Jakarta | Mas Asmaoen lahir di Surakarta pada 1880 dan dikenal sebagai tokoh Indonesia pertama yang menyelesaikan pendidikan kedokteran di Belanda. Perjalanannya menuju profesi dokter berlangsung dalam situasi kolonial, ketika kesempatan memperoleh pendidikan tinggi bagi penduduk bumiputra masih sangat terbatas. Karena itu, keberhasilannya tidak hanya menandai pencapaian pribadi, tetapi juga memperlihatkan perubahan awal dalam akses pendidikan kedokteran bagi orang Indonesia. Latar pendidikan yang ditempuhnya di Hindia Belanda menjadi bekal penting sebelum ia melanjutkan studi ke Eropa.
Asmaoen menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, yang lebih dikenal dengan singkatan STOVIA. Lembaga tersebut merupakan sekolah dokter bagi bumiputra di Hindia Belanda, dan menjadi jalur pendidikan bagi calon tenaga medis setempat. STOVIA memberikan dasar pendidikan kedokteran kepada para siswanya, tetapi kesempatan mereka untuk memperoleh pengakuan dan kualifikasi yang setara dengan dokter Eropa tidak otomatis tersedia. Melanjutkan studi di Belanda menjadi langkah penting untuk memperluas pendidikan sekaligus meraih gelar kedokteran yang dipandang setara dengan gelar dokter orang Eropa.
Pada 1904, Dirk Fock, Menteri Urusan Daerah Jajahan, membuka kesempatan bagi lulusan STOVIA untuk melanjutkan pendidikan kedokteran di Belanda. Kebijakan ini memberi jalan bagi sejumlah lulusan bumiputra untuk belajar lebih lanjut dan memperoleh gelar yang diakui setara dengan kualifikasi dokter Eropa. Tiga peserta program tersebut adalah Abdul Rivai, Mas Boenjamin, dan Mas Asmaoen. Mereka melanjutkan studi di Universitas Amsterdam, sebuah kesempatan yang membawa pendidikan kedokteran mereka ke tahap berikutnya. Bagi Asmaoen, perjalanan dari STOVIA menuju universitas di Belanda merupakan bagian penting dari sejarah pendidikan dokter Indonesia. Jalur ini menunjukkan bahwa pendidikan kolonial, meskipun dibatasi oleh ketimpangan, dapat membuka ruang bagi sebagian bumiputra untuk mencapai kualifikasi profesional yang sebelumnya lebih mudah diakses oleh orang Eropa. Nama Asmaoen kemudian dikenang dalam konteks awal hadirnya dokter Indonesia dengan pendidikan tinggi di Belanda.
Pada 1908, Mas Asmaoen menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Universitas Amsterdam. Kelulusan tersebut menjadi pencapaian penting dalam perjalanan pendidikan seorang mahasiswa Indonesia pada masa kolonial. Di tiga peserta yang menempuh studi itu, Asmaoen tercatat lulus lebih dahulu. Urutan kelulusan ini menempatkannya pada posisi istimewa: ia menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi dokter. Fakta tersebut merupakan catatan sejarah mengenai hadirnya seorang dokter Indonesia dengan pendidikan kedokteran universitas di Eropa. Dengan demikian, tahun 1908 menandai titik penting dalam riwayat pendidikan dan awal karier Asmaoen, sekaligus memperlihatkan hasil studinya di Amsterdam.
Kelulusan Asmaoen yang lebih awal perlu dipahami dalam perbandingan dengan dua peserta lainnya, Abdul Rivai dan Mas Boenjamin. Keduanya menyelesaikan studi belakangan karena kesibukan masing-masing. Perbedaan waktu tersebut menjelaskan mengapa Asmaoen lebih dahulu meraih kelulusan di mereka. Catatan ini menegaskan urutan pencapaian akademik ketiga peserta tanpa mengaburkan arti penting keberhasilan Asmaoen. Ia menyelesaikan pendidikan pada 1908, sementara Rivai dan Boenjamin menuntaskan studi setelahnya. Karena itu, penyebutan Asmaoen sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi dokter bertumpu pada fakta bahwa kelulusannya mendahului dua peserta tersebut. Pencapaian ini menandai posisinya dalam sejarah pendidikan kedokteran Indonesia.
Setelah meraih kelulusan, Asmaoen memulai tahap awal kariernya dengan bekerja selama beberapa bulan di Institute of Naval and Tropical Medicine di Hamburg, Jerman. Masa kerja tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sesudah menyelesaikan pendidikan di Amsterdam. Informasi mengenai langkah ini memberi gambaran ringkas tentang urutan awal kariernya: pendidikan kedokteran, kelulusan pada 1908, lalu pekerjaan selama beberapa bulan di sebuah lembaga di Hamburg. Rangkaian itu menempatkan pencapaian akademiknya dalam konteks perjalanan yang berlanjut setelah lulus. Pendidikan Asmaoen di Universitas Amsterdam dan pengalaman kerja awal di Jerman merupakan dua tonggak yang tercatat dalam kisahnya. Keduanya menggambarkan capaian studi dan langkah profesional awalnya.
Setelah menempuh pendidikan kedokteran, Mas Asmaoen memperoleh jabatan sebagai perwira kesehatan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), tentara kerajaan Hindia Belanda. Pengangkatan ini merupakan pencapaian penting: ia menjadi orang Indonesia pertama yang menduduki posisi tersebut. Jabatan itu menempatkannya dalam lingkungan militer kolonial yang didominasi orang Eropa, sekaligus menunjukkan bahwa seorang bumiputra dapat meraih kedudukan profesional yang sebelumnya tidak lazim diberikan kepada orang Indonesia. Namun, keberhasilan formal tersebut tidak serta-merta membuatnya diterima sebagai bagian setara dari korps perwira KNIL.
Menurut sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600–1950 (2008), para perwira Belanda tidak bersedia menganggap Asmaoen sebagai rekan sejawat yang setara. Penolakan itu membatasi ruang geraknya dan membuat kariernya di KNIL kandas. Dengan demikian, pengangkatannya tidak dapat dipahami hanya sebagai kisah kemajuan pribadi. Di balik jabatan yang diraihnya, terdapat hierarki kolonial yang tetap menentukan siapa yang dianggap pantas menjadi bagian penuh dari lingkungan militer dan siapa yang terus ditempatkan sebagai orang luar.
Pengalaman Asmaoen memperlihatkan bahwa gelar dokter maupun pangkat perwira tidak cukup untuk menghapus pembedaan bumiputra dan orang Eropa. Dalam tatanan kolonial, asal-usul dan warna kulit tetap menjadi dasar perlakuan yang berbeda, bahkan ketika seseorang telah memenuhi kualifikasi pendidikan dan menjalankan tanggung jawab profesional. Karena itu, kedudukannya sebagai perwira kesehatan KNIL sekaligus menyingkap batas-batas integrasi yang diberlakukan oleh pemerintahan kolonial. Ia dapat diangkat ke jabatan tersebut, tetapi pencapaian itu tidak menjamin pengakuan sosial ataupun penerimaan sebagai sejawat. Kisah ini menunjukkan bagaimana diskriminasi kolonial membatasi kemajuan orang Indonesia, termasuk mereka yang telah mencapai prestasi dan kedudukan tinggi dalam institusi Belanda.
Setelah menghadapi berbagai hambatan dalam perjalanan kariernya, Mas Asmaoen dipindahkan ke Irian. Penugasan tersebut membawanya jauh dari lingkungan yang sebelumnya ia kenal dan menandai perubahan penting dalam kehidupannya. Namun, masa tinggalnya di sana tidak berlangsung tanpa kesulitan. Asmaoen kemudian jatuh sakit. Kondisi kesehatannya membuatnya meninggalkan wilayah tersebut dan kembali ke Belanda. Di sana ia menetap, sehingga kehidupannya berlanjut jauh dari Hindia Belanda dan tempat tugasnya di Irian. Rangkaian perpindahan ini memperlihatkan bagaimana perjalanan seorang dokter bumiputra pada masa kolonial dapat dipengaruhi bukan hanya oleh pekerjaan, melainkan juga oleh keadaan pribadi dan kesehatan. Catatan mengenai periode tersebut juga mengingatkan bahwa kepindahan ke Eropa bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi perubahan lingkungan sosial yang besar bagi Asmaoen.
Sejarawan Harry A. Poeze menjelaskan bahwa setelah lama tinggal di Eropa, Asmaoen menghadapi kesulitan tersendiri ketika kembali ke Hindia Belanda. Pengalaman sosial yang ia jumpai di sana berbeda dari kehidupan yang pernah ia kenal di Belanda. Di tanah jajahan, hubungan antarmanusia banyak ditentukan oleh warna kulit. Susunan sosial kolonial menempatkan identitas rasial sebagai penanda yang memengaruhi cara orang berhubungan dan memperlakukan satu sama lain. Karena itu, seseorang yang sebelumnya dapat bergaul dalam suasana berbeda mungkin mendapati bahwa ruang sosial di Hindia Belanda memiliki batas-batas yang lebih kuat. Keterangan Poeze menempatkan pengalaman Asmaoen dalam konteks ketimpangan kolonial, tanpa mengabaikan bahwa perpindahan dan masa tinggal yang panjang di Eropa turut membentuk cara ia memandang lingkungan sekitarnya.
Pengalaman Asmaoen di Belanda, menurut penjelasan Poeze, membuat perbedaan itu semakin terasa. Di Belanda, orang Indonesia dapat didekati dan diperlakukan sebagai pribadi, bukan semata-mata dinilai berdasarkan warna kulit atau kedudukan dalam tatanan kolonial.
Baca juga: Persija Jakarta Raih Tiga Kemenangan Beruntun untuk Pertama Kalinya | Kebakaran Hutan dan Lahan: Tindakan Besar untuk Menghadapi Ancaman Asap | Menghadapi Duel Klasik: Seruan Gubernur untuk Suporter Persija dan Persib






