Jakarta | PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyalurkan pembiayaan hampir Rp350 triliun kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sepanjang 2026. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan informasi tersebut dalam Agrifood Forum 2026 pada Senin, 19 Oktober. Angka itu menggambarkan dukungan BRI terhadap UMKM secara keseluruhan, bukan jumlah pembiayaan yang khusus dialokasikan untuk sektor pangan.
Di dalam dukungan bagi pelaku usaha tersebut, BRI juga mengarahkan pembiayaan untuk memperkuat ekosistem pangan. Cakupannya termasuk usaha peternakan dan perikanan, yang berperan dalam rantai pasok sumber protein. Arah ini berkaitan dengan upaya menopang swasembada protein, sekaligus membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk berkontribusi dalam produksi dan penyediaan pangan.
Pembedaan total pembiayaan UMKM dan pembiayaan di sektor pangan penting untuk memahami skala dukungan secara tepat. Nilai hampir Rp350 triliun merujuk pada penyaluran kepada UMKM sepanjang 2026. Sementara itu, informasi yang disampaikan dalam forum tersebut menegaskan bahwa ekosistem pangan menjadi salah satu sasaran pembiayaan, tanpa menyebutkan angka khusus untuk peternakan, perikanan, atau seluruh usaha terkait pangan.
Penyaluran pembiayaan kepada UMKM dapat mendukung beragam kegiatan usaha, sedangkan fokus pada rantai pasok pangan menghubungkan akses modal dengan kebutuhan produksi dan distribusi. Dalam konteks peternakan dan perikanan, pembiayaan dapat menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan usaha yang menyuplai protein. Namun, dampaknya terhadap swasembada bergantung pada banyak faktor, termasuk kapasitas pelaku usaha, kelancaran rantai pasok, serta kesinambungan produksi.
Pernyataan BRI di Agrifood Forum 2026 menempatkan pembiayaan UMKM dalam dua konteks yang saling berkaitan, tetapi tidak identik: dukungan luas bagi pelaku usaha dan perhatian pada ekosistem pangan. Dengan demikian, angka penyaluran hampir Rp350 triliun memberikan gambaran mengenai skala pembiayaan UMKM, sementara arah ke pangan menunjukkan salah satu bidang yang dinilai strategis untuk mendukung pasokan protein nasional.
Akhmad menekankan bahwa pembiayaan pangan perlu dirancang untuk menjangkau seluruh rantai pasok, bukan hanya kegiatan produksi di tingkat awal. Setiap pelaku memiliki kebutuhan usaha yang berbeda, bergantung pada posisi dan aktivitasnya dalam rantai tersebut. Karena itu, dukungan keuangan perlu mengikuti alur komoditas sejak penyediaan sarana produksi, pengolahan, hingga penyaluran kepada konsumen. Pendekatan menyeluruh ini membantu memastikan bahwa peningkatan kapasitas di satu tahap dapat tersambung dengan ketersediaan dukungan pada tahap berikutnya.
Di sisi hulu, petani, peternak, dan pelaku budidaya membutuhkan dana untuk memperoleh bibit, benih, pakan, serta sarana produksi lain. Pembiayaan juga dapat mendukung peningkatan kapasitas produksi, termasuk pemenuhan kebutuhan operasional yang muncul selama proses usaha. Karakter kebutuhan pada tahap ini berkaitan erat dengan siklus produksi dan waktu panen atau pemeliharaan. Oleh sebab itu, skema dukungan perlu mempertimbangkan arus kas dan jangka waktu yang sesuai, agar pelaku usaha memiliki ruang untuk menjalankan kegiatan hingga menghasilkan produk.
Setelah bahan pangan tersedia, industri pengolahan memerlukan pembiayaan untuk investasi peralatan dan fasilitas, pengemasan, serta modal kerja. Kebutuhan tersebut dapat mencakup pengadaan bahan baku, pembayaran biaya operasional, dan upaya menjaga kelancaran proses produksi. Sementara itu, pada sisi hilir, distributor dan pedagang membutuhkan dukungan untuk mengelola penyaluran produk. Modal untuk persediaan barang menjadi salah satu kebutuhan penting, terutama agar stok dapat tersedia sesuai permintaan pasar. Dengan demikian, pembiayaan tidak dapat disamaratakan: pelaku produksi, pengolah, distributor, dan pedagang menghadapi kebutuhan, siklus usaha, serta penggunaan dana yang berbeda. Memahami perbedaan itu memungkinkan dukungan bagi UMKM pangan lebih tepat sasaran dan membantu menjaga kesinambungan pasokan dari produsen hingga konsumen.
Akhmad menjelaskan bahwa sejak 2015 BRI telah menyalurkan pembiayaan sekitar Rp1.600 triliun. Dari total tersebut, sekitar 75 persen mengalir kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Besarnya porsi ini menunjukkan peran UMKM dalam arah pembiayaan bank, sekaligus menggambarkan pentingnya dukungan terhadap kegiatan usaha yang menopang kebutuhan masyarakat. Penyaluran tersebut juga mencakup pembiayaan untuk berbagai sektor produktif, termasuk bidang yang berkaitan langsung dengan pasokan pangan.
Sekitar 44 persen dari pembiayaan yang disebutkan berkaitan dengan sektor pertanian dan perikanan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan protein. Keterkaitan ini mencakup kegiatan usaha dari hulu hingga hilir, seperti produksi bahan pangan, budidaya, penangkapan ikan, serta pengolahan hasilnya. Pembiayaan pada sektor-sektor tersebut dapat membantu menjaga kelangsungan kegiatan usaha dan mendukung rantai pasok pangan. Namun, penyaluran dana tidak hanya bergantung pada besarnya kebutuhan modal; bank juga perlu memahami bagaimana usaha dan para pelakunya saling terhubung.
Karena itu, ekosistem usaha yang jelas menjadi salah satu prasyarat penting. Di dalamnya terdapat pelaku utama atau anchor yang memiliki hubungan dengan industri pengolahan dan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok. Anchor dapat berperan menghubungkan kegiatan produksi dengan kebutuhan bahan baku maupun penyerapan hasil. Sementara itu, industri pengolahan dan UMKM menjalankan fungsi masing-masing dalam menghasilkan, mengolah, atau memasok produk. Keterhubungan yang teridentifikasi membantu menunjukkan alur usaha secara lebih utuh.
Bagi bank, gambaran tersebut mendukung penilaian atas kelayakan usaha dan proses underwriting. Informasi mengenai pihak-pihak yang terlibat, hubungan transaksi, serta pergerakan produk memberi konteks untuk menilai kegiatan ekonomi yang akan dibiayai. Dengan demikian, pembiayaan dapat dipertimbangkan berdasarkan ekosistem yang nyata, bukan hanya pada kebutuhan modal satu pelaku secara terpisah. Pendekatan ini relevan bagi UMKM di sektor pangan dan protein, karena keberlanjutan usahanya sering terkait dengan pemasok, pengolah, pembeli, dan pelaku utama dalam rantai pasok.
Menurut Akhmad, peran perbankan dalam pembiayaan UMKM tidak terbatas pada penyaluran dana. Bank memiliki tujuan ekonomi sekaligus sosial: menjaga keberlanjutan bisnis agar kegiatan usaha dapat tumbuh secara sehat, serta mendorong pemberdayaan pelaku usaha melalui pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kedua tujuan tersebut perlu berjalan beriringan. Pembiayaan yang memperhatikan kelayakan dan kemampuan usaha dapat mendukung kinerja bank, sementara dukungan yang tepat membantu UMKM memperkuat kapasitas, memperluas pasar, dan berkontribusi pada kegiatan ekonomi masyarakat.
Pendekatan itu memungkinkan bank mempertimbangkan pembiayaan sejak tahap awal usaha, bukan hanya ketika bisnis telah berkembang. Syaratnya, kebutuhan pendanaan dan risiko dapat dipetakan dengan jelas. Pemetaan tersebut mencakup karakter usaha, kebutuhan modal, potensi pasar, serta tantangan yang mungkin muncul dalam proses produksi dan penjualan. Dengan memahami kondisi pelaku usaha sejak awal, bank dapat menilai bentuk dukungan yang relevan dan merancang pendampingan yang lebih terarah. Langkah ini juga memberi ruang bagi UMKM untuk membangun praktik usaha yang lebih tertata, sehingga hubungan pembiayaan tidak berhenti pada transaksi kredit semata.
Pembahasan pembiayaan dapat melihat keseluruhan rantai pasok, dari hulu hingga hilir. Dalam sektor pangan dan protein, rantai tersebut melibatkan berbagai kegiatan, mulai dari penyediaan input dan produksi sampai pengolahan, distribusi, dan perdagangan. Memahami keterhubungan antarbagian membantu bank mengidentifikasi kebutuhan usaha sekaligus risiko yang menyertai setiap tahap. Pendekatan menyeluruh ini penting agar dukungan pembiayaan tidak hanya menjangkau satu titik, tetapi dapat mempertimbangkan pelaku UMKM yang terlibat di berbagai bagian rantai pasok. Untuk memperkuat jangkauan tersebut, BRI memiliki sekitar 30 ribu tenaga pemasaran di lapangan. Mereka memiliki spesialisasi pada bidang peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan, sehingga dapat berinteraksi lebih dekat dengan pelaku usaha sesuai karakter sektornya. Informasi mengenai hal ini disampaikan dalam konteks Agrifood Forum 2026 bertajuk “Swasembada Protein”; tidak terdapat rincian tambahan mengenai forum tersebut.





