Studi DEN Soroti Mutu Menu dan Pemerataan Program Makan Bergizi Gratis

Studi DEN Soroti Mutu Menu dan Pemerataan Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menerima rekomendasi Dewan Ekonomi Nasional (DEN) agar pemerintah memberi perhatian lebih besar pada kualitas menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut menempatkan mutu makanan sebagai bagian penting dari pelaksanaan program, bukan sekadar persoalan jumlah porsi yang disediakan bagi siswa. Rekomendasi DEN berangkat dari temuan studi yang menelaah hubungan kualitas makanan dengan semangat belajar siswa penerima manfaat. Hasil kajian itu menjadi dasar untuk mendorong evaluasi yang lebih menyeluruh terhadap menu MBG.

Anggota DEN Firman Hidayat menyampaikan keterangan tersebut setelah rapat bersama Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Menurut Firman, studi yang menjadi landasan rekomendasi menunjukkan bahwa kualitas makanan berkaitan dengan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Temuan ini membuat mutu sajian perlu diperhatikan seiring perluasan program, sehingga tujuan pemberian makanan bergizi dapat mendukung kebutuhan penerima manfaat secara lebih baik. Keterangan itu menyoroti pentingnya menjadikan pengalaman dan kondisi siswa sebagai pertimbangan dalam menilai pelaksanaan MBG.

Perhatian terhadap kualitas menu mencakup pembahasan mengenai kesesuaian makanan bagi siswa, selain keberlangsungan penyediaan program. DEN mendorong pemerintah menggunakan temuan studi tersebut sebagai masukan dalam menyusun dan memperbaiki pelaksanaan MBG. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya melihat apakah makanan telah dibagikan, tetapi juga mempertimbangkan mutu sajian dan kaitannya dengan semangat belajar penerima manfaat. Rekomendasi ini disampaikan kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan kebijakan. Pemerintah dapat menempatkan kualitas sebagai salah satu unsur utama dalam pemantauan program, sekaligus menilai apakah menu yang disediakan mendukung tujuan pemenuhan gizi dan kegiatan belajar. Penekanan DEN pada temuan studi menunjukkan bahwa dampak program perlu dinilai secara lebih luas daripada aspek distribusi. Fokus pada mutu diharapkan membantu memastikan MBG memberi manfaat yang sesuai bagi siswa yang menerima layanan.

Studi Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Survei tersebut berlangsung sejak September 2025 dan cakupannya meliputi seluruh wilayah Indonesia. Dengan jangkauan nasional, pengumpulan data dirancang untuk memberi gambaran mengenai pengalaman siswa penerima program di berbagai daerah. Pengamatan tidak hanya berfokus pada tersedianya makanan, tetapi juga pada sejumlah aspek yang berkaitan dengan kegiatan siswa di sekolah. Hasil survei menjadi bahan untuk menilai bagaimana program dirasakan oleh penerima dalam keseharian mereka.

Aspek yang diamati mencakup absensi siswa, semangat belajar, serta rasa lapar selama berada di sekolah. Indikator-indikator ini memberikan konteks tentang pengalaman siswa, termasuk apakah mereka merasa lebih siap mengikuti pelajaran setelah menerima makanan. Salah satu temuan yang disoroti berkaitan dengan penilaian siswa atas mutu menu. Sebanyak 95 persen siswa penerima MBG menyatakan semangat belajar mereka lebih tinggi ketika memperoleh menu yang dinilai berkualitas sangat baik. Sebaliknya, semangat belajar dilaporkan menurun ketika kualitas makanan buruk. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman siswa tidak hanya terkait dengan ada atau tidaknya makanan, tetapi juga dengan mutu menu yang disajikan.

Angka tersebut perlu dibaca sesuai cakupan keterangan survei: laporan menggambarkan jawaban dan pengalaman siswa, bukan dengan sendirinya membuktikan bahwa kualitas makanan menjadi satu-satunya penyebab perubahan semangat belajar. Hubungan mutu menu dan hasil yang dirasakan siswa tetap penting untuk diperhatikan dalam pelaksanaan MBG. Data mengenai absensi dan rasa lapar juga dapat membantu melengkapi gambaran dampak program, meskipun tiap indikator perlu ditafsirkan berdasarkan hasil pengamatan yang tersedia. Bagi pengelola, temuan tentang perbedaan semangat belajar menurut penilaian terhadap kualitas makanan dapat menjadi masukan untuk menjaga mutu menu secara konsisten. Dengan demikian, evaluasi program dapat mempertimbangkan baik pemerataan penerima maupun kualitas pengalaman siswa di sekolah, tanpa menarik kesimpulan kausal yang melampaui informasi survei.

Selain menelaah mutu menu dan pemerataan penerima, studi DEN juga menyoroti keterkaitan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kehadiran siswa di sekolah. Firman menyampaikan bahwa siswa yang menerima program cenderung lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak memperoleh MBG. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat program yang diamati tidak hanya berkaitan dengan makanan yang diterima, tetapi juga dapat terlihat pada aspek partisipasi siswa dalam kegiatan belajar. Meski demikian, perbandingan tersebut perlu dipahami sesuai temuan yang disampaikan, tanpa menganggapnya sebagai bukti bahwa seluruh ketidakhadiran dapat dicegah oleh program.

Perbedaan kecenderungan absensi itu disebut cukup besar pada desil 1, yaitu kelompok masyarakat termiskin. Pada kelompok ini, siswa yang tidak menerima MBG lebih sering absen, sedangkan siswa penerima relatif tidak absen. Dengan demikian, temuan DEN menggarisbawahi adanya perbedaan yang menonjol pada kelompok yang secara ekonomi paling rentan. Gambaran tersebut penting dalam pembahasan pemerataan karena mengaitkan penerimaan program dengan kehadiran siswa, terutama pada kelompok yang menghadapi keterbatasan lebih besar. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci penyebab ketidakhadiran siswa nonpenerima maupun alasan penerima lebih jarang absen.

DEN juga menyebut bahwa penurunan absensi semakin besar seiring meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah. Artinya, sekolah dengan penerimaan program yang lebih intens menunjukkan penurunan absensi yang lebih besar dalam temuan tersebut. Pola ini menjadi salah satu dampak positif yang dinilai dari pelaksanaan MBG, karena kehadiran merupakan bagian penting dari kesempatan siswa mengikuti pembelajaran. Temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menilai pelaksanaan program, termasuk bagaimana cakupan dan intensitasnya berkaitan dengan kehadiran. Pada saat yang sama, hasil tersebut sebaiknya dibaca secara cermat dan tidak diperluas menjadi klaim yang melampaui keterangan studi. DEN menempatkan kecenderungan lebih jarang absen pada siswa penerima sebagai indikasi positif, dengan perbedaan yang tampak khususnya pada kelompok termiskin dan penurunan yang kian besar ketika intensitas penerimaan di sekolah meningkat.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyoroti bahwa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum tersebar secara merata. Jangkauan program di wilayah perkotaan tercatat masih lebih tinggi dibandingkan di perdesaan, sementara siswa dari keluarga mampu disebut masih lebih banyak menerima manfaat daripada siswa dari keluarga miskin. Ketimpangan tersebut menjadi catatan penting karena tujuan program bukan hanya menyediakan makanan, melainkan memastikan bantuan gizi menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan. Jika cakupan belum seimbang, kelompok rentan berisiko tidak memperoleh manfaat yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Karena itu, pemerataan perlu menjadi pertimbangan utama dalam evaluasi dan pengembangan pelaksanaan MBG.

DEN merekomendasikan agar pemerintah memberi prioritas lebih besar kepada masyarakat miskin, wilayah perdesaan, serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Penentuan sasaran yang lebih terarah dapat membantu mengurangi kesenjangan akses, terutama bagi siswa yang menghadapi keterbatasan pangan dan layanan. Pemerintah dapat menggunakan data sosial ekonomi dan kondisi wilayah untuk mengenali kelompok yang belum terjangkau, lalu menyesuaikan distribusi dengan kebutuhan setempat. Perencanaan juga perlu memperhatikan tantangan logistik, seperti jarak, akses transportasi, dan ketersediaan fasilitas pendukung. Dengan demikian, perluasan jangkauan tidak sekadar menambah jumlah penerima, tetapi memastikan bantuan sampai kepada kelompok prioritas secara konsisten.

Menurut Firman, MBG berpotensi memberi dampak positif terhadap proses belajar siswa, lain dengan mengurangi absensi dan rasa lapar serta meningkatkan semangat belajar. Potensi tersebut akan lebih berarti apabila manfaat program diterima oleh anak-anak yang paling rentan mengalami kekurangan gizi atau kesulitan memperoleh makanan.

Baca juga: TNI Sediakan 30.000 Porsi Makan Gratis Untuk Masyarakat Di Monas | Beri Kuliah Program Doktor Ilmu Hukum, Bamsoet Setuju Parliamentary Threshold 5 Persen, Dorong Terjadi Penyederhanaan Sistem Kepartaian dan Pemisahan Pilpres dan Pileg