BMKG: Angin Timuran Dominasi Indonesia, Kekeringan Meteorologis Meluas

BMKG: Angin Timuran Dominasi Indonesia, Kekeringan Meteorologis Meluas

Kabupaten Bantul | BMKG mengonfirmasi bahwa El Niño berintensitas sangat kuat masih berlangsung. Informasi ini disampaikan berdasarkan pemantauan dinamika iklim yang mencakup sejumlah indikator, termasuk kondisi suhu permukaan laut dan indeks iklim di kawasan Samudra Hindia serta Pasifik. Dalam hasil pemantauan dasarian II Oktober 2026, BMKG mencatat indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian sebesar 0,765. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai 0,72 yang tercatat pada September. Perbedaan ini menggambarkan perubahan nilai indeks dua periode pemantauan yang disebutkan.

Pada periode dasarian II Oktober 2026 yang sama, anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai 3,19. BMKG juga mencatat indeks ENSO tiga bulanan sebesar 3,05 untuk periode Agustus–September–Oktober. Kedua angka tersebut merupakan bagian dari rangkaian data yang digunakan dalam pemantauan kondisi iklim. Penyebutan nilai dan periode ini membantu menunjukkan indikator yang menjadi perhatian dalam laporan BMKG, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan tambahan mengenai dampak atau perkembangan iklim di luar informasi yang disampaikan.

Dengan demikian, pembaruan BMKG memuat beberapa catatan utama: El Niño sangat kuat masih berlangsung, indeks IOD dasarian pada dasarian II Oktober tercatat 0,765 setelah berada di 0,72 pada September, anomali suhu permukaan laut Niño 3.4 mencapai 3,19, dan indeks ENSO tiga bulanan untuk Agustus–September–Oktober berada pada 3,05. Seluruh nilai tersebut merujuk pada hasil pemantauan yang disampaikan BMKG. Angka-angka itu perlu dibaca sesuai jenis indikator dan rentang waktunya masing-masing, karena indeks IOD dasarian, anomali suhu permukaan laut, serta indeks ENSO tiga bulanan merupakan catatan yang berbeda dalam pemantauan dinamika iklim.

Dalam analisis dinamika atmosfer untuk dasarian II Oktober 2026, yang dirilis pada Jumat, 23 Oktober 2026, BMKG mencatat bahwa aliran massa udara di sebagian besar wilayah Indonesia didominasi angin timuran. Pola ini menunjukkan udara bergerak dari arah timur dan menjadi salah satu kondisi atmosfer yang memengaruhi pembentukan awan serta peluang hujan. Pada periode tersebut, belokan angin terpantau di sekitar Maluku Utara. Keberadaan belokan di wilayah itu menjadi ciri setempat di tengah dominasi angin timuran yang lebih luas di kawasan Indonesia.

Untuk dasarian berikutnya, BMKG memperkirakan angin timuran masih akan aktif. Berbeda dari kondisi pada dasarian II, prakiraan tersebut tidak menunjukkan adanya belokan angin maupun pertemuan angin di sekitar Indonesia. Dengan demikian, pola aliran udara diperkirakan berlangsung tanpa zona konvergensi atau pertemuan yang dapat mendukung pengangkatan massa udara secara lokal. Informasi ini merupakan gambaran dinamika atmosfer untuk periode prakiraan, bukan kepastian bahwa kondisi cuaca akan seragam di setiap daerah. Perubahan cuaca setempat tetap dapat dipengaruhi oleh faktor atmosfer lain.

BMKG menyebut wilayah yang dilalui kondisi angin tersebut cenderung mengalami cuaca kering dan cerah, dengan pembentukan awan hujan yang minim. Minimnya awan hujan dapat membatasi peluang terjadinya hujan selama pola itu bertahan, sehingga masyarakat perlu mencermati informasi cuaca dan pembaruan prakiraan untuk wilayah masing-masing. Kondisi cerah juga tidak berarti seluruh daerah pasti bebas hujan, karena variasi lokal masih mungkin terjadi. Namun, secara umum, dominasi angin timuran tanpa belokan atau pertemuan angin pada dasarian berikutnya mengarah pada atmosfer yang kurang mendukung pembentukan awan hujan di sekitar Indonesia. Pemantauan berkala tetap diperlukan agar perkembangan pola angin dan potensi hujan dapat diikuti sesuai pembaruan BMKG.

Analisis BMKG pada dasarian II Oktober 2026 menunjukkan Madden-Julian Oscillation (MJO) berada dalam kondisi tidak aktif di fase 2, di sebelah barat Samudra Hindia. MJO merupakan salah satu fenomena atmosfer yang dapat memengaruhi pembentukan awan dan hujan di wilayah tropis. Ketika aktivitasnya lemah atau tidak aktif, dukungan fenomena ini terhadap pertumbuhan awan hujan di sejumlah kawasan dapat berkurang. Namun, kondisi MJO perlu dibaca bersama dinamika atmosfer lainnya dan tidak dengan sendirinya menentukan cuaca di setiap wilayah.

BMKG memprakirakan kondisi tidak aktif pada fase 2 dan fase 3 di kawasan Samudra Hindia akan bertahan hingga pertengahan dasarian III Oktober 2026. Perkiraan tersebut sejalan dengan kondisi atmosfer yang menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan yang kurang. Dengan demikian, peluang terbentuknya hujan dapat terbatas di banyak daerah, meskipun variasi cuaca setempat tetap mungkin terjadi. Pemantauan prakiraan cuaca dan peringatan dini setempat tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air atau kegiatan luar ruang.

Dari sisi suhu, rata-rata suhu permukaan pada dasarian II Oktober diprakirakan berada pada kisaran 25–28 derajat Celsius. BMKG memperkirakan kisaran itu meningkat menjadi 26–31 derajat Celsius hingga dasarian I November 2026. Adapun suhu minimum diprakirakan berkisar 23–29 derajat Celsius, sedangkan suhu maksimum dapat mencapai 33–39 derajat Celsius. Rentang tersebut menggambarkan variasi kondisi antardaerah; suhu yang dialami suatu lokasi dapat berbeda menurut waktu, tutupan awan, dan keadaan cuaca setempat.

Untuk periode November 2026 hingga April 2027, suhu maksimum bulanan diprakirakan berada pada kisaran 26–38 derajat Celsius. Proyeksi ini memberi gambaran mengenai potensi suhu maksimum selama beberapa bulan ke depan, bukan angka yang seragam untuk seluruh wilayah Indonesia. Perbedaan kondisi lokal membuat masyarakat sebaiknya merujuk informasi BMKG yang lebih spesifik untuk wilayah masing-masing. Perhatian terhadap suhu tinggi dan terbatasnya pertumbuhan awan hujan juga relevan dalam perencanaan kegiatan harian serta pengelolaan kebutuhan air, terutama di wilayah yang sedang mengalami kondisi kering.

BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian III Oktober, dengan tingkat peringatan yang mencakup kategori hingga awas. Informasi tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah, pengelola sumber daya air, sektor pertanian, serta masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air. Dalam bahan peringatan, wilayah kabupaten dan kota disebutkan dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama mencakup Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Papua Selatan. Kelompok berikutnya mencakup Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, serta Papua Selatan. Daftar ini menunjukkan sebaran wilayah yang perlu mencermati risiko berkurangnya hujan.

Kelompok lainnya meliputi Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Selatan. Nama-nama tersebut disampaikan sebagai daftar wilayah menurut kelompok peringatan; tanpa rincian pemetaan kategori untuk setiap daerah, daftar itu tidak dapat digunakan untuk menetapkan tingkat tertentu pada kabupaten atau kota. Karena itu, warga dan pemangku kepentingan sebaiknya merujuk pada pembaruan resmi BMKG serta memperhatikan kondisi setempat. Peringatan dini membantu mendorong langkah antisipasi, termasuk pengelolaan cadangan air dan penyesuaian kegiatan yang sensitif terhadap curah hujan.

Catatan hari tanpa hujan (HTH) pada dasarian II Oktober 2026 menunjukkan rentang kondisi di Indonesia dari kategori sangat pendek hingga ekstrem panjang. HTH terpanjang tercatat selama 171 hari di Pos Hujan BPP Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. BMKG juga mencatat HTH panjang di 329 titik pengamatan, kategori sangat panjang di 391 titik, dan kategori ekstrem panjang di 1.707 titik.

Baca juga: Dominasi Turnamen Sepak Bola di Jakarta dan Yogyakarta | Warga Jakarta Dihimbau Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran | Antisipasi Kekeringan: DPRD Jakarta Dorong Tindakan Cepat