JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 23 September 2026, Pada tanggal 22 September, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pemeriksaan terhadap Handojo Selamet Muljadi, yang menjabat sebagai Presiden Komisaris Tempo Scan Group. Proses pemeriksaan ini berfokus pada dugaan keterlibatan Selamet dalam praktik yang dicurigai melibatkan pemberian sesuatu kepada salah satu oknum di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, lebih khusus lagi Di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIP). Kasus ini berawal dari laporan yang mencuat mengenai adanya tindak pidana korupsi yang melibatkan seorang pejabat di lembaga tersebut.
Dalam kasus ini, juru bicara KPK, Budi Prasetyo, menyampaikan bahwa para penyidik sedang melakukan pendalaman terhadap dugaan pemberian yang dimaksud. Keberadaan Tempo Scan Group sebagai salah satu perusahaan ternama di Indonesia menambah kompleksitas situasi ini, mengingat pengaruh dan peran pentingnya dalam dunia bisnis. Di Indonesia, kekuatan institusi seperti KPK sangat diperlukan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas di dalam sektor publik dan swasta.
Berdasarkan informasi yang beredar, tindakan hukum ini merupakan bagian dari upaya KPK untuk memberantas praktik korupsi yang diindikasikan terjadi dalam proses administrasi publik. Penyidik juga berencana untuk memanggil saksi-saksi lain yang dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai dugaan tersebut. Melalui pendekatan yang sistematis, KPK berusaha membongkar struktur korupsi yang mungkin melibatkan berbagai pihak. Hal ini tentu saja diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah dalam menangani isu-isu terkait korupsi.
Pada tanggal yang telah ditentukan, Handojo Selamet hadir untuk memenuhi panggilan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di gedung yang menjadi markas lembaga tersebut. Proses pemeriksaan dimulai sekitar pukul 10.06 WIB, di mana Handojo Selamet menghadapi sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan dugaan keterlibatannya dalam praktik yang diduga melibatkan pemberian kesempatan kepada pihak tertentu.
Salah satu fokus dari pertanyaan yang dilontarkan adalah mengenai hubungan Selamet dengan Budi Prasetyo, yang juga turut diperiksa dalam kasus ini. Budi Prasetyo menjelaskan bahwa dugaan praktik tersebut erat kaitannya dengan layanan keimigrasian yang diatur oleh instansi pemerintah. Hal ini menimbulkan keprihatinan terkait adanya potensi penyimpangan kewenangan yang dapat merugikan citra institusi pemerintah.
Penyelidikan yang dilakukan oleh KPK merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menanggulangi korupsi di Indonesia. Dalam konteks ini, rentetan pemeriksaan terhadap figur-figur penting seperti Handojo Selamet dinilai krusial untuk mengungkap praktik-praktik yang merugikan masyarakat dan negara. Keterlibatan pihak-pihak yang berpengaruh dalam kasus ini dapat memberikan gambaran tentang sejauh mana korupsi telah mengakar dalam struktur pemerintah.
Proses pemeriksaan ini juga menunjukkan komitmen KPK dalam menegakkan hukum secara transparan dan akuntabel. Selamet dan Prasetyo menjadi saksi penting dalam penyelidikan ini, dan keterangan yang mereka berikan diharapkan dapat membantu penegak hukum dalam merumuskan tindakan selanjutnya terhadap indikasi korupsi yang terjadi.
Diharapkan, melalui penyelidikan yang benar-benar komprehensif ini, tidak hanya individu-individu yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban, tetapi juga sistem yang ada bisa diperbaiki untuk mencegah munculnya kasus serupa di masa yang akan datang. Pemeriksaan yang dilakukan oleh KPK terhadap Handojo Selamet merupakan langkah signifikan yang mengindikasikan bahwa seluruh elemen masyarakat, termasuk mereka yang berada di posisi puncak, harus siap untuk diawasi dan diminta pertanggungjawaban atas tindakan mereka.
Pemeriksaan terhadap Selamet adalah bagian dari rangkaian investigasi yang lebih luas yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kasus yang melibatkan dugaan tindak pemerasan. Kasus ini mencuat setelah keterlibatan mantan wakil menteri Investasi dan Penanaman Modal (IMIP), Silmy Karim, yang diduga melakukan pemerasan terkait pengurusan izin tinggal warga negara asing. KPK telah menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus ini, yang mencerminkan besarnya skala operasi yang dilakukan dalam rangka menegakkan hukum dan memberantas praktik korupsi di sektor publik.
Operasi tangkap tangan yang melibatkan Silmy Karim menjadi titik balik dalam penyelidikan ini. Pengunduran dirinya dalam operasi tersebut tidak hanya mengarah pada penangkapan Silmy, tetapi juga kepada penahanan sejumlah pihak lainnya yang terlibat. Hal ini menandakan bahwa KPK berkomitmen untuk menindaklanjuti semua jalur yang mengarah pada praktik korupsi dan pemerasan. Penetapan delapan orang sebagai tersangka menunjukkan bahwa proyek penyelidikan ini bersifat integral, dengan keterkaitan berbagai individu di dalamnya.
Melalui langkah-langkah penegakan hukum yang diambil, KPK berusaha untuk menyelidiki aspek-aspek lebih dalam dari kasus ini, guna menemukan sumber utama dari praktik pemerasan yang merugikan banyak pihak. Penyidikan terhadap Selamet dan tersangka lainnya merupakan bagian penting dari strategi KPK untuk menciptakan transparansi serta akuntabilitas di pemerintah dan instansi terkait. Dengan terlibatnya tokoh-tokoh seperti Silmy Karim, diharapkan mampu memberikan efek jera dan menunjukkan bahwa tindakan korupsi tidak akan ditoleransi.
Pada tahun 2022 hingga 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat dugaan praktik pemerasan yang melibatkan beberapa pejabat senior di Tempo Scan Group, yang berimplikasi pada kerugian negara yang signifikan. KPK menduga bahwa total dana yang diperoleh oleh para tersangka dari praktik ini mencapai sekitar Rp145,5 miliar. Kerugian tersebut tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga berdampak pada citra publik terhadap lembaga pemerintah, khususnya Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang seharusnya menjalankan tugasnya dengan integritas dan transparansi.
Dari sudut pandang hukum, penetapan tersangka oleh KPK merupakan langkah strategis untuk menegakkan hukum dan memberantas tindakan korupsi. Kasus ini menunjukkan bahwa lembaga penegak hukum berkomitmen untuk menyelidiki dugaan pelanggaran yang terjadi, meskipun tantangan dalam membongkar praktik korupsi di sektor publik masih sangat besar. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran ini diharapkan dapat memberikan pelajaran bagi pihak lainnya juga memperkuat sistem pengawasan di dalam lembaga pemerintah.
Dalam hal ini, konsekuensi hukum bagi para tersangka bisa sangat serius, termasuk kemungkinan hukuman penjara dan denda yang signifikan. Ini juga menjadi sebuah peringatan kepada pegawai pemerintah bahwa tindakan korupsi akan mendapatkan sanksi yang berat, serta mendorong sistem akuntabilitas yang lebih baik di dalam organisasi publik. Oleh karena itu, kasus ini menunjukkan pentingnya peran KPK dalam menjaga integritas lembaga pemerintah di masa mendatang.







