Aksi Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda Usai, Tiga Tuntutan Disuarakan

Aksi Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda Usai, Tiga Tuntutan Disuarakan

Jakarta | Aksi mahasiswa Universitas Trisakti di kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Selatan, Jakarta Pusat, berakhir tertib pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.53 WIB itu berlangsung hampir tiga jam. Para peserta mulai meninggalkan lokasi secara bertahap sekitar pukul 18.51 WIB. Dengan demikian, aksi berakhir tanpa perubahan suasana yang mengganggu ketertiban berdasarkan informasi yang tersedia. Rentang waktu tersebut menjadi penanda utama jalannya kegiatan, sejak aksi dimulai pada sore hari hingga massa berangsur meninggalkan kawasan Patung Kuda menjelang malam.

Waktu mulai dan berakhirnya aksi menunjukkan massa bertahan di lokasi selama kurang lebih dua jam 58 menit. Durasi tersebut dapat disebut hampir tiga jam, sesuai rentang sekitar pukul 15.53 dan 18.51 WIB. Kepergian peserta tidak berlangsung sekaligus, melainkan secara bertahap. Karena itu, pukul 18.51 WIB menandai waktu massa mulai meninggalkan lokasi, bukan keterangan bahwa seluruh peserta pergi pada satu saat yang sama. Aksi mahasiswa Trisakti di pusat Jakarta tersebut pun ditutup dengan tertib, sebagaimana tercatat pada Kamis sore itu.

Lokasi aksi berada di kawasan Patung Kuda, tepatnya di Jalan Medan Selatan, Jakarta Pusat. Informasi mengenai waktu, tempat, dan proses berakhirnya kegiatan memberikan gambaran pokok tentang peristiwa tersebut, tanpa menambahkan perkiraan jumlah peserta ataupun rincian lain yang tidak tercantum. Mahasiswa Universitas Trisakti memulai aksi sekitar pukul 15.53 WIB, bertahan hampir tiga jam, lalu meninggalkan lokasi secara bertahap sekitar pukul 18.51 WIB. Dengan berakhirnya kegiatan secara tertib, rangkaian aksi pada hari itu di kawasan Patung Kuda dinyatakan usai.

Aksi mahasiswa Universitas Trisakti di kawasan Patung Kuda membawa tiga tuntutan yang menjadi pokok penyampaian aspirasi. Tuntutan pertama meminta pemulihan berbagai sektor nasional yang dinilai membutuhkan perhatian. Cakupannya meliputi bidang ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan. Dengan menyebut sejumlah sektor tersebut, mahasiswa menyuarakan perlunya pembenahan yang menjangkau kehidupan masyarakat secara luas, bukan hanya satu bidang tertentu. Pemulihan berbagai sektor itu menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam aksi, bersama tuntutan lain mengenai kualitas pejabat dan hubungan sipil dalam tata kelola negara.

Tuntutan kedua disampaikan dalam orasi Arief Rizquna, Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti periode 2025/2026 dari Kabinet Karya Bersama. Dalam orasi tersebut, Arief mendesak penghapusan dan pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten di bidangnya. Pesan itu menyoroti pentingnya kompetensi pejabat dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing. Tuntutan tersebut disampaikan sebagai bagian dari aspirasi mahasiswa, tanpa mengubah pokok yang disuarakan Arief: pejabat yang dianggap tidak memiliki kecakapan sesuai bidangnya perlu ditindak melalui penghapusan dan pemberantasan. Orasi itu menjadi salah satu jalur penyampaian tuntutan kepada publik.

Tuntutan ketiga berkaitan dengan penegakan supremasi sipil. Isu tersebut disuarakan bersama dua tuntutan lainnya sebagai bagian dari rangkaian aspirasi mahasiswa di Patung Kuda. Selain melalui orasi, aspirasi peserta aksi turut disampaikan lewat spanduk dan atribut aksi yang dibawa di lokasi. Media visual tersebut memperlihatkan bahwa pesan mahasiswa disampaikan melalui beragam cara, baik lisan maupun tertulis. Ketiga tuntutan—pemulihan sektor nasional, pemberantasan pejabat yang dinilai tidak kompeten, serta penegakan supremasi sipil—menjadi inti pesan dalam aksi. Penyebutan tuntutan secara berdampingan menunjukkan ruang lingkup aspirasi yang dibawa mahasiswa, tanpa mengurangi arti setiap poin yang mereka suarakan.

Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, menemui peserta aksi mahasiswa di kawasan Patung Kuda sekitar pukul 17.05 WIB. Pertemuan tersebut berlangsung saat para mahasiswa menyuarakan tiga tuntutan yang ditujukan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kehadiran Binbin menjadi kesempatan bagi peserta aksi untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada perwakilan pemerintah, sekaligus membuka ruang dialog di lokasi kegiatan.

Dalam pertemuan itu, Binbin berdialog dengan mahasiswa dan menjawab sejumlah pertanyaan yang disampaikan peserta. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan tuntutan yang mereka arahkan kepada pemerintah. Dialog berlangsung di tengah aksi, dengan perhatian tertuju pada penyampaian aspirasi dan respons dari pihak yang menemui massa. Keterangan yang tersedia menyebut adanya tanya jawab, tetapi tidak merinci seluruh pertanyaan maupun jawaban yang disampaikan selama percakapan.

Rangkaian pertemuan kemudian berlanjut sekitar pukul 17.31 WIB. Pada waktu tersebut, Binbin diminta naik ke mobil komando untuk menyampaikan hasil dialog kepada peserta aksi. Ia juga diminta menyampaikan komitmen pemerintah dalam merespons aspirasi yang telah disuarakan mahasiswa. Penyampaian dari atas mobil komando itu menjadi bagian dari komunikasi perwakilan pemerintah dan massa di lokasi aksi.

Informasi mengenai dialog tersebut mencakup waktu kedatangan Binbin, berlangsungnya tanya jawab, serta permintaan agar ia menyampaikan hasil pertemuan dan komitmen pemerintah. Namun, rincian isi jawaban atas masing-masing pertanyaan dan bentuk tindak lanjut atas tuntutan tidak dijelaskan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, hasil pertemuan dapat dilaporkan sebatas adanya dialog dan penyampaian komitmen untuk merespons aspirasi, tanpa menambahkan kesimpulan mengenai keputusan atau langkah pemerintah.

Pertemuan itu berlangsung dalam rangkaian aksi mahasiswa di Patung Kuda. Kehadiran staf khusus Mensesneg memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung, sementara penyampaian di mobil komando ditujukan kepada massa yang hadir. Rincian lebih lanjut mengenai respons pemerintah terhadap tuntutan tersebut belum tercantum dalam keterangan yang menjadi dasar laporan ini.

Setelah menyuarakan tiga tuntutan dalam aksi di kawasan Patung Kuda, mahasiswa Trisakti menutup rangkaian kegiatan dengan melaksanakan salat Magrib berjemaah. Mereka menunaikan ibadah di badan jalan, dengan almamater yang dikenakan dijadikan alas. Salat bersama tersebut berlangsung sebelum peserta meninggalkan lokasi. Kegiatan ini menjadi salah satu bagian akhir dari aksi yang sebelumnya diisi penyampaian aspirasi kepada pemerintah. Berdasarkan keterangan sumber, setelah salat selesai, massa menyalakan flare. Momen itu menandai berakhirnya kegiatan di lokasi, sebelum para peserta mulai membubarkan diri dan pulang secara bertahap.

Pembubaran tidak dilakukan sekaligus. Peserta meninggalkan kawasan aksi dengan beragam moda transportasi, menyesuaikan kendaraan yang tersedia bagi masing-masing kelompok. Sebagian menggunakan mobil komando, sementara peserta lainnya pulang dengan angkutan kota, bus kota, dan sepeda motor. Pergerakan bertahap tersebut mengakhiri kegiatan mahasiswa di sekitar Patung Kuda. Keterangan mengenai urutan salat, penyalaan flare, dan kepulangan peserta itu melengkapi kronologi aksi setelah tuntutan disampaikan. Dengan massa yang berangsur meninggalkan lokasi, rangkaian kegiatan pun berakhir tanpa keterangan tambahan mengenai agenda lanjutan dari para peserta.

Dalam keterangan terkait isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Binbin menyampaikan komitmen pemerintah untuk menangani dampak yang dialami warga. Ia menyatakan bahwa warga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla di sejumlah wilayah Indonesia akan memperoleh pelayanan rumah sakit tanpa dipungut biaya. Binbin juga menyebut layanan pengobatan gratis bagi warga terdampak ISPA sebagai bagian dari penanganan tersebut. Ia menyatakan akan memastikan pelayanan itu dapat diterima oleh warga yang membutuhkan. Keterangan ini menegaskan perhatian pada dampak kesehatan akibat asap karhutla, sekaligus memuat janji untuk menjamin akses warga terdampak ke perawatan medis tanpa biaya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari informasi yang disampaikan usai aksi mahasiswa di Patung Kuda.

Baca juga: Aksi Bersama Mahasiswa: Pertemuan Tiga Organisasi Kampus Terkemuka | Aksi Buruh Besar di Jakarta: Tuntutan untuk Perlindungan dan Upah Layak | Aksi Massa Buruh di Jakarta: Tuntutan Keadilan dan Perlindungan