JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kebiasaan memilah sampah dari rumah mulai menjadi bagian dari keseharian warga Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Sebelum dibuang, sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya agar dapat ditangani sesuai karakter masing-masing. Sampah organik, seperti sisa makanan dan bahan dapur, dikumpulkan secara terpisah dari sampah nonorganik, termasuk plastik, botol, serta kemasan. Langkah sederhana ini membantu mengurangi volume sampah yang dibawa ke tempat penampungan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan di sekitar permukiman.
Pengelolaan tersebut tidak hanya bergantung pada kebiasaan perorangan, tetapi juga didorong melalui gerakan bersama di tingkat kelurahan. Upaya itu diperkuat dengan penyelenggaraan Festival Pilah dan Olah Sampah pada Selasa, 6 Oktober. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan cara memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah kepada masyarakat. Warga didorong untuk memahami bahwa pengurangan sampah dapat dimulai dari rumah melalui tindakan yang konsisten, kemudian dilanjutkan dengan pengelolaan berbasis lingkungan dan partisipasi komunitas.
Gerakan itu juga berkaitan dengan upaya Malaka Sari mengikuti lomba Benyamin S Award yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam ajang tersebut, kepedulian warga terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan menjadi bagian penting dari penilaian. Esther, salah seorang warga, menceritakan bahwa sampah dapur telah dipisahkan sejak awal. Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat isi tong sampah menjadi lebih sedikit karena sampah sudah terbagi organik dan nonorganik. Pengalaman itu menunjukkan bahwa pemilahan tidak harus dimulai melalui cara yang rumit. Dengan menyediakan wadah berbeda dan membangun kebiasaan secara berkelanjutan, setiap keluarga dapat berkontribusi mengurangi timbulan sampah serta menciptakan lingkungan Malaka Sari yang lebih bersih, tertata, dan sehat.
Setelah warga melakukan pemilahan dari rumah, setiap jenis sampah mengikuti sistem pengelolaan yang berbeda. Pemisahan ini menjadi dasar agar sampah tidak tercampur kembali dan dapat ditangani oleh pihak yang bertanggung jawab. Sampah organik, sampah residu atau nonorganik, serta minyak jelantah ditempatkan dalam alur pengolahan masing-masing sesuai karakteristiknya.
Sampah residu atau nonorganik yang sudah dipisahkan diangkut oleh petugas yang bertanggung jawab mengambilnya dari rumah-rumah warga. Pengangkutan tersebut memastikan sampah yang tidak diolah secara mandiri oleh warga tetap memiliki jalur penanganan yang jelas. Dengan demikian, warga tidak mencampurkan kembali residu atau sampah nonorganik dengan sampah organik yang akan diolah di lingkungan rumah.
Berbeda dari sampah residu atau nonorganik, sampah organik diolah secara mandiri oleh warga menjadi kompos. Pengolahan ini dilakukan dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan kompos, sehingga jenis sampah tersebut tidak langsung masuk ke dalam alur pengangkutan petugas. Pembagian peran ini membuat warga terlibat langsung dalam pengelolaan sampah sejak dari rumah, sekaligus memperjelas perbedaan penanganan sampah organik dan sampah residu atau nonorganik.
Minyak jelantah juga memiliki alur tersendiri dan tidak langsung dibuang. Minyak bekas memasak tersebut dikumpulkan terlebih dahulu untuk kemudian diolah kembali menjadi sabun. Karena dipisahkan dari sampah lain, minyak jelantah dapat ditangani secara khusus tanpa tercampur dengan sampah organik maupun residu. Sabun yang dihasilkan dari pengolahan minyak jelantah kemudian ditampilkan dalam Festival Pilah dan Olah Sampah. Penampilan tersebut memperlihatkan hasil nyata dari kebiasaan memilah sekaligus menunjukkan bahwa minyak jelantah yang dikumpulkan dapat diolah menjadi produk yang diperkenalkan kepada masyarakat.
Bank Sampah Asri menjadi salah satu tempat warga menyalurkan sampah nonorganik yang masih memiliki nilai ekonomi. Sampah plastik, botol, kemasan, dan berbagai material nonorganik lainnya dapat dikumpulkan sebelum diserahkan kepada bank sampah. Mekanisme yang diterapkan menyerupai kegiatan menabung. Warga membawa sampah yang telah dikumpulkan, kemudian petugas menimbang dan mencatat nilainya ke dalam catatan tabungan. Dengan cara ini, sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dihimpun secara teratur dan memiliki nilai dalam bentuk saldo bagi pemiliknya.
Besarnya uang yang dapat diperoleh bergantung pada jumlah sampah yang dikumpulkan dan disetorkan. Semakin banyak sampah nonorganik yang berhasil dikumpulkan, semakin besar pula nilai tabungan yang tercatat. Pola tersebut membuat kegiatan memilah sampah terasa lebih dekat dengan kebutuhan rumah tangga, karena warga tidak hanya mengurangi sampah di lingkungan sekitar, tetapi juga menyimpan hasilnya untuk diambil sesuai keperluan. Bank Sampah Asri menyediakan ruang bagi proses itu berlangsung, dengan menampung material yang telah dipilah oleh warga dari rumah.
Pengalaman Esther menunjukkan manfaat langsung dari mekanisme tersebut. Ia pernah menerima Rp750 ribu dari hasil menabung sampah di Bank Sampah Asri. Dana itu dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk jajan anak-anak dan memenuhi keperluan rumah tangga. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemilahan sampah dapat menghasilkan manfaat yang dirasakan secara langsung oleh keluarga, tanpa mengubahnya menjadi sumber penghasilan rutin yang pasti. Bagi warga, setiap setoran menjadi bagian dari kebiasaan mengumpulkan sampah sekaligus kesempatan untuk memperoleh nilai ekonomi dari material yang telah dipisahkan.
Menurut keterangan Sere, gagasan pembentukan bank sampah di Malaka Sari mulai muncul pada 2009. Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk membangun kepedulian warga terhadap persoalan sampah sekaligus mendorong kebiasaan menjaga lingkungan dari rumah. Pada tahap awal, pembicaraan mengenai pengelolaan sampah menjadi landasan untuk mengajak masyarakat melihat sampah bukan semata-mata sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan juga sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 2010, ketika Malaka Sari mengikuti perlombaan lingkungan. Melalui kegiatan tersebut, warga memperoleh pelatihan yang memperkaya pemahaman mengenai penataan dan pengelolaan lingkungan. Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk mengajak berbagai kelompok masyarakat berpartisipasi, sehingga gerakan lingkungan tidak hanya bergantung pada segelintir orang. Keterlibatan kelompok-kelompok warga memperluas dukungan dan memperkuat upaya membangun lingkungan yang lebih tertata.
Pada 2011, bank sampah akhirnya dibentuk secara mandiri. Sarana yang digunakan masih sederhana, dengan memanfaatkan barang-barang yang tersedia dan sumbangan dari warga. Pada tahun yang sama, kebiasaan memilah sampah mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Praktik tersebut memang belum menjangkau seluruh warga, tetapi perlahan membentuk kesadaran baru tentang pentingnya memisahkan sampah sejak dari sumbernya. Karena kebiasaan itu telah lebih dahulu tumbuh, warga Malaka Sari tidak merasa terkejut ketika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan aturan yang mewajibkan pemilahan sampah.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa gerakan lingkungan di Malaka Sari berkembang secara bertahap melalui inisiatif, pembelajaran, dan partisipasi warga. Konsistensi itu kemudian mengantarkan Malaka Sari menjadi salah satu dari sepuluh finalis Benyamin S Award. Penghargaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut mendorong kelurahan untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, nyaman, indah, dan sejahtera, sekaligus menjadi pengakuan atas upaya warga dalam menguatkan pengelolaan sampah dari rumah.

