Kabupaten Malang | Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah mendorong seluruh kader partai untuk merapatkan barisan dan memperkuat persatuan dalam menghadapi Pemilu 2029. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan konsolidasi internal yang dirangkaikan dengan bakti sosial di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang pada Jumat (9/10). Kegiatan itu menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarpengurus sekaligus menyamakan arah perjuangan di berbagai tingkatan struktur partai.
Konsolidasi tersebut dihadiri pengurus partai dari tingkat DPC, PAC, hingga ranting. Kehadiran berbagai unsur organisasi menunjukkan pentingnya koordinasi yang menyeluruh, mulai dari jajaran pengurus di tingkat kabupaten hingga struktur yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Menurut Said, keterhubungan antarstruktur diperlukan agar setiap kader memiliki pemahaman yang sama mengenai agenda partai serta mampu menjalankan tugas secara terukur dan berkesinambungan.
Said memandang soliditas internal sebagai modal utama untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat sekaligus mengejar kemenangan politik pada Pemilu 2029. Kepercayaan publik, menurut pandangan tersebut, tidak hanya dibangun melalui kegiatan politik menjelang pemilu, tetapi juga melalui kerja nyata, kepedulian sosial, dan konsistensi kader dalam menjalankan tanggung jawabnya. Karena itu, penguatan organisasi perlu dilakukan secara rutin dan melibatkan seluruh unsur partai.
Kegiatan di Kabupaten Malang itu tidak ditempatkan sebagai agenda seremonial semata. Konsolidasi dipandang sebagai upaya menyatukan visi, memperjelas langkah, dan memastikan seluruh struktur bergerak dalam arah yang sama. Dengan komunikasi yang kuat DPC, PAC, dan ranting, partai diharapkan dapat merespons kebutuhan masyarakat secara lebih efektif. Pesan persatuan yang disampaikan Said sekaligus menegaskan bahwa persiapan menuju 2029 perlu dimulai dari penguatan internal, kerja kolektif, serta kedekatan kader dengan warga.
Said Abdullah mengingatkan kader PDI Perjuangan di Jawa Timur agar menjaga persatuan dan menghindari pertikaian di lingkungan internal partai. Ia menekankan bahwa perbedaan sikap maupun pandangan tidak boleh berkembang menjadi saling memfitnah, saling menjatuhkan, atau membentuk kelompok-kelompok yang memisahkan kader dari garis organisasi. Setiap persoalan perlu dihadapi melalui mekanisme partai, dengan mengutamakan komunikasi dan kepentingan bersama.
Menurut Said, konflik internal dapat menggerus modal sosial yang telah dibangun PDI Perjuangan. Pertikaian dan faksi bukan hanya mengganggu hubungan antarstruktur serta antarkader, tetapi juga berpotensi mengurangi kepercayaan masyarakat kepada partai. Karena itu, ia mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dianggap sebagai dinamika biasa. Apabila dibiarkan, konflik dapat mengancam keberlangsungan organisasi dan melemahkan kesiapan partai dalam menghadapi agenda politik mendatang.
Untuk mencegah hal itu, Said menginstruksikan seluruh struktur partai agar menjalankan keputusan dan arahan organisasi secara konsisten. Seluruh kader diminta bergerak dalam satu komando, tanpa menerjemahkan ulang keputusan tersebut atau membuat interpretasi lain yang dapat menimbulkan perbedaan arah. Ketaatan terhadap keputusan organisasi dipandang penting untuk menjaga keseragaman langkah, memperkuat koordinasi, serta memastikan seluruh unsur partai bekerja dalam tujuan yang sama. Dengan demikian, tidak ada ruang bagi pembentukan faksi, pertikaian, maupun tindakan yang berpotensi memecah soliditas internal.
Said Abdullah menegaskan bahwa penguatan organisasi harus berjalan beriringan dengan kedekatan kader kepada masyarakat. Konsolidasi internal memang penting untuk memastikan seluruh jajaran memiliki arah perjuangan yang sama, tetapi kekuatan partai pada akhirnya ditentukan oleh tingkat kepercayaan rakyat. Karena itu, setiap kader PDIP Jawa Timur diharapkan tidak hanya aktif dalam agenda organisasi, melainkan juga hadir dan bekerja di tengah lingkungan masyarakat secara konsisten.
Kepercayaan rakyat menjadi perhatian utama partai dalam menghadapi target politik pada Pemilu 2029. Menurut Said, kepercayaan tidak dapat dibangun secara instan melalui kegiatan politik menjelang pemungutan suara. Kepercayaan tumbuh dari hubungan yang berkelanjutan, sikap terbuka, serta kepedulian yang dapat dirasakan langsung oleh warga. Kader perlu memahami kebutuhan masyarakat, mendengarkan keluhan mereka, dan menunjukkan bahwa partai memiliki komitmen untuk memperjuangkan kepentingan publik.
Ia juga mengingatkan bahwa perhatian sederhana dapat memberikan makna besar bagi masyarakat. Menyapa warga, menanyakan kabar, atau sekadar meluangkan waktu untuk berbincang dapat membuat seseorang merasa dihargai, meskipun pada saat itu mereka belum tentu membutuhkan bantuan. Sikap tersebut mencerminkan penghormatan kepada rakyat sekaligus memperkuat hubungan sosial kader dan masyarakat.
Said menegaskan bahwa rakyat merupakan pemilik kehormatan dan kedaulatan. Sementara itu, wakil rakyat menjalankan amanah untuk mewakili mereka, bukan menempatkan diri di atas masyarakat. Pemahaman ini perlu menjadi landasan perilaku setiap kader dalam menjalankan tugas politik dan pelayanan publik. Dalam rangkaian konsolidasi, pesan tersebut diwujudkan melalui bakti sosial berupa penyaluran bantuan kepada 300 penerima manfaat serta santunan bagi 20 anak yatim. Kegiatan itu menjadi bentuk kepedulian nyata sekaligus pengingat bahwa kerja politik harus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Said Abdullah menegaskan bahwa target PDI Perjuangan di Jawa Timur tidak berhenti pada upaya memenangkan pemilihan legislatif. Partai juga perlu memastikan kadernya mampu menempati posisi strategis sebagai kepala daerah. Menurutnya, kemenangan elektoral harus diterjemahkan menjadi kepemimpinan pemerintahan yang membawa kepentingan rakyat, sekaligus memperkuat kehadiran partai dalam proses pembangunan di tingkat daerah.
Salah satu perhatian yang disampaikan Said adalah Kabupaten Malang. Hingga kini, daerah tersebut disebut belum memiliki bupati yang berasal dari kader PDI Perjuangan. Kondisi itu dinilai perlu menjadi bahan evaluasi sekaligus sasaran politik yang dipersiapkan sejak dini. Said mendorong DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bersama seluruh jajaran partai, termasuk struktur di tingkat kabupaten dan kota, mulai menyusun langkah terukur untuk mencapai target tersebut. Persiapan dapat dilakukan melalui penguatan organisasi, pemetaan tokoh potensial, pembinaan kader, serta kerja politik yang konsisten di tengah masyarakat.
Said juga menyoroti posisi Gubernur Jawa Timur yang hingga saat ini belum diisi oleh kader PDI Perjuangan. Ia berharap partai dapat memiliki peluang untuk mengusung calon sendiri dalam kontestasi gubernur mendatang, sehingga kader yang memiliki kapasitas dan rekam jejak dapat tampil membawa agenda partai di tingkat provinsi. Dorongan itu sekaligus menjadi pengingat agar konsolidasi tidak hanya berorientasi pada pemilu legislatif, tetapi juga pada penyiapan kepemimpinan eksekutif.
Di Jawa Timur, sejumlah kader PDI Perjuangan telah dipercaya memimpin daerah. Mereka lain duet Eri Cahyadi dan Armudji di Surabaya, Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Hanindhito Himawan di Kabupaten Kediri, serta Mochamad Nur Arifin di Trenggalek, bersama beberapa nama lainnya. Keberadaan mereka menjadi modal politik bagi partai untuk memperluas kepercayaan publik dan menyiapkan lebih banyak kader sebagai kepala daerah pada masa mendatang.

