Jakarta | Saudi Aramco tengah menjajaki kemungkinan memonetisasi sebagian aset real estatnya untuk menghimpun dana sedikitnya US miliar. Dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, target tersebut setara sekitar Rp160 triliun. Rencana ini menempatkan portofolio properti perusahaan energi milik negara Arab Saudi itu sebagai salah satu sumber pendanaan potensial, di tengah upaya mengoptimalkan nilai aset yang dimiliki.
Namun, angka US$10 miliar tersebut masih merupakan target dalam tahap penjajakan, bukan nilai transaksi yang telah disepakati atau dana yang sudah berhasil dihimpun. Aramco belum memastikan besaran akhir yang dapat diperoleh dari langkah tersebut. Perusahaan juga belum menetapkan properti mana yang mungkin masuk dalam skema monetisasi maupun kapan prosesnya akan dilaksanakan. Karena itu, nilai dalam rupiah perlu dipahami sebagai perkiraan berdasarkan kurs yang digunakan, bukan valuasi resmi atas aset tertentu.
Penjajakan monetisasi dapat melibatkan berbagai pilihan, mulai dari penjualan aset hingga pengaturan investasi yang memungkinkan perusahaan tetap menggunakan properti tertentu. Akan tetapi, belum ada rincian yang memastikan bentuk transaksi yang akan dipilih. Setiap opsi dapat menghasilkan nilai dan jadwal yang berbeda, bergantung pada aset yang dipertimbangkan, minat calon investor, serta kesepakatan komersial yang dicapai. Sampai ada pengumuman lebih lanjut, detail tersebut masih terbuka.
Ketidakpastian juga berlaku pada kemungkinan aset strategis yang akan disertakan. Kantor pusat Aramco di Dhahran disebut ikut dipertimbangkan dalam pembahasan, tetapi penyebutan itu belum berarti gedung tersebut telah diputuskan untuk dijual atau dialihkan. Belum ada konfirmasi mengenai struktur transaksi, hak penggunaan setelah transaksi, ataupun dampaknya terhadap kegiatan perusahaan. Dengan demikian, rencana ini sebaiknya dibaca sebagai eksplorasi awal, bukan keputusan final untuk melepas kantor pusat.
Besaran target menunjukkan skala ambisi Aramco dalam mencari nilai dari aset properti, tetapi pelaksanaannya masih bergantung pada hasil evaluasi dan negosiasi. Untuk saat ini, perusahaan belum mengumumkan daftar aset, nilai transaksi yang pasti, atau tenggat penyelesaian. Informasi mengenai ketiga unsur itu akan menentukan seberapa dekat penjajakan tersebut dengan realisasi, serta apakah dana yang dihimpun nantinya mencapai target sedikitnya US$10 miliar yang telah disebutkan.
Skema sale-and-leaseback menjadi salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan Aramco untuk memonetisasi aset properti, termasuk bangunan yang mendukung kegiatan bisnisnya. Dalam skema ini, perusahaan menjual suatu properti kepada investor, kemudian menyewa kembali aset yang sama. Dengan demikian, kepemilikan bangunan berpindah kepada pembeli, tetapi Aramco tetap dapat menggunakannya berdasarkan perjanjian sewa. Kantor pusat perusahaan di Dhahran disebut ikut masuk dalam pertimbangan, meski belum ada keputusan akhir mengenai aset yang akan terlibat maupun bentuk transaksi yang akan dipilih.
Bagi perusahaan, pendekatan tersebut dapat membuka akses terhadap dana yang sebelumnya tertanam dalam aset yang dimiliki. Hasil penjualan berpotensi digunakan untuk kebutuhan perusahaan atau dialokasikan sesuai prioritas bisnis, sementara kegiatan operasional di lokasi terkait dapat terus berjalan. Aramco tidak harus langsung meninggalkan bangunan penunjang atau memindahkan fungsi kerja hanya karena kepemilikan properti dialihkan. Namun, manfaat praktisnya akan bergantung pada rincian kesepakatan, termasuk nilai transaksi, durasi sewa, biaya yang ditanggung masing-masing pihak, serta ketentuan penggunaan aset.
Aramco dilaporkan telah mengadakan pembicaraan awal dengan pihak-pihak terkait dan bekerja sama dengan penasihat untuk mengeksplorasi peluang transaksi. Tahap tersebut menunjukkan bahwa perusahaan sedang mengkaji kemungkinan dan struktur yang dapat diterapkan, bukan bahwa penjualan telah disepakati atau resmi diluncurkan. Pembahasan awal dapat membantu perusahaan menilai kelayakan aset, minat pasar, dan persyaratan yang perlu dipenuhi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Karena itu, rincian mengenai calon pembeli, harga, maupun jadwal transaksi belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.
Investor, termasuk dana yang berfokus pada real estat dan infrastruktur, berpotensi tertarik pada aset dengan penggunaan jangka panjang serta penyewa korporasi yang tetap menempatinya. Bagi investor, pemasukan sewa dapat menjadi bagian dari daya tarik, sedangkan bagi Aramco, skema ini dapat mengubah sebagian nilai properti menjadi dana tanpa segera mengganggu pemanfaatannya. Meski demikian, minat tersebut masih berupa potensi dan belum menunjukkan adanya komitmen investasi. Keputusan akhirnya akan bergantung pada hasil kajian, kondisi pasar, serta kesepakatan komersial yang dapat diterima kedua belah pihak.
Salah satu aset yang disebut masuk dalam pertimbangan Aramco untuk dimonetisasi adalah kompleks kantor pusat perusahaan di Dhahran, Provinsi Timur, Arab Saudi. Kompleks tersebut merupakan bagian dari portofolio properti yang tengah ditinjau, seiring perusahaan mengevaluasi cara mengoptimalkan nilai aset dan membuka peluang pendapatan. Namun, pencantuman kantor pusat Dhahran dalam pembahasan itu belum berarti Aramco telah memutuskan untuk menjual, menyewakan, atau mengalihkan kepemilikan kompleks. Rincian mengenai bentuk transaksi, cakupan aset, maupun jadwal pelaksanaannya juga belum dipastikan. Karena itu, statusnya perlu dipahami sebagai opsi yang sedang dipertimbangkan, bukan transaksi yang telah disepakati ataupun pengumuman resmi bahwa kompleks tersebut akan dilepas.
Secara terpisah, kompleks itu dilaporkan terdampak serangan rudal kelompok Houthi dari Yaman pada 13 Oktober 2026. Menurut laporan yang beredar, serangan tersebut memicu kebakaran yang kemudian menjalar ke sejumlah lantai gedung. Informasi mengenai dampak itu berkaitan dengan insiden keamanan dan kondisi bangunan, bukan dengan keputusan bisnis Aramco mengenai monetisasi properti. Tingkat kerusakan, dampaknya terhadap kegiatan kantor, serta langkah penanganan setelah kejadian perlu merujuk pada keterangan terverifikasi dari pihak berwenang atau perusahaan. Pemisahan konteks ini penting agar laporan tentang serangan tidak keliru diperlakukan sebagai konfirmasi atas perubahan kepemilikan atau rencana penjualan aset.
Dengan demikian, terdapat dua hal berbeda yang perlu dicermati: laporan mengenai insiden di Dhahran dan kajian Aramco atas kemungkinan monetisasi sejumlah properti. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa serangan tersebut menyebabkan perusahaan memasukkan kompleks kantor pusat ke dalam pertimbangan, atau bahwa kondisi gedung menjadi alasan untuk melepasnya. Rencana monetisasi masih belum final, dan keputusan akhirnya dapat bergantung pada penilaian komersial, operasional, serta persetujuan internal. Sampai Aramco mengumumkan langkah yang lebih konkret, kompleks Dhahran sebaiknya disebut sebagai aset yang dipertimbangkan, bukan properti yang sudah dipastikan akan dijual. Perkembangan kedua isu pun perlu diikuti melalui pembaruan yang dapat dikonfirmasi secara independen.
Pada Kamis, 22 Oktober 2026, Aramco meminta karyawan mengosongkan kantor pusatnya di Dhahran dan melanjutkan pekerjaan dari rumah. Langkah tersebut dilakukan setelah kompleks kantor itu dilaporkan terdampak serangan. Informasi mengenai pengosongan gedung menjadi perhatian karena kantor pusat di Dhahran merupakan salah satu lokasi penting bagi perusahaan energi asal Arab Saudi tersebut. Namun, laporan yang tersedia tidak menyebutkan secara terperinci bagian kompleks yang terdampak, tingkat kerusakan, ataupun jumlah karyawan yang menerima instruksi untuk bekerja dari rumah. Karena itu, situasi di lokasi perlu dipahami sebatas informasi yang telah dilaporkan, tanpa menambahkan dugaan mengenai dampak lebih luas.
Gedung kantor pusat dilaporkan mengalami kerusakan akibat insiden tersebut. Meski demikian, aktivitas operasional Aramco disebut tetap berjalan. Keterangan mengenai operasional yang berlanjut menunjukkan bahwa pengosongan kantor tidak serta-merta berarti kegiatan perusahaan dihentikan. Karyawan dapat menjalankan tugas dari rumah, sementara informasi yang beredar menyatakan operasi perusahaan tetap berlangsung. Belum ada rincian yang dapat memastikan apakah seluruh fungsi kantor berjalan dengan pola kerja yang sama, berapa lama pengaturan tersebut diterapkan, atau kapan karyawan akan kembali ke kompleks Dhahran.






