JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai wisata olahraga di Indonesia memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Penilaian tersebut didukung oleh kekayaan destinasi, keragaman budaya, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap kegiatan yang memadukan perjalanan dan aktivitas fisik. Indonesia tidak hanya memiliki potensi sebagai tempat penyelenggaraan kompetisi olahraga berskala nasional dan internasional, tetapi juga sebagai tujuan bagi wisatawan yang ingin berolahraga, menikmati alam, dan memperoleh pengalaman baru dalam satu perjalanan.
Peluang itu semakin terbuka seiring perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia. Kesadaran terhadap kebugaran, kesehatan, dan keseimbangan hidup mulai mendorong lebih banyak orang untuk berolahraga secara rutin. Pada saat yang sama, perjalanan tidak lagi semata-mata dilakukan untuk beristirahat, melainkan juga untuk mengikuti lomba lari, bersepeda, mendaki, menyelam, atau menyaksikan pertandingan. Perubahan perilaku tersebut menciptakan permintaan baru terhadap destinasi, fasilitas, layanan, dan paket perjalanan yang mendukung kegiatan olahraga.
Pernyataan Menteri Pariwisata disampaikan dalam peluncuran “Buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata” sekaligus dimulainya penyusunan desain besar pengembangan industri olahraga nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Bappenas pada Rabu, 30 September. Momentum ini memperlihatkan keterkaitan penyelenggaraan ajang olahraga, penguatan citra destinasi, dan perluasan dampak ekonomi yang dapat dirasakan oleh berbagai sektor.
Olahraga dipandang sebagai salah satu tema pariwisata yang berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan. Penyelenggaraan agenda olahraga dapat menarik wisatawan, memperpanjang lama tinggal, serta meningkatkan belanja pada akomodasi, transportasi, kuliner, dan usaha lokal. Namun, pengembangannya perlu disertai perencanaan yang terukur, pengelolaan lingkungan, peningkatan kualitas infrastruktur, dan pelibatan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, wisata olahraga dapat menjadi penggerak pariwisata nasional sekaligus membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Wisata olahraga memiliki daya tarik ekonomi yang kuat karena mendorong perjalanan lintas negara sekaligus meningkatkan pengeluaran wisatawan untuk tiket, akomodasi, transportasi, kuliner, dan berbagai layanan pendukung. Berdasarkan data yang disampaikan Widiyanti, survei Expedia menunjukkan bahwa 44 persen wisatawan bersedia bepergian ke luar negeri untuk menyaksikan atau menikmati hiburan olahraga pilihan mereka. Kesediaan tersebut menunjukkan bahwa pertandingan, kompetisi, dan pengalaman olahraga dapat menjadi alasan utama seseorang menentukan tujuan perjalanan.
Survei yang sama mencatat bahwa wisatawan tersebut rata-rata mengeluarkan 1.500 dolar AS selama perjalanan. Nilai ini melampaui rata-rata pengeluaran wisatawan ke Indonesia saat ini, sehingga memperlihatkan besarnya potensi penerimaan apabila Indonesia mampu menarik lebih banyak pengunjung melalui agenda dan destinasi olahraga. Pengeluaran itu tidak hanya berkaitan dengan kegiatan utama, tetapi juga tersebar pada sektor pariwisata lain yang dinikmati sebelum, selama, dan setelah penyelenggaraan acara.
Catatan UN Tourism turut memperkuat gambaran tersebut. Wisata olahraga disebut menyumbang 10 persen dari total belanja wisatawan global dan diproyeksikan terus tumbuh sebesar 17,5 persen hingga 2030. Proyeksi ini menempatkan wisata olahraga sebagai salah satu segmen yang memiliki ruang perkembangan besar dalam industri pariwisata dunia. Pertumbuhan belanja juga membuka peluang bagi negara tujuan untuk memperluas manfaat ekonomi ke pelaku usaha lokal, penyedia jasa, serta pengelola fasilitas wisata.
Indonesia memiliki sejumlah modal untuk merespons peluang tersebut. Kekayaan alam berupa pantai, pegunungan, perairan, hutan, dan kawasan perkotaan dapat mendukung beragam aktivitas olahraga, mulai dari olahraga air dan petualangan hingga kegiatan berbasis komunitas. Di sisi lain, infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, akomodasi, venue olahraga, serta fasilitas publik menjadi unsur penting untuk menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan wisatawan dan penyelenggara kegiatan internasional.
Penyelenggaraan berbagai event olahraga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan sports tourism. Kegiatan semacam ini tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga mendorong perjalanan wisata, memperkenalkan destinasi, serta menggerakkan sektor ekonomi lokal. Penonton, atlet, kru, dan wisatawan mancanegara membutuhkan akomodasi, transportasi, kuliner, serta layanan rekreasi selama berada di suatu daerah. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, pertandingan olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk memperpanjang lama tinggal dan memperluas belanja wisatawan.
MotoGP Mandalika menjadi salah satu contoh paling menonjol. Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika di Lombok tidak hanya menjadi arena balap, tetapi juga etalase pariwisata Nusa Tenggara Barat. Kehadiran penonton domestik dan internasional memperkuat citra Mandalika sebagai destinasi berkelas dunia, sekaligus mendorong aktivitas usaha di sekitar kawasan. Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun. Angka tersebut menggambarkan besarnya nilai event olahraga apabila didukung infrastruktur, promosi, dan ekosistem pariwisata yang memadai.
Potensi serupa terlihat melalui HYROX Jakarta yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026. Dengan 11.500 peserta, ajang ini tercatat sebagai event HYROX dengan jumlah peserta terbesar di Asia Pasifik. Sekitar 15 persen pesertanya berkewarganegaraan asing, sehingga kompetisi tersebut turut membuka peluang promosi Jakarta sebagai kota olahraga dan destinasi urban. Kehadiran peserta dari berbagai negara dapat dikaitkan dengan agenda wisata kuliner, belanja, budaya, serta kunjungan ke sejumlah ikon kota.
Jakarta International Marathon juga memperlihatkan pentingnya intellectual property dalam membangun identitas event yang konsisten dan bernilai komersial. Sementara itu, rangkaian Geopark Run menghubungkan aktivitas lari dengan keunikan lanskap, geologi, dan budaya di berbagai kawasan geopark Indonesia. Model ini berfungsi sebagai pengungkit destinasi karena peserta tidak sekadar mengikuti perlombaan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung terhadap lingkungan setempat. Beragam contoh tersebut menegaskan bahwa event olahraga dapat menyatukan prestasi, promosi destinasi, partisipasi masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi dalam satu ekosistem pariwisata.
Pengembangan wisata olahraga di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu ditangani secara terencana. Tantangan pertama adalah pemerataan penyelenggaraan event. Kegiatan olahraga berskala nasional maupun internasional tidak seharusnya hanya terpusat di destinasi unggulan, seperti kota-kota besar atau kawasan yang telah populer. Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan event di berbagai daerah agar manfaat ekonomi, promosi destinasi, dan penciptaan lapangan kerja dapat dirasakan secara lebih merata.
Tantangan kedua berkaitan dengan konsentrasi kunjungan pada musim puncak penyelenggaraan. Lonjakan wisatawan dalam waktu singkat dapat membebani kapasitas akomodasi, transportasi, fasilitas publik, serta infrastruktur pendukung lainnya. Karena itu, penyelenggara dan pengelola destinasi perlu merancang rangkaian kegiatan yang mampu menjaga arus kunjungan di luar periode utama event. Dengan demikian, dampak ekonomi tidak berhenti ketika pertandingan atau perlombaan berakhir.
Tantangan berikutnya ialah standardisasi layanan dan peningkatan profesionalisme penyelenggara. Kualitas pelayanan, keamanan, ketepatan informasi, hingga pengalaman peserta dan penonton harus memenuhi standar yang konsisten. Selain itu, pengelolaan risiko menjadi syarat penting bagi event berkelas dunia, mencakup kesiapan menghadapi gangguan kesehatan, cuaca, keselamatan, kerumunan, dan keadaan darurat lainnya.
Kementerian Pariwisata mendorong pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, pihak swasta, serta pemerhati pariwisata untuk menyusun event berdasarkan karakter dan keunikan lokal. Format kegiatan tidak semestinya sekadar meniru daerah lain, melainkan perlu mengangkat budaya, lanskap, komunitas, dan potensi olahraga setempat. Berbagai tantangan tersebut diharapkan masuk dalam desain besar pengembangan industri olahraga sekaligus menjadi dasar penguatan kolaborasi. Menurut Widiyanti, desain besar itu diharapkan memperkuat posisi sports tourism sebagai salah satu motor pertumbuhan pariwisata Indonesia dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

