Jakarta | Harga perak di pasar global melemah sepanjang pekan hingga Jumat, 16 Oktober 2026. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan yang terus membebani logam mulia, setelah investor menimbang prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Pada akhir perdagangan Jumat, harga perak spot tercatat sebesar US,0057 per ons. Angka itu turun 0,7% dibandingkan harga pada hari sebelumnya, sekaligus memperpanjang koreksi yang telah berlangsung dalam beberapa sesi terakhir.
Secara mingguan, perak spot melemah 6,23%. Penurunan sebesar itu menandai pekan yang berat bagi logam tersebut di pasar internasional. Koreksi mingguan juga menggambarkan perubahan sikap pelaku pasar terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil, terutama ketika ekspektasi mengenai suku bunga bergerak naik. Harga logam mulia umumnya dapat menghadapi tekanan ketika instrumen berbunga menjadi lebih menarik bagi investor, meskipun pergerakan aktual tetap dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk nilai dolar dan permintaan pasar.
Tekanan kali ini muncul saat pelaku pasar menilai kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini. Prospek suku bunga yang lebih tinggi membuat investor berhati-hati dalam mengambil posisi pada perak. Kenaikan biaya pinjaman juga dapat memperkuat daya tarik aset berbunga relatif terhadap logam yang tidak menghasilkan kupon. Karena itu, perubahan perkiraan atas langkah bank sentral AS menjadi salah satu perhatian utama dalam menentukan arah perdagangan perak selama pekan tersebut.
Data Jumat memperlihatkan pelemahan harian yang lebih terbatas dibandingkan penurunan sepanjang pekan, tetapi belum cukup untuk menghapus kerugian yang terkumpul sejak awal periode. Investor akan mencermati perkembangan inflasi, komunikasi pejabat Federal Reserve, serta data ekonomi berikutnya untuk menilai apakah tekanan suku bunga masih berlanjut. Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan dan sentimen terhadap logam mulia. Untuk saat ini, penurunan 6,23% secara mingguan mencerminkan kehati-hatian pasar di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.
Data inflasi Amerika Serikat untuk September menjadi salah satu latar penting bagi pergerakan pasar keuangan dan komoditas, termasuk harga perak. Laporan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih bertahan, meskipun kenaikan indeks harga konsumen (IHK) secara bulanan tercatat sesuai dengan perkiraan. Investor mencermati bukan hanya angka utama, tetapi juga perbandingan hasil aktual dengan proyeksi karena perbedaan kecil dapat mengubah penilaian terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve.
IHK meningkat 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya, sejalan dengan estimasi pasar. Namun, secara tahunan, inflasi mencapai 3,7%, lebih tinggi daripada perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yaitu 3,6%. Selisih tersebut menandakan bahwa laju kenaikan harga belum mereda secepat yang diharapkan. Angka tahunan juga memberi gambaran bahwa tekanan inflasi masih cukup persisten, meski ukuran bulanan tidak menghadirkan kejutan terhadap konsensus.
Perhatian pasar turut tertuju pada inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi karena keduanya cenderung mengalami perubahan harga yang lebih tajam. Ukuran ini naik 0,3% secara bulanan, sedikit melampaui perkiraan 0,2%. Dalam perbandingan tahunan, inflasi inti tercatat 2,6%, juga berada di atas proyeksi ekonom sebesar 2,5%. Dengan demikian, baik laju bulanan maupun tahunan menunjukkan hasil yang lebih tinggi daripada perkiraan pada ukuran inti, walaupun perbedaannya relatif terbatas.
Kombinasi data tersebut memperkuat perhatian terhadap kemungkinan bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Inflasi yang lebih kuat dari proyeksi dapat membuat bank sentral berhati-hati dalam mempertimbangkan pelonggaran kebijakan, sebab penurunan suku bunga terlalu cepat berisiko menghidupkan kembali tekanan harga. Namun, satu laporan saja tidak menentukan keputusan Federal Reserve; pembuat kebijakan juga menilai rangkaian data lain, termasuk kondisi tenaga kerja, belanja konsumen, dan perkembangan inflasi pada periode berikutnya.
Bagi pasar perak, angka inflasi memiliki relevansi melalui pengaruhnya terhadap ekspektasi suku bunga, imbal hasil obligasi, dan nilai dolar AS. Jika investor memperkirakan kebijakan moneter tetap ketat, aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti perak dapat menghadapi tekanan relatif. Pada saat yang sama, perak juga dipengaruhi permintaan industri dan sentimen risiko, sehingga respons harganya tidak hanya ditentukan oleh satu rilis ekonomi. Data September menyediakan konteks bagi pergerakan pasar, tetapi arah selanjutnya tetap bergantung pada pembacaan investor atas informasi ekonomi yang menyusul.Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pandangan optimistis mengenai ketahanan ekonomi Amerika Serikat di tengah tekanan inflasi yang kembali menjadi perhatian pasar. Namun, pernyataannya tidak memberikan petunjuk jelas mengenai arah suku bunga maupun keputusan kebijakan moneter berikutnya. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar belum dapat memastikan apakah bank sentral akan mempertahankan suku bunga atau mempertimbangkan penyesuaian dalam waktu dekat.
Philip Blancato, kepala strategi pasar Osaic, menilai data inflasi terbaru telah membuka kembali kemungkinan perubahan kebijakan The Fed pada Desember. Sebelumnya, sebagian investor mungkin memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga, tetapi tekanan harga yang bertahan dapat mengubah kalkulasi tersebut. Menurut Blancato, keputusan pada bulan itu masih sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi berikutnya, termasuk ukuran inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja. Karena itu, komentar pejabat bank sentral dan rilis data mendatang akan menjadi perhatian penting bagi pasar.
Blancato juga memperkirakan inflasi inti berpotensi mencapai 3% pada tahun depan, seiring dampak kenaikan harga minyak terhadap berbagai biaya. Harga energi dapat merambat ke ongkos produksi dan transportasi, lalu memengaruhi harga barang serta jasa. Jika tekanan tersebut berlangsung, proses penurunan inflasi bisa menjadi lebih lambat dari yang diharapkan. Perkiraan itu menjadi salah satu alasan investor menilai bahwa pelonggaran kebijakan moneter tidak dapat dianggap pasti, meskipun prospek pertumbuhan ekonomi tetap relatif kuat.
Sejumlah pejabat The Fed turut menyoroti risiko dalam data tersebut. Austin Goolsbee menyebut angka inflasi itu mengecewakan, menandakan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Sementara itu, Beth Hammack mengatakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif mungkin diperlukan apabila ekspektasi inflasi masyarakat turun secara signifikan. Pernyataan Hammack menegaskan bahwa bank sentral akan memperhatikan bukan hanya inflasi yang tercatat, tetapi juga keyakinan rumah tangga dan pelaku usaha mengenai kenaikan harga pada masa mendatang. Jika ekspektasi itu melemah, tekanan untuk bertindak dapat meningkat. Bagi pasar perak, prospek suku bunga yang bertahan tinggi berpotensi menjadi beban karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Dengan demikian, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi sentimen investor dan pergerakan harga logam mulia dalam beberapa pekan mendatang.
Harga energi yang bertahan tinggi menambah tekanan terhadap rumah tangga di Amerika Serikat dan memperumit prospek inflasi. Bensin merupakan pengeluaran rutin bagi banyak konsumen, sehingga kenaikan harga di SPBU dapat langsung mengurangi dana yang tersedia untuk kebutuhan lain. Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS mencapai US$4,33 per galon, jauh di atas sekitar US$3,08 per galon pada periode yang sama setahun sebelumnya. Perbedaan tersebut menunjukkan besarnya beban tambahan yang harus ditanggung pengendara, terutama ketika biaya hidup lain juga masih meningkat.
Biaya bahan bakar yang mahal dapat memengaruhi inflasi melalui lebih dari satu jalur. Selain mendorong pengeluaran langsung konsumen, kenaikan energi berpotensi menambah ongkos pengiriman dan produksi, yang kemudian dapat diteruskan ke harga barang dan jasa.
Baca juga: Pergerakan Harga Emas Perhiasan di Jakarta Turun Drastis | Manfaat dan Tantangan Usulan Car Free Day Dua Kali Sepekan | Harga Emas Perhiasan 24K Turun Menjelang Akhir Pekan






