Bontang – Di tengah ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terus mengintai, TNI bersama Pemerintah Kota Bontang memperkuat kesiapsiagaan melalui Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Karhutla bertempat di Aula Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Bontang, Jl. Jenderal Sudirman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, Senin (31/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum memperkokoh sinergi lintas sektor dalam mencegah dan menanggulangi Karhutla.
Kegiatan tersebut dihadiri Walikota Bontang dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.OG., Plt. Sekretaris Daerah Kota Bontang Drs. Akhmad Suharto, M.Si., Dandim 0908/Bontang Letkol Inf Ardiansyah, S.Sos., M.Si., serta unsur TNI-Polri, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Arhanud, Subdenpom, Pos AL, BIN, Kementerian Agama, Taman Nasional Kutai, perangkat daerah, camat, lurah dan pimpinan perusahaan di Kota Bontang.
Hadir dalam Tim Penyuluhan Bencana Karhutla Sesko TNI dan Mabes TNI yang terdiri dari Kolonel Laut (H) Imam Soedjono, S.H., M.H.; Letkol Arm Candra Yuda Widinugroho, S.H.; Letkol Sus I Ketut Marsa, S.Ag.; Kolonel Laut (P) Rizaldi, S.E., M.Tr.Opsla.; Mayor Arh Asep Supriatna; Mayor Cba Nelson Sinuhaji;
Serta Pasis Dikreg LVI Sesko TNI TA 2026 Kolonel Inf Toni Sri Hartanto, S.A.P., M.Hub.Int., Kolonel Inf Muhammad Erfani, S.H., M.Tr.(Han)., Kolonel Mar Farick, M.Tr.Opsla., S.H., M.H., dan Kolonel Kal Edwin Hutabarat.

Dalam sambutannya, Walikota Bontang dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.OG., menegaskan bahwa Karhutla bukan hanya persoalan terbakarnya hutan dan lahan, tetapi ancaman yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat, keselamatan, lingkungan, aktivitas ekonomi dan kualitas udara. Berdasarkan data periode 26 Januari hingga 23 Agustus 2026, tercatat 28 kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar sekitar 27,127 hektare.
“Kita tidak boleh hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi. Pencegahan, kesiapsiagaan, edukasi dan deteksi dini harus menjadi prioritas,” tegas Walikota Bontang seraya mengajak TNI, Polri, BPBD, Damkar, pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat dan relawan untuk bergerak dalam satu kekuatan menghadapi Karhutla.
Ketua Tim Penyuluhan Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla, Kolonel Inf Toni Sri Hartanto, S.A.P., M.Hub.Int.,menyampaikan bahwa kehadiran Tim Penyuluhan Sesko TNI dan Mabes TNI merupakan bentuk dukungan terhadap pemerintah daerah sekaligus wujud pengabdian TNI kepada rakyat. Menurutnya, sosialisasi ini menjadi sarana berbagi pengetahuan, pengalaman dan strategi penanganan Karhutla sekaligus menyerap kondisi nyata di lapangan untuk merumuskan langkah konkret sesuai karakteristik Kota Bontang.
Sementara itu, Kolonel Kal Edwin Hutabarat dalam paparannya menegaskan bahwa Karhutla merupakan ancaman serius terhadap keselamatan jiwa, kelestarian ekosistem dan stabilitas ekonomi. Ia mengingatkan pentingnya memahami segitiga api yang terdiri dari bahan bakar, sumber panas dan oksigen, sekaligus menekankan bahwa faktor manusia masih menjadi salah satu penyebab utama kebakaran.
“Api tidak mengenal batas wilayah. Api hanya membutuhkan kelengahan untuk membesar. Karena itu, kita harus bergerak cepat, bersinergi dan tidak memberikan ruang bagi api untuk berkembang,” tegasnya.
Tim Penyuluhan juga menekankan bahwa deteksi dini merupakan kunci keberhasilan penanggulangan Karhutla. Setiap kepulan asap atau indikasi kebakaran harus segera dilaporkan secara cepat dan akurat. Kesiapan personel, alat pelindung diri, peralatan pemadaman, sarana komunikasi serta pemahaman terhadap arah angin juga menjadi bagian penting dalam memastikan operasi berjalan efektif dan aman.
Sosialisasi tersebut sekaligus memperkuat sistem penanggulangan Karhutla secara terpadu melalui sinergi kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI-Polri, dunia usaha, akademisi, masyarakat serta pemanfaatan teknologi seperti satelit, drone dan GPS. Seluruh unsur didorong untuk tidak hanya bertindak ketika api telah membesar, tetapi membangun budaya pencegahan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, TNI bersama Pemerintah Kota Bontang dan seluruh komponen masyarakat meneguhkan komitmen untuk menjaga lingkungan serta melindungi masyarakat dari ancaman Karhutla. Ketika api mulai mengancam, tidak boleh ada yang berdiri sendiri. Semua harus bergerak, bersatu dan bertindak cepat.
(Pendim 0908/Btg)
