Kabupaten Sumedang, Radarnusantara.net ,–Mengamalkan amaliyah yang diwariskan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani serta amanah dari Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) radiyallahu ‘anhu merupakan kunci utama untuk meraih keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (LDTQN) Sumedang, Dr. H. R. Asep Hamdan Munawar, S.Ag., M.S.I., dalam hidmat Ilmiah Manaqiban Syekh Sulthan Auliya Abdul Qodir Jaelani,QS yang berlangsung di Gedung Yayasan Serba Bakti (YSB) Perwakilan Sumedang, Minggu (13/9).
Dalam tausiyahnya, Dr. Asep menegaskan pentingnya menjaga hati dari penyakit iri dan dengki. Ketika melihat orang lain dilimpahi harta benda, kita tidak perlu merasa iri. Boleh jadi kelimpahan tersebut merupakan istidraj—suatu bentuk pembiaran dari Allah SWT atas kelalaian hambanya.
“Pesan yang tercantum dalam Tanbih bimbingan Amaliyah Pondok Pesantren Suryalaya ini hendaknya benar-benar diamalkan oleh seluruh ikhwan dan akhwat. Dengan konsisten menjalankannya, insyaAllah kita akan diakui sebagai murid dari Pangersa Abah Anom,” tutur Dr. Asep.
Panggilan Bersegera Menuju Ampunan Allah SWT,
Mengutip QS. Ali ‘Imran ayat 133, ia mengingatkan jamaah untuk selalu berpacu dalam kebaikan:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Pentingnya ketaatan ini juga dipertegas dalam ayat 132, yang mengajak umat Islam untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya agar memperoleh rahmat. Apalagi, Rasulullah SAW sendiri telah menyatakan kekhawatiran yang mendalam terhadap kondisi umatnya di akhir zaman.
Menjaga Kerukunan dan Menjauhi Korupsi
Lebih lanjut, Ketua LDTQN Sumedang mengajak jamaah untuk mendalami keteladanan Syekh Sulthan Auliya Abdul Qadir Al-Jailani radiyallahu ‘anhu, khususnya yang tertuang dalam Manqabah ke-51 dan ke-53.
Dalam Manqabah ke-51, beliau mewasiatkan kepada putranya, Syekh Abdul Razzaq, serta seluruh muridnya agar senantiasa bertakwa kepada Allah, tidak menggantungkan harapan kepada manusia, dan menjaga kesucian hati dari penyakit iri serta kesombongan.
Dalam Manqabah ke-53, dikisahkan detik-detik menjelang wafatnya Sang Wali Qutub. Bahkan di penghujung hayatnya, hati beliau tetap tenang dan penuh cinta hanya kepada Allah SWT, meninggalkan keteladanan bahwa kedamaian sejati tercapai saat kita menyerahkan seluruh jiwa raga kita kepada-Nya.
Keteladanan ini sejalan dengan amanah dalam Tanbih Suryalaya. Terhadap sesama manusia—terutama yang sederajat—kita dilarang keras saling berselisih, berebut pengaruh, atau saling menjatuhkan. Sebaliknya, yang harus kita hidupkan adalah sikap rendah hati, saling menghargai, serta bahu-membahu gotong-royong dalam menjalankan ajaran agama dan mematuhi aturan negara.
Jika kerukunan ini diabaikan, kita khawatir akan terperosok ke dalam adzaabun ‘aliim—siksa dan penderitaan batin berupa “badan payah, hati susah”. Hidup menjadi tidak tenang, penuh cemas, dan kehilangan arah di dunia hingga akhirat.
Di tengah maraknya berita korupsi yang menyeret oknum pejabat dari tingkat pusat hingga daerah, Dr. Asep mengingatkan agar ikhwan dan akhwat TQN Suryalaya tidak tergiur oleh harta dan kemewahan yang merusak. Benteng terbaik dari godaan korupsi dan kehancuran moral adalah dengan kembali pada ajaran TQN Suryalaya yang di amanahkan oleh mursyid: jaga kesucian hati, pererat silaturahmi, dan perbanyak kebaikan bagi sesama.
“Khususnya kepada seluruh ikhwan dan akhwat TQN Suryalaya Tasikmalaya, mari kita terus beribadah secara istiqamah. Dengan konsistensi untuk mengamalkan,Mengamankan dan Melestarikan Ajaran TQN Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya dan sehingga menjadi Ikhwan yang Cageur Bageur berakhlak Al-Karimah, sudah barang tentu kita akan diakui sebagai murid oleh Guru Mursyid,” pungkasnya.
Reporter : ( Errief )

