Jakarta | Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan optimistis Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global, dengan bertumpu pada kondisi makroekonomi nasional yang dinilai solid. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketidakpastian internasional yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan dan stabilitas harga di berbagai negara. Optimisme itu menempatkan ketahanan ekonomi sebagai modal penting saat lingkungan global menghadapi sejumlah risiko. Namun, penilaian tersebut tidak berarti tekanan eksternal dapat diabaikan. Perkembangan di luar negeri tetap perlu dicermati karena perubahan pada pertumbuhan dunia, harga energi, dan inflasi berpotensi membentuk kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia.
Sejumlah tekanan yang menjadi latar perhatian mencakup ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perang yang berlangsung berkepanjangan, serta tingginya harga minyak mentah. Faktor-faktor tersebut menambah ketidakpastian bagi perekonomian global dan dapat memengaruhi biaya energi maupun aktivitas ekonomi. Dalam bahan yang menjadi dasar pembahasan, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tekanan itu berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026. Kedua lembaga juga memperkirakan adanya risiko peningkatan inflasi. Perkiraan tersebut menggambarkan tantangan pada tingkat global, bukan kepastian bahwa semua negara akan mengalami dampak dengan besaran yang sama.
Perlambatan ekonomi dunia dan inflasi yang lebih tinggi dapat membawa konsekuensi bagi rumah tangga, terutama apabila kenaikan harga mengurangi kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa. Karena itu, risiko terhadap daya beli menjadi salah satu alasan perkembangan global perlu dipantau. Meski demikian, konteks ini adalah tekanan eksternal yang berpotensi memengaruhi prospek, bukan keterangan bahwa Indonesia telah mengalami dampak tertentu yang tidak disebutkan dalam sumber. Pernyataan Suahasil menekankan keyakinan terhadap kondisi makroekonomi Indonesia, sementara proyeksi Bank Dunia dan IMF menunjukkan risiko yang berkembang di luar negeri. Pemisahan kondisi domestik dan risiko global penting agar pembaca memahami tantangan secara proporsional. Dengan demikian, optimisme pemerintah berjalan beriringan dengan kewaspadaan terhadap perubahan geopolitik, harga minyak, pertumbuhan, dan inflasi dunia.
Pertumbuhan ekonomi dan inflasi menjadi dua indikator penting yang menunjukkan daya tahan Indonesia menghadapi tekanan global. Pada semester pertama, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% secara tahunan. Capaian ini ditopang oleh permintaan domestik yang kuat, termasuk kegiatan konsumsi dan aktivitas ekonomi di dalam negeri. Permintaan tersebut membantu menjaga momentum pertumbuhan ketika kondisi eksternal diwarnai ketidakpastian dan situasi global yang memanas. Dengan demikian, perekonomian tidak hanya bergantung pada perkembangan di pasar internasional, tetapi juga memperoleh dukungan dari kegiatan domestik yang tetap berjalan.
Investasi turut menjadi salah satu penopang pertumbuhan pada periode tersebut. Kegiatan penanaman modal mendukung kapasitas produksi dan aktivitas usaha, sementara kebijakan pemerintah berperan menjaga kondisi ekonomi serta menopang kegiatan masyarakat dan dunia usaha. Kombinasi permintaan domestik, investasi, dan kebijakan pemerintah menjadi bagian dari modal ekonomi yang membantu mempertahankan laju pertumbuhan. Angka 5,45% secara tahunan mencerminkan kinerja semester pertama, bukan sekadar perkiraan, dan menunjukkan bahwa pertumbuhan tetap terjaga di tengah tantangan eksternal. Namun, perkembangan berikutnya tetap perlu dicermati seiring perubahan situasi global.
Indikator lain yang turut memberi ruang bagi stabilitas ekonomi adalah inflasi. Hingga September, inflasi tercatat sebesar 3,28% secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam sasaran pemerintah, yakni 1,5%–3,5%, sehingga tekanan harga secara agregat tetap berada dalam rentang yang ditetapkan. Suahasil menyebut pertumbuhan dan inflasi sebagai indikator makro yang menunjukkan kondisi baik di tengah situasi global yang memanas. Kedua capaian ini menjadi penyangga bagi perekonomian: pertumbuhan menggambarkan aktivitas ekonomi yang terus berlangsung, sedangkan inflasi dalam sasaran mencerminkan tekanan harga yang masih terkendali. Meski demikian, pemantauan terhadap keduanya tetap diperlukan karena perubahan kondisi global dapat memengaruhi prospek ke depan.
Indeks PMI manufaktur Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 52,4. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pengolahan berada dalam fase ekspansi, karena posisinya berada di atas ambang 50. Capaian ini dikaitkan dengan penguatan permintaan yang mendorong kegiatan produksi dan penyerapan tenaga kerja. Dengan demikian, data PMI menggambarkan aktivitas manufaktur yang meningkat seiring bertambahnya kebutuhan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor tersebut. Peningkatan permintaan menjadi bagian penting dari penjelasan mengenai kondisi industri pada periode itu, bersama dengan perkembangan produksi dan tenaga kerja. Data ini memberikan gambaran bahwa kegiatan usaha manufaktur tidak sedang mengalami kontraksi pada September.
Suahasil menjelaskan bahwa nilai PMI di atas 50 menandakan dunia usaha berada dalam kondisi berekspansi. Dalam keadaan tersebut, perusahaan meningkatkan pembelian barang input yang diperlukan untuk mendukung kegiatan produksinya. Perubahan pada pembelian input itu sejalan dengan aktivitas produksi yang meningkat ketika permintaan menguat. Keterangan tersebut menghubungkan posisi indeks di atas ambang 50 dengan keputusan usaha untuk membeli lebih banyak bahan atau barang yang digunakan dalam proses produksi. Penjelasan ini juga menyertakan adanya optimisme pelaku usaha terhadap tambahan permintaan. Dengan kata lain, makna angka PMI tidak hanya terkait dengan nilai indeks, tetapi juga dengan aktivitas pembelian dan keyakinan usaha sebagaimana diterangkan Suahasil.
Penguatan permintaan, peningkatan produksi, dan penyerapan tenaga kerja menjadi unsur yang dikaitkan dengan capaian PMI manufaktur tersebut. Ketiganya menempatkan angka 52,4 dalam konteks kegiatan sektor pengolahan yang ekspansif. Keterangan Suahasil mengenai PMI di atas 50 melengkapi gambaran itu: dunia usaha berekspansi, melakukan pembelian barang input dalam jumlah lebih banyak, dan memiliki optimisme terhadap tambahan permintaan. Penyajian ini mempertahankan hubungan yang disebutkan indikator, kegiatan perusahaan, dan permintaan, tanpa menarik kesimpulan lain di luar keterangan yang tersedia. Oleh karena itu, angka PMI September 2026 dapat dipahami sebagai penanda ekspansi manufaktur pada periode tersebut, sejalan dengan penguatan permintaan yang mendorong produksi serta penyerapan tenaga kerja.
Selain pertumbuhan ekonomi dan perkembangan harga, Suahasil menyebut sejumlah indikator lain yang menggambarkan daya tahan aktivitas ekonomi Indonesia. Pada periode Januari hingga Agustus 2026, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$7,25 miliar. Capaian tersebut menunjukkan bahwa nilai ekspor masih melampaui impor secara agregat selama delapan bulan pertama tahun ini. Surplus perdagangan menjadi salah satu penopang eksternal di tengah kondisi global yang penuh tekanan, termasuk perubahan permintaan dan dinamika harga komoditas. Angka ini disampaikan sebagai bagian dari rangkaian indikator yang memberikan gambaran lebih luas tentang kondisi ekonomi, bukan sebagai satu-satunya ukuran kinerja. Perkembangan perdagangan tersebut melengkapi pembahasan mengenai pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas makroekonomi.
Di sektor keuangan, penyaluran kredit tumbuh 13,26% pada September 2026. Suahasil menekankan bahwa kredit investasi memberikan dorongan kuat terhadap pertumbuhan tersebut. Peran kredit investasi penting karena pembiayaan ini berkaitan dengan kegiatan usaha dan pembentukan kapasitas ekonomi, meskipun data yang disampaikan tidak merinci kontribusi setiap sektor. Pertumbuhan kredit menjadi indikator aktivitas intermediasi perbankan sekaligus menunjukkan adanya pembiayaan bagi kebutuhan dunia usaha. Perkembangan ini dipaparkan berdampingan dengan surplus perdagangan, sehingga gambaran yang disajikan mencakup kegiatan ekonomi domestik maupun hubungan Indonesia dengan pasar internasional. Angka pertumbuhan tersebut merujuk pada posisi September 2026 dan menjadi salah satu informasi pendukung yang disampaikan Suahasil.
Indikator arus modal juga menunjukkan adanya aliran masuk dari investor asing. Secara akumulatif, nilai arus masuk tersebut mencapai Rp127,7 triliun hingga 23 Oktober 2026. Jalur aliran modal yang disebutkan meliputi surat berharga negara (SBN) dan sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Baca juga: Relevansi Ekonomi Syariah dalam Perekonomian Global | Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas






