Oleh Kepala Desa Girimulya : H.Ayi Rohiman.SE
Kabupaten Bandung, Radarnusantara.net, —
Saat di Temui Di Kediamannya Kepala Desa ( Kades ) Girimulya, Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat , Rabu.(2./8 ) 2026. H.Ayi.Rohiman.SE Bersama Tokoh sepuh Girimulya .Menceritakan Keadaan Area Desa Girimulya yang mana sebenarnya Desa Girimulya menyimpan Suatu cerita sangat indah , dan ini pun seharusnya menjadi perhatiaan bagi pemerintah agar peduli terhadap lingkungaan keindahan alami yang benar benar asri nan alami .agar dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi buat kehidupan masyarakat khususnya Warga Girimulya dan masyarakat luas yang ingin berkunjung .karena Potensi alam sekitar benar benar masih perawan / asri dan sejujurnya menyimpan sejarah buat anak cucu kita / generasi ke deoan faham akan leluhurnya yang begitu Mempuni serta keadaan lingkungaan alamnyapun samgat menunjang untuk di kembangkan .
Inilah Cerita Leganda yang ada di Desa Girumulya di sampaikan Oleh Kades Girimulya, H.Ayi Rohiman SE :
Di Dampingi Tokoh Sepuh Girimulya.
Nama Gunung Artapela alias Gambungssedaningsih dan Gunung Sembung yang disebut dalam naskah kuno _Bujangga Manik_ kini kembali diperbincangkan. Sejumlah lembaga riset dan pegiat sejarah mulai menelusuri ulang lokasi-lokasi tersebut sebagai bagian dari potensi wisata sastra dan geologi di wilayah hulu Sungai Citarum, Jawa Barat.
Berdasarkan catatan _BandungBergerak.id_, Gunung Artapela atau Gambungssedaningsih memiliki kaitan erat dengan perjalanan Bujangga Manik, seorang pertapa dari Pakuan Pajajaran abad ke-15. Dalam naskahnya, ia mencatat perjalanan spiritual dari ujung barat ke timur Nusantara dan sempat melewati gunung-gunung di sekitar Bandung.
Sementara itu, _Varman Institute_ lewat program “Bujangga Manik Geotrek” berupaya melacak jejak hulu Citarum dengan titik fokus di Gunung Sembung. Dalam publikasi lainnya, lembaga yang sama juga menyebut telah “Menemukan Kembali Gunung Sembung dan Mandalawangi” sebagai bagian dari upaya memetakan ulang lanskap yang disebut dalam naskah.
Upaya ini diperkuat oleh terbitnya buku _Bujangga Manik, Gunung Sembung, dan Hulu Citarum_ tahun 2022 karya Gelar Taufiq Kusumawardhana dan Karguna Purnama Harya. Buku tersebut menjadi salah satu rujukan utama untuk memahami korelasi antara teks sastra kuno dengan kondisi geografis saat ini.
Situs resmi _Indonesia.travel_ juga mencatat Mount Artapela sebagai destinasi yang mulai dilirik karena nilai sejarah dan alamnya. Para peneliti menilai, penggabungan unsur geotrek, ekowisata, dan sastra bisa menjadi daya tarik baru bagi Bandung dan sekitarnya.
Pegiat lokal menilai, jika dikelola dengan pendekatan pelestarian, kawasan hulu Citarum ini bisa menjadi “laboratorium hidup” yang mempertemukan sejarah, budaya, dan lingkungan.
Informasi ini dirangkum dari berbagai sumber: _BandungBergerak.id_, _Varman Institute_, _Indonesia.travel_, dan buku _Bujangga Manik, Gunung Sembung, dan Hulu Citarum_ 2022.
Menurut Kades Kisah sejarah di desa Girimulya masih ada lagi yaitu : Guha Jepang dan lain, Sampai di sini dulu *Bersambung** Part 2
Reporter : ( Red 01 TR )












