JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI mencatat kinerja positif hingga Agustus 2026. Perseroan membukukan laba sebesar Rp5,30 triliun, tumbuh 10,07 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini menunjukkan penguatan kinerja BSI di tengah upaya perseroan memperluas bisnis dan meningkatkan kontribusi berbagai sumber pendapatan.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh ekspansi bisnis yang berjalan beriringan dengan penguatan dana murah. Ketersediaan dana murah menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung efisiensi dan memperkuat ruang pertumbuhan bisnis perbankan syariah. Sejalan dengan itu, BSI juga terus mengakselerasi pembiayaan untuk mendorong penyaluran dana kepada nasabah dan memperluas skala usaha perseroan.
Selain ekspansi bisnis dan akselerasi pembiayaan, kontribusi bisnis emas turut menopang pencapaian laba BSI hingga Agustus 2026. Bisnis tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem layanan syariah yang dijalankan perseroan. Peningkatan pendapatan berbasis biaya atau fee based income juga memberikan dukungan terhadap pertumbuhan kinerja, sehingga sumber pendapatan BSI menjadi semakin beragam.
Kombinasi sejumlah faktor tersebut mendorong laba BSI tumbuh dua digit secara tahunan. Penguatan dana murah, peningkatan pembiayaan, kontribusi bisnis emas, serta pertumbuhan fee based income menjadi fondasi utama pencapaian laba Rp5,30 triliun. Dengan hasil tersebut, BSI memperlihatkan kemampuan untuk menjaga momentum pertumbuhan melalui pengembangan bisnis dan penguatan pendapatan secara berkelanjutan hingga Agustus 2026.
Sisi pendanaan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menunjukkan perkembangan positif hingga Agustus 2026. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 17,71 persen secara tahunan, sehingga mencapai Rp389 triliun. Pertumbuhan tersebut mencerminkan peningkatan penghimpunan dana dari masyarakat yang menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung aktivitas operasional dan pembiayaan perseroan. Dengan kenaikan itu, BSI memiliki basis dana yang semakin besar hingga periode pelaporan tersebut.
Dari total dana pihak ketiga sebesar Rp389 triliun, dana murah atau current account savings account (CASA) mencapai Rp246 triliun. Komponen CASA tersebut mencakup dana yang dihimpun melalui rekening giro dan tabungan. Penguatan dana murah terutama didorong oleh pertumbuhan tabungan yang mencapai Rp171 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa peningkatan penghimpunan tabungan menjadi bagian utama dalam perkembangan CASA BSI hingga Agustus 2026.
Perkembangan DPK dan CASA tersebut memperkuat struktur pendanaan perseroan. Porsi dana murah yang mencapai Rp246 triliun memberikan gambaran mengenai semakin kuatnya komposisi sumber dana BSI, terutama dengan dukungan pertumbuhan tabungan sebesar Rp171 triliun. Sejalan dengan itu, penguatan struktur pendanaan tersebut berkaitan dengan peningkatan efisiensi biaya dana perseroan. Kinerja penghimpunan dana hingga Agustus 2026 dengan demikian ditandai oleh pertumbuhan DPK sebesar 17,71 persen secara tahunan, pencapaian total dana Rp389 triliun, serta penguatan CASA hingga Rp246 triliun.
BSI mencatat penurunan cost of fund (CoF) sebesar 37 basis poin dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Hingga Agustus 2026, indikator tersebut berada pada level 2,30 persen. Penurunan ini menjadi salah satu gambaran penting mengenai efisiensi perseroan dalam mengelola biaya dana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pembiayaan dan operasional perbankan.
Cost of fund adalah biaya yang harus ditanggung bank untuk memperoleh sumber dana, termasuk dana yang kemudian dikelola dan disalurkan kepada nasabah. Semakin rendah CoF, semakin efisien biaya penghimpunan dana yang perlu dibayar oleh bank. Sementara itu, basis poin merupakan satuan pengukuran perubahan persentase; 100 basis poin setara dengan satu persen. Dengan demikian, penurunan 37 basis poin menunjukkan berkurangnya tingkat biaya dana dibandingkan posisi tahun sebelumnya.
Menurut perseroan, efisiensi tersebut memberikan ruang bagi BSI untuk menjaga daya saing pembiayaan. Ruang ini penting karena bank perlu menawarkan pembiayaan secara kompetitif, sekaligus memastikan pengelolaan biaya tetap dilakukan secara hati-hati. Level CoF sebesar 2,30 persen menjadi bagian dari kinerja efisiensi yang mendukung kemampuan perseroan dalam mengelola struktur biaya dana.
Di sisi lain, penurunan cost of fund juga membantu BSI mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika industri perbankan. Profitabilitas merujuk pada kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari kegiatan usahanya. Dengan biaya dana yang lebih efisien, perseroan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menjaga keseimbangan daya saing pembiayaan dan kinerja keuntungan. Perkembangan CoF tersebut melengkapi penguatan kinerja BSI hingga Agustus 2026, terutama dalam menjaga efisiensi tanpa mengabaikan keberlanjutan bisnis.
Pembiayaan Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pertumbuhan yang lebih agresif hingga Agustus 2026. Secara tahunan, penyaluran pembiayaan meningkat 16,21 persen menjadi Rp344 triliun. Kinerja tersebut memperlihatkan kemampuan perseroan dalam mengoptimalkan likuiditas untuk mendorong ekspansi bisnis secara produktif. Pada saat yang sama, BSI tetap memperhatikan kualitas pembiayaan agar pertumbuhan yang dicapai berlangsung sehat dan berkelanjutan. Peningkatan ini mencerminkan permintaan yang tetap kuat terhadap solusi keuangan syariah, sekaligus menunjukkan kapasitas BSI dalam menyalurkan dana ke berbagai segmen secara terukur.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan bahwa fundamental perseroan semakin kuat. Menurut dia, pertumbuhan laba dua digit berjalan beriringan dengan penguatan current account and savings account (CASA), pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi, penurunan cost of fund, serta akselerasi pendapatan berbasis biaya atau fee based income. Kombinasi indikator tersebut menunjukkan bahwa peningkatan profitabilitas tidak hanya ditopang oleh ekspansi aset, tetapi juga oleh perbaikan struktur pendanaan dan penguatan sumber pendapatan. CASA yang semakin solid dapat membantu menyediakan dana dengan biaya lebih efisien, sementara peningkatan fee based income memperluas kontribusi pendapatan nonmargin.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa mesin pertumbuhan BSI semakin terdiversifikasi. Perseroan tidak hanya mengandalkan peningkatan volume pembiayaan, tetapi juga memanfaatkan efisiensi biaya dana, pendalaman dana murah, dan pengembangan layanan yang menghasilkan pendapatan berbasis komisi. Dengan fondasi fundamental yang menguat serta kualitas pembiayaan yang tetap menjadi perhatian, BSI masih memiliki ruang untuk memperluas bisnis secara prudent. Kondisi itu juga memberi peluang bagi perseroan untuk mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah perubahan kebutuhan nasabah dan persaingan industri perbankan syariah. Arah kinerja tersebut sesuai dengan makna pernyataan manajemen bahwa berbagai sumber pertumbuhan mulai bekerja secara bersamaan dan memberikan dasar yang lebih kuat bagi ekspansi berikutnya.

