Yadi Timo Wafat Usai Serangan Jantung, Sahabat Ceritakan Aktivitas Terakhirnya

Yadi Timo Wafat Usai Serangan Jantung, Sahabat Ceritakan Aktivitas Terakhirnya

Kota Bogor | Aktor senior Yadi Mulyadi, yang lebih dikenal dengan nama Yadi Timo, dikabarkan wafat setelah mengalami serangan jantung. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya melalui perjalanan panjang di dunia hiburan. Kabar tersebut juga mengejutkan Denpus, sahabat dekat Yadi, yang baru mengetahui berita duka itu setelah menunaikan salat subuh. Ia mengaku tidak menyangka Yadi telah tiada, terlebih karena pertemuan mereka berlangsung belum lama sebelumnya.

Menurut Denpus, malam sebelum kabar wafat itu tersiar, Yadi masih berkumpul bersama teman-temannya. Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang dalam suasana yang berjalan seperti biasa. Tidak ada hal yang, dalam ingatan Denpus, membuat pertemuan tersebut terasa sebagai momen terakhir bersama sang sahabat. Karena itu, berita yang diterimanya pada pagi hari terasa sulit dipercaya. Jarak waktu yang singkat kebersamaan pada malam hari dan kabar duka setelah subuh membuat kehilangan itu terasa datang begitu mendadak.

Denpus menyampaikan keterkejutannya saat menceritakan bagaimana ia mengetahui kepergian Yadi. Setelah menyelesaikan ibadah subuh, ia menerima kabar bahwa aktor tersebut telah meninggal dunia akibat serangan jantung. Informasi itu mengubah pagi yang semula berjalan seperti biasa menjadi saat penuh kesedihan. Bagi Denpus, percakapan dan kebersamaan pada malam sebelumnya masih melekat dalam ingatan, sehingga sulit menerima bahwa Yadi tidak lagi dapat ditemui. Pengalaman tersebut menggambarkan betapa cepat kabar duka dapat datang, bahkan ketika seseorang baru saja terlihat beraktivitas bersama orang-orang terdekatnya.

Kepergian Yadi Timo menjadi kehilangan bagi sahabat yang mengenalnya secara pribadi maupun penonton yang mengikuti kiprahnya sebagai aktor senior. Meski kabar wafatnya disebabkan serangan jantung, kesedihan Denpus juga bertaut dengan kenangan sederhana tentang pertemuan terakhir mereka: berkumpul dan berbincang seperti biasanya. Momen itu kini memiliki arti berbeda setelah Yadi berpulang. Bagi orang-orang yang ditinggalkan, percakapan biasa tersebut menjadi kenangan terakhir yang berharga, sekaligus pengingat akan kedekatan yang telah terjalin selama ini. Kabar yang diterima seusai salat subuh pun akan selalu diingat sebagai awal dari pagi yang menyedihkan.

Menurut informasi yang disampaikan Denpus, pada malam sebelum wafat, Yadi sempat berkumpul di sebuah kantor rumah produksi. Kegiatan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 22.30. Setelah itu, ia pulang. Keterangan mengenai aktivitas terakhir itu menjadi bagian dari cerita yang disampaikan Denpus tentang malam sebelum Yadi meninggal dunia. Informasi tersebut menggambarkan kegiatan yang dilakukan Yadi sebelum kembali ke rumah, tanpa menyebut adanya kejadian lain selama ia berada di kantor rumah produksi.

Denpus juga menyampaikan bahwa, berdasarkan keterangan yang diterimanya, Yadi mengalami serangan jantung di rumah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, dokter menyatakan bahwa Yadi sudah tidak ada. Keterangan ini merupakan informasi sebagaimana diterima dan disampaikan Denpus. Tidak ada rincian medis lain yang disampaikan dalam uraian tersebut, sehingga kronologi yang diketahui terbatas pada serangan jantung di rumah, upaya membawanya ke rumah sakit, serta pernyataan dokter selama perjalanan.

Dengan demikian, aktivitas yang disebutkan pada malam sebelumnya berakhir setelah Yadi pulang dari kantor rumah produksi sekitar pukul 22.30. Setelah berada di rumah, ia mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit, menurut keterangan yang diterima Denpus. Dokter menyatakan Yadi sudah tidak ada ketika perjalanan menuju rumah sakit berlangsung. Rangkaian informasi itu disampaikan tanpa penambahan rincian mengenai kondisi, penanganan, atau waktu lain yang tidak disebutkan oleh Denpus.

Jenazah Yadi dimakamkan pada Jumat, 16 Juli 2026, di TPU Dreded. Lokasi pemakaman tersebut berada di Jalan Dreded No. 43, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Alamat itu menjadi informasi tempat pemakaman yang disampaikan bersama keterangan mengenai aktivitas terakhirnya. Dengan demikian, laporan tentang malam terakhir dan pemakaman Yadi mencakup kegiatan berkumpul di kantor rumah produksi hingga sekitar pukul 22.30, kepulangannya, serangan jantung di rumah, serta pemakaman di TPU Dreded. Seluruh kronologi tersebut merujuk pada informasi yang disampaikan Denpus, tanpa rincian medis atau urutan kejadian tambahan.

Denpus mengenal Yadi ketika mereka sama-sama menempuh pendidikan teater di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dalam ingatannya, masa kuliah menjadi titik awal perkenalan yang kemudian berkembang menjadi persahabatan. Yadi tercatat sebagai mahasiswa angkatan 1988, sedangkan Denpus lebih dahulu masuk, yakni angkatan 1986. Perbedaan angkatan itu tidak menghalangi keduanya untuk saling mengenal dan mengikuti perjalanan masing-masing di lingkungan seni. Pendidikan teater memberi mereka ruang untuk belajar tentang panggung dan seni peran. Dari lingkungan tersebut, Denpus juga dapat menyaksikan bagaimana Yadi mulai menapaki dunia hiburan. Kenangan mengenai karier sahabatnya, bagi Denpus, berkaitan erat dengan hubungan yang terjalin sejak masa mereka menjadi mahasiswa.

Menurut penuturan Denpus, Yadi mengawali kiprah di dunia hiburan melalui film. Salah satu karya yang ia ingat adalah Petualangan Sherina, meskipun ia tidak memastikan tahun keterlibatan Yadi dalam film tersebut. Denpus memperkirakan waktunya sekitar 1998 atau 1999. Perkiraan itu ia sampaikan sebagai bagian dari ingatan pribadi, bukan sebagai kepastian mengenai tanggal atau tahun produksi. Setelah mulai berkiprah lewat film, Yadi kemudian terlibat dalam berbagai film lainnya. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa dunia layar lebar menjadi salah satu jalur penting dalam perkembangan kariernya. Denpus mengingat fase itu sebagai masa ketika Yadi terus mendapat kesempatan untuk tampil dan mengembangkan kiprahnya sebagai aktor.

Seiring waktu, aktivitas Yadi di televisi menjadi lebih intens. Ia tidak hanya hadir dalam film, tetapi juga membintangi sejumlah sinetron. Peralihan dan perluasan aktivitas itu menggambarkan perjalanan seorang seniman yang bekerja di berbagai medium, dari layar lebar hingga tayangan televisi. Dalam ingatan Denpus, Yadi dikenal kerap memainkan karakter dengan watak kuat. Ciri tersebut melekat pada peran-peran yang ia bawakan dan menjadi bagian dari kesan sahabatnya terhadap kemampuan akting Yadi. Denpus mengenang perjalanan itu dari dekat, sejak masa pendidikan teater di IKJ hingga kiprah Yadi di industri hiburan. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana seorang teman kuliah mengikuti perubahan karier sahabatnya, sembari mengingat kontribusi dan karakter yang membuat Yadi dikenali penonton.

Kepergian Yadi meninggalkan ruang kosong bagi Denpus, yang telah mengenalnya sebagai sahabat sekaligus bagian penting dari perjalanan hidup dan kariernya. Hubungan mereka tidak terbatas pada urusan pekerjaan; waktu yang dilewati bersama telah membentuk ikatan personal yang mendalam. Karena itu, kabar wafatnya Yadi menjadi kehilangan besar yang sulit diterima. Denpus mengenang sosok sahabatnya dengan rasa duka, seraya menyadari bahwa kebersamaan mereka kini hanya dapat dikenang melalui cerita dan pengalaman yang pernah dibagi.

Di tengah kesedihan tersebut, Denpus menyampaikan doa untuk Yadi. Ia berharap Allah mengampuni seluruh dosa almarhum, menerima segala amal baiknya, dan menempatkannya di sisi-Nya. Doa itu juga ditujukan kepada keluarga yang ditinggalkan, agar mereka diberi kekuatan, kesabaran, serta ketenangan dalam menghadapi masa berduka. Bagi Denpus, dukungan dan doa menjadi hal yang dapat disampaikan ketika sahabat yang telah lama menemani perjalanan hidupnya berpulang. Ia berharap keluarga Yadi dapat melalui hari-hari sulit ini dengan tabah dan memperoleh ketenteraman.

Denpus turut menyimpan harapan agar Yadi meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Ia memandang wafat pada hari Jumat sebagai hal yang baik dan berharap waktu kepergian tersebut menjadi pertanda kebaikan bagi almarhum.