JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim sepak takraw Indonesia menutup kiprahnya di Asian Games 2026 dengan membawa pulang empat medali. Perolehan tersebut terdiri atas satu medali perak dan tiga medali perunggu. Hasil ini menjadi pencapaian penting karena Indonesia berhasil mendapatkan medali dari seluruh nomor yang diikuti dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut.
Perolehan empat medali menunjukkan performa yang menyeluruh dan konsisten dari para atlet Indonesia. Setiap nomor yang diikuti mampu memberikan kontribusi terhadap raihan kontingen, sehingga perjuangan tim tidak berhenti pada satu hasil saja. Medali perak memperlihatkan kemampuan Indonesia untuk bersaing di tingkat tertinggi, sementara tiga medali perunggu turut menegaskan ketangguhan dan daya saing skuad sepak takraw nasional.
Capaian di Aichi-Nagoya ini sekaligus memberikan gambaran positif mengenai perkembangan sepak takraw Indonesia. Keberhasilan meraih medali pada seluruh nomor yang diikuti dapat menjadi modal berharga untuk memperkuat pembinaan atlet, meningkatkan kualitas persiapan, serta menjaga kesinambungan prestasi pada turnamen internasional berikutnya. Hasil tersebut juga dapat mendorong federasi, pelatih, atlet, dan berbagai pemangku kepentingan untuk terus membangun sistem pembinaan yang lebih terarah.
Dengan total satu perak dan tiga perunggu, Indonesia menunjukkan bahwa sepak takraw nasional memiliki fondasi kompetitif yang layak dikembangkan. Raihan empat medali ini bukan hanya menjadi catatan hasil pertandingan, tetapi juga mencerminkan kerja keras tim dalam menghadapi persaingan regional yang ketat. Performa tersebut diharapkan dapat menjadi titik awal untuk mengevaluasi kekuatan, memperbaiki aspek yang masih perlu ditingkatkan, dan mempersiapkan generasi atlet berikutnya secara lebih matang. Bagi sepak takraw Indonesia, pencapaian di Asian Games 2026 menjadi bekal positif untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan prestasi di masa mendatang.
Indonesia hampir membawa pulang medali emas dari nomor men's quadrant pada Asian Games 2026. Perjalanan tim nasional berakhir di partai final setelah mereka menghadapi Jepang, yang tampil sebagai tuan rumah. Pertandingan berlangsung di Nagoya City Mizuho Park Gymnasium pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dalam atmosfer kompetisi yang penuh tekanan. Tim Indonesia diperkuat Muhammad Hardiansyah Muliyan bersama rekan-rekannya, yang sejak awal berusaha menjaga permainan tetap agresif dan terukur menghadapi lawan yang mendapat dukungan kuat dari penonton.
Set pertama berjalan ketat dengan perolehan angka yang saling berdekatan. Indonesia sempat memberikan perlawanan hingga penghujung gim, tetapi Jepang mampu mempertahankan keunggulan tipis dan menutup set pembuka dengan skor 17-15. Hasil tersebut membuat Indonesia harus segera melakukan penyesuaian, terutama dalam menjaga konsistensi serangan dan mengurangi kesalahan pada momen penting. Meski tertinggal, para pemain Indonesia tidak kehilangan keberanian untuk menekan dan mempertahankan peluang merebut gelar juara.
Respons positif terlihat pada set kedua. Indonesia tampil lebih efektif, mampu mengendalikan alur pertandingan, serta memanfaatkan momentum untuk menjauh dari perolehan angka Jepang. Performa tersebut membawa Indonesia menang meyakinkan dengan skor 15-9 sehingga kedudukan menjadi imbang 1-1 dan pertandingan harus ditentukan melalui set penentuan. Pada gim terakhir, kedua tim kembali terlibat dalam persaingan sengit. Indonesia berupaya menyelesaikan laga dengan kemenangan, tetapi Jepang berhasil merebut angka-angka krusial dan menang tipis 15-13. Dengan hasil itu, Indonesia kalah 1-2 dari Jepang dan harus puas meraih medali perak, meskipun penampilan mereka menunjukkan bahwa peluang menuju emas terbuka hingga poin-poin terakhir.
Ketua Umum Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Surianto menilai empat medali yang dibawa pulang dari Asian Games 2026 memiliki arti penting bagi arah perkembangan tim nasional. Saat menyambut kedatangan para atlet di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu, 4 Oktober 2026, ia menyampaikan apresiasi atas perjuangan seluruh anggota skuad sekaligus meminta maaf karena Indonesia hanya mampu membawa pulang medali perak dari nomor men’s quadrant. Meski demikian, hasil tersebut tetap menunjukkan konsistensi prestasi karena seluruh nomor yang diikuti Indonesia berhasil menghasilkan medali.
Menurut Surianto, pencapaian itu menjadi bukti bahwa persiapan dan pembinaan sepak takraw nasional mulai berjalan pada jalur yang tepat. Setiap medali tidak hanya mencerminkan hasil pertandingan, tetapi juga memperlihatkan daya saing atlet Indonesia di tingkat Asia. Ia memandang keberhasilan tersebut sebagai modal untuk memperkuat program latihan, mengevaluasi kekurangan, dan menyusun strategi yang lebih terarah sebelum menghadapi kompetisi berikutnya.
Sasaran terdekat PSTI adalah SEA Games 2027. Indonesia diharapkan dapat mempertahankan atau meningkatkan pencapaian melalui persiapan yang lebih matang, baik dari sisi teknik, fisik, maupun mental. Setelah itu, perhatian akan diarahkan menuju Asian Games berikutnya di Doha. Target tersebut menuntut kesinambungan pembinaan, sehingga para atlet tidak berhenti berkembang setelah memperoleh pengalaman dari Asian Games 2026.
Surianto juga menyoroti komposisi tim yang menjadi alasan kuat untuk optimistis. Skuad Asian Games 2026 diisi atlet-atlet junior berusia 17, 18, dan 19 tahun. Usia muda memberikan ruang bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan sekaligus menambah pengalaman dalam pertandingan besar. Regenerasi ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan prestasi sepak takraw Indonesia. Dengan pendampingan pelatih, program kompetisi yang konsisten, dan dukungan berbagai pihak, Surianto berharap para atlet muda tersebut mampu memberikan prestasi terbaik pada SEA Games 2027 dan Asian Games di Doha.
Untuk mempertahankan kesinambungan pembinaan atlet setelah Asian Games 2026, Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) menyiapkan langkah melalui peluncuran Liga Utama Sepak Takraw. Kompetisi tersebut dijadwalkan mulai berlangsung pada 28 November 2026 di Jakarta dan disebut sebagai liga perdana sepak takraw Indonesia. Kehadiran liga ini menjadi bagian dari upaya menjaga pembinaan agar berlangsung secara berkelanjutan, sekaligus menyediakan ruang kompetisi bagi para pemain setelah agenda kejuaraan internasional.
Peluncuran Liga Utama Sepak Takraw menjadi perhatian karena pembinaan tidak hanya bergantung pada pemusatan latihan menjelang turnamen besar. Melalui kompetisi yang terjadwal, atlet dapat terus memperoleh pengalaman bertanding dan tim memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan secara konsisten. PSTI menempatkan liga tersebut sebagai langkah untuk mempertahankan pembinaan sepak takraw Indonesia setelah perjuangan di Asian Games 2026.
Di sisi lain, kapten tim Indonesia, Muhammad Hardiansyah Muliang, menyampaikan evaluasi setelah kegagalan meraih medali emas. Ia menilai peluang Indonesia untuk menjadi juara sebenarnya tetap terbuka. Namun, tim kehilangan keunggulan pada set ketiga dan akhirnya kalah dengan selisih dua angka. Hasil tersebut membuat kesempatan untuk mengamankan gelar tidak dapat diwujudkan pada pertandingan final.
Menurut Hardiansyah, kedua tim sudah sering bertemu dalam berbagai pertandingan sehingga masing-masing telah mengetahui strategi lawan. Karena itu, kekalahan tersebut lebih disebabkan oleh aspek teknis dan strategi pada set penentuan. Evaluasi tersebut menempatkan jalannya set ketiga sebagai bagian penting dari hasil final, ketika Indonesia tidak mampu mempertahankan keunggulan dan harus menerima kekalahan tipis. Pernyataan kapten itu menggambarkan bahwa peluang juara masih ada, tetapi pelaksanaan teknis serta penerapan strategi pada momen penentuan menjadi pembeda dalam pertandingan.

