Medan | Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Rocky Gerung terlibat perdebatan dengan Muhammad Ade Ikhsani, presiden mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed), Sumatera Utara, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Peristiwa itu bermula ketika Ade hendak mengajukan pertanyaan kepada Rocky. Sebelum menyampaikan pertanyaannya, Ade terlebih dahulu meminta izin. Momen tersebut kemudian menjadi titik awal ketegangan dalam interaksi keduanya, sebagaimana tergambar dari peristiwa yang berlangsung pada hari itu.
Urutan kejadian ini penting untuk memahami pokok persoalan yang muncul. Ade tidak langsung menyampaikan pertanyaan, melainkan membuka kesempatan berbicara dengan meminta izin terlebih dahulu. Namun, tindakan itu justru mengawali perdebatan dengan Rocky. Dengan demikian, perhatian tertuju bukan hanya pada isi pertanyaan yang hendak disampaikan, tetapi juga pada cara seorang mahasiswa memulai percakapan dan memperoleh ruang untuk berbicara. Informasi mengenai peristiwa tersebut menempatkan permintaan izin sebagai pemicu ketegangan, bukan sebagai jawaban atas substansi pertanyaan Ade.
Perdebatan Rocky dan Ade memperlihatkan situasi ketika hak mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan berhadapan dengan kebiasaan meminta izin sebelum berbicara. Dalam forum yang melibatkan mahasiswa itu, Ade menunjukkan niat untuk bertanya, sementara langkah awalnya adalah meminta persetujuan. Perbedaan perhatian terhadap momen tersebut menjadikan interaksi keduanya sorotan. Tanpa menambahkan rincian yang tidak tersedia tentang jalannya percakapan, inti peristiwa tetap jelas: ketegangan bermula saat presiden mahasiswa Unimed hendak mengajukan pertanyaan dan lebih dahulu meminta izin kepada Rocky. Peristiwa pada Jumat, 23 Oktober 2026, ini menjadi gambaran awal perdebatan mengenai kesempatan mahasiswa berbicara dan bagaimana permintaan izin dipahami dalam interaksi tersebut.
Sebelum mengajukan pertanyaan kepada Rocky Gerung, Ade terlebih dahulu menceritakan pengalaman dirinya bersama sejumlah rekan pada Juni 2026. Ia menyebut mereka sempat bertemu dengan aparat ketika sedang bersiap untuk melakukan aksi demonstrasi. Dalam penuturannya, pertemuan tersebut terjadi sebelum aksi dilaksanakan, sehingga menjadi bagian dari latar yang ingin ia sampaikan kepada Rocky. Ade tidak menjelaskan lebih jauh identitas aparat yang ditemui maupun alasan di balik pertemuan itu.
Ade kemudian menggambarkan bahwa dirinya dan rekan-rekannya merasa hendak dikondisikan sebelum turun melakukan aksi. Penjelasan itu disampaikan sebagai pengalaman dan pemahaman Ade atas situasi yang mereka hadapi saat itu. Ia tidak memaparkan secara terperinci bentuk pengondisian yang dimaksud. Karena itu, kisah tersebut dapat dipahami sebagai konteks yang Ade berikan, bukan sebagai keterangan terpisah yang memastikan tujuan atau tindakan pihak-pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Meski demikian, menurut cerita Ade, ia dan rekan-rekannya tetap menjalankan aksi demonstrasi sesuai dengan rencana. Keputusan itu menjadi inti latar yang ia bawa ketika berbicara dengan Rocky. Ade tampaknya ingin menjelaskan bahwa pengalaman sebelum aksi turut membentuk pertanyaan yang kemudian disampaikannya, terutama mengenai ruang mahasiswa untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Urutan cerita tersebut penting: Ade lebih dulu memaparkan pertemuan dan rencana aksi, lalu menghubungkannya dengan pertanyaan kepada Rocky. Dengan demikian, pembaca dapat melihat bahwa pertanyaannya muncul dari pengalaman yang ia ceritakan sendiri. Rincian tentang pertemuan itu tetap perlu ditempatkan sebagai penuturan Ade, tanpa menambahkan dugaan mengenai siapa aparat tersebut atau apa tujuan mereka. Sikap ini menjaga batas cerita narasumber dan informasi yang telah dikonfirmasi secara terpisah, sekaligus mempertahankan konteks yang disampaikan Ade sebelum ia meminta tanggapan Rocky mengenai hak mahasiswa untuk berbicara tanpa meminta izin.
Dalam forum tersebut, Ade memulai pertanyaannya dengan meminta izin kepada Rocky Gerung. Sebelum Ade melanjutkan, Rocky menyela dan memintanya berhenti sejenak. Urutan ini menjadi bagian penting dari pertukaran mereka: Ade terlebih dahulu mengajukan permohonan izin, kemudian Rocky merespons permintaan itu dengan menghentikan sementara penyampaian pertanyaan. Rocky lalu menjelaskan sikapnya terhadap cara Ade membuka pertanyaan tersebut.
Rocky menyatakan bahwa ia tidak akan mengizinkan Ade bertanya apabila Ade meminta izin terlebih dahulu. Pernyataan itu secara langsung mengaitkan permohonan izin dengan keputusan Rocky untuk tidak memberikan izin. Dengan demikian, pokok ucapannya bukan sekadar permintaan agar Ade menunda pertanyaan, melainkan penjelasan bahwa Ade tidak perlu menempatkan haknya untuk berbicara sebagai sesuatu yang bergantung pada persetujuan Rocky. Ade telah datang dengan pertanyaan, tetapi cara ia mengawalinya menjadi hal yang ditanggapi Rocky.
Rangkaian percakapan itu dapat dipahami melalui tiga tahap yang jelas: Ade meminta izin untuk bertanya, Rocky menyela dan meminta Ade berhenti sejenak, lalu Rocky menyampaikan bahwa permintaan izin tersebut akan membuatnya tidak mengizinkan Ade bertanya. Makna pernyataan Rocky perlu dijaga sesuai dengan urutan itu, tanpa menambahkan kata-kata yang tidak disampaikan atau dugaan mengenai nada dan suasana forum. Fokusnya adalah hubungan permintaan izin dan jawaban Rocky. Dalam pertukaran tersebut, ia menegaskan bahwa mahasiswa dapat menyampaikan pertanyaan tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan untuk berbicara. Pernyataan itu menjadi inti responsnya kepada Ade pada momen tersebut, sekaligus menjelaskan mengapa ia menyela sebelum pertanyaan diteruskan. Batas informasi yang tersedia juga penting: tidak ada alasan tambahan atau rincian lain yang perlu disisipkan untuk menjelaskan respons itu. Dengan mencatat urutan dan isi ucapannya secara cermat, pembaca dapat melihat bagaimana Rocky menyampaikan pandangannya mengenai hak Ade untuk bertanya di forum.
Setelah menyela, Rocky Gerung menjelaskan alasan ia menanggapi situasi dalam forum tersebut. Ia menegaskan bahwa acara itu bukan forum tentara dan bukan pula forum feodal. Pernyataan itu menunjukkan bahwa menurut Rocky, suasana forum tidak semestinya menempatkan peserta dalam hubungan yang mengharuskan mereka tunduk atau menunggu izin untuk menyampaikan pertanyaan. Ia mengaitkan sifat forum dengan kebebasan peserta untuk berbicara, terutama mahasiswa yang hadir sebagai bagian dari kegiatan ilmiah. Penegasan tersebut menjadi inti dari maksud intervensinya: mahasiswa berhak mengambil bagian dalam percakapan tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu.
Dalam pandangan yang disampaikan Rocky, hak untuk bertanya maupun berbicara merupakan bagian dari ruang diskusi ilmiah. Mahasiswa tidak perlu meminta izin untuk mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat di dalam forum. Dengan menyebut forum itu bukan forum tentara maupun forum feodal, Rocky menolak anggapan bahwa peserta harus mengikuti tata hubungan yang membatasi kesempatan mereka untuk berbicara. Ia menekankan bahwa kegiatan ilmiah memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan pertanyaan secara langsung. Pesannya bukan sekadar mengenai tata cara berbicara, melainkan mengenai hak peserta untuk terlibat dalam forum tanpa terlebih dahulu memperoleh izin.
Penegasan tersebut juga disertai tindakan yang sejalan dengan ucapannya. Setelah menyampaikan bahwa mahasiswa berhak berbicara tanpa meminta izin, Rocky kemudian mempersilakan mahasiswa lain untuk berbicara. Ajakan itu ditujukan kepada peserta lain agar mereka dapat menyampaikan pertanyaan atau pendapat di dalam forum. Dengan demikian, pernyataan Rocky diikuti kesempatan bagi mahasiswa lain untuk mengambil giliran berbicara, tanpa diminta meminta izin lebih dahulu. Sikap tersebut memperlihatkan secara langsung maksud yang ia sampaikan setelah menyela: forum ilmiah bukan ruang yang mengharuskan mahasiswa diam atau menunggu persetujuan untuk bertanya. Mereka memiliki hak untuk berbicara, dan Rocky membuka kesempatan itu kepada mahasiswa berikutnya.
Baca juga: Konteks Berbeda dalam Aksi Unjuk Rasa: Buruh dan Mahasiswa | Kekhawatiran Mahasiswa IPB Terhadap Keberadaan Pria di Pinggir Jalan | Peran Mahasiswa untuk Menciptakan Kemajuan Bangsa






