu menjaga koordinasi, meningkatkan kerja pelayanan, serta memastikan kehadiran partai tetap dekat dengan kebutuhan rakyat.

Ketiga agenda dalam kegiatan tersebut menunjukkan keterkaitan kepedulian sosial, pembangunan, dan penguatan organisasi. Pembagian sembako serta santunan merepresentasikan perhatian langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Peletakan batu pertama Sekolah Tahfidz Alqur’an Puan Maharani menandai komitmen menghadirkan fasilitas yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Sementara itu, konsolidasi internal menjadi landasan untuk menjaga kesinambungan kerja seluruh struktur PDI Perjuangan di daerah.

Rangkaian acara itu menegaskan bahwa perjuangan yang berakar pada ideologi perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata. Nilai-nilai tersebut tidak cukup disampaikan melalui ucapan, melainkan harus diwujudkan dengan ketulusan, kepedulian, dan pengabdian yang memberi manfaat bagi rakyat. Dengan demikian, kegiatan sosial, pembangunan sekolah tahfidz, dan konsolidasi organisasi menjadi bagian dari upaya menghadirkan kerja politik yang berorientasi pada pelayanan serta kebermanfaatan masyarakat.