Denera Bidik Groundbreaking Delapan Proyek Energi Sampah pada Kuartal I 2027

Denera Bidik Groundbreaking Delapan Proyek Energi Sampah pada Kuartal I 2027

Jakarta | PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menargetkan delapan lokasi proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) tahap kedua mulai melaksanakan peletakan batu pertama secara bertahap pada kuartal I 2027. Target tersebut disampaikan CEO Denera, Fadli Rahman, dalam media briefing di kantor perusahaan di Jakarta Selatan pada Senin (19/10).

Rencana itu menandai langkah lanjutan Denera dalam mengembangkan fasilitas yang mengolah sampah menjadi energi listrik. Dengan delapan lokasi baru yang ditargetkan memasuki tahap peletakan batu pertama, perusahaan menyiapkan pembangunan secara bertahap, bukan memulai seluruh proyek pada waktu yang sama. Kuartal pertama 2027 menjadi rentang waktu yang ditetapkan untuk memulai tahapan tersebut.

Peletakan batu pertama merupakan penanda dimulainya pembangunan fisik di lokasi proyek. Karena itu, target Denera memberi gambaran mengenai jadwal awal pengerjaan untuk rangkaian PSEL tahap kedua, sekaligus menunjukkan bahwa proyek-proyek tersebut tengah diarahkan menuju fase konstruksi. Namun, penyebutan target waktu itu tidak dengan sendirinya berarti seluruh fasilitas akan langsung beroperasi pada kuartal yang sama.

Fadli menyampaikan informasi mengenai sasaran tersebut dalam pertemuan dengan media. Keterangan itu menjadi dasar bagi publik untuk memahami rencana pengembangan delapan lokasi, terutama terkait jumlah proyek dan periode awal pembangunan yang dituju. Denera menyebut pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap, sementara informasi yang disampaikan berfokus pada target dimulainya peletakan batu pertama.

Pengembangan PSEL menghubungkan pengelolaan sampah dengan upaya menghasilkan listrik, sehingga kemajuan proyek dapat menjadi perhatian bagi sektor energi maupun pengelolaan lingkungan. Untuk saat ini, sasaran yang diumumkan Denera adalah memulai pembangunan di delapan lokasi tahap kedua pada kuartal I 2027. Rincian lebih lanjut mengenai lokasi, kapasitas, jadwal penyelesaian, dan waktu operasi tidak tercantum dalam keterangan tersebut. Dengan demikian, perkembangan berikutnya akan memperjelas tahapan proyek setelah target awal pembangunan diumumkan.

Fadli menjelaskan bahwa minat pendanaan untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) menunjukkan penguatan. Aliran modal dari investor dan perbankan dinilai semakin terbuka seiring reformasi aturan yang membuat proyek lebih menarik dan layak dibiayai. Perubahan tersebut menjadi konteks penting bagi upaya mendorong pengembangan proyek, karena keputusan pendanaan berkaitan erat dengan kejelasan kerangka pelaksanaan dan tingkat kepastian yang tersedia bagi pihak yang menanamkan modal. Dengan aturan yang dinilai membaik, proyek PSEL dipandang memiliki daya tarik lebih besar bagi sumber pembiayaan.

Dalam penjelasannya, Fadli menyoroti kepastian lahan sebagai salah satu faktor yang mendukung kelayakan proyek. Kejelasan mengenai lahan membantu memberikan dasar yang lebih pasti bagi pelaksanaan, sehingga menjadi pertimbangan penting bagi investor maupun perbankan. Ia juga menekankan kejelasan pengembalian modal. Bagi penyedia pembiayaan, pemahaman yang lebih terang mengenai pengembalian investasi merupakan bagian penting dalam menilai proyek. Selain itu, perbaikan sistem tarif turut disebut sebagai faktor yang membuat skema PSEL lebih menarik. Kepastian lahan, pengembalian modal, dan sistem tarif tersebut dipaparkan sebagai unsur yang berkaitan dengan meningkatnya minat pendanaan, tanpa mengubah kebutuhan proyek untuk memenuhi ketentuan yang berlaku.

Penguatan minat dari investor dan perbankan juga terlihat dalam proyeksi kebutuhan pembiayaan untuk proyek tahap kedua. Fadli menyebut proyek-proyek pada tahap ini diproyeksikan menyerap pembiayaan hingga 3,6 kali lipat dari total kebutuhan investasi. Angka tersebut menggambarkan skala pembiayaan yang diproyeksikan untuk tahap kedua, bukan angka tambahan di luar pernyataan tersebut. Dalam kaitannya dengan reformasi aturan, proyeksi ini menunjukkan pentingnya kerangka yang dinilai lebih jelas bagi pembiayaan proyek. Kepastian lahan, kejelasan pengembalian modal, dan perbaikan sistem tarif menjadi faktor yang ia soroti ketika menjelaskan mengapa pendanaan PSEL menguat. Penjelasan itu menegaskan hubungan pembenahan aturan dan meningkatnya ketertarikan sumber dana, baik dari investor maupun perbankan, terhadap proyek energi sampah yang dikembangkan melalui skema PSEL.

Untuk delapan lokasi pada tahap kedua, Denera merencanakan struktur kepemilikan yang menempatkannya sebagai pemegang saham mayoritas. Perusahaan menyebut porsi kepemilikan Denera dirancang sebesar 51 persen, sementara bagian lainnya akan dimiliki bersama oleh mitra konsorsium. Rancangan ini memberikan Denera posisi utama dalam kepemilikan proyek, sekaligus membuka ruang bagi mitra untuk berpartisipasi dalam pengembangan dan pendanaan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tersebut. Komposisi kepemilikan ini berlaku sebagai rencana bagi lokasi tahap kedua, bukan keterangan bahwa seluruh badan usaha proyek telah dibentuk atau transaksi sahamnya sudah diselesaikan.

Dari sisi pendanaan, skema yang dijelaskan perusahaan terdiri atas 70 persen pinjaman perbankan dan 30 persen ekuitas. Porsi ekuitas tersebut direncanakan berasal dari gabungan Denera dan mitra konsorsium. Dengan demikian, pembiayaan proyek diharapkan mengombinasikan sumber utang dengan modal para pemegang saham, alih-alih sepenuhnya bergantung pada satu jenis dana. Pinjaman bank direncanakan menjadi bagian terbesar dari struktur modal, sedangkan ekuitas berfungsi sebagai kontribusi bersama para pihak yang terlibat. Rincian mengenai bank pemberi pinjaman, persyaratan fasilitas, nilai investasi, maupun pembagian kontribusi ekuitas antarpihak belum dinyatakan dalam skema umum yang disampaikan.

Angka 51 persen, 70 persen, dan 30 persen perlu dibaca sebagai rancangan yang dipaparkan Denera untuk delapan proyek tahap kedua. Angka tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pinjaman perbankan telah dicairkan, seluruh kebutuhan modal telah tersedia, atau kepemilikan telah resmi dialihkan. Realisasi pendanaan masih dapat bergantung pada proses lanjutan, termasuk kesepakatan dengan mitra, persetujuan kredit, pemenuhan persyaratan pembiayaan, serta tahapan administratif dan teknis proyek. Karena itu, pemisahan rencana dan realisasi penting bagi pembaca ketika menilai kesiapan setiap lokasi. Skema tersebut menunjukkan arah pendekatan perusahaan terhadap kepemilikan dan sumber modal, tetapi perkembangan berikutnya akan menentukan apakah susunan itu terlaksana sesuai rancangan. Informasi final mengenai penutupan pendanaan dan struktur pemegang saham dapat berubah setelah seluruh kesepakatan terkait diselesaikan.

Sebelum keputusan investasi final ditetapkan, Denera masih menyelesaikan desain rekayasa dasar untuk proyek-proyek energi sampah yang direncanakan. Tahap ini menjadi bagian penting dalam mematangkan rancangan teknis dan kebutuhan pelaksanaan, sekaligus menyediakan dasar yang lebih lengkap bagi perusahaan untuk menilai kesiapan setiap lokasi. Karena itu, keputusan investasi belum dapat dipandang sebagai langkah yang telah diambil. Denera masih perlu menuntaskan pekerjaan desain tersebut sebelum menentukan kelanjutan proyek secara final.

Sejalan dengan persiapan itu, perusahaan menargetkan penerbitan surat penunjukan resmi kepada mitra atau letter of award pada pertengahan Desember mendatang. Surat tersebut menjadi salah satu tahapan dalam proses penetapan mitra proyek. Target penerbitannya menunjukkan bahwa pembahasan kemitraan masih berjalan, tetapi belum berarti seluruh proses pengembangan telah selesai. Setelah penunjukan, sejumlah langkah lain tetap perlu dipersiapkan agar rencana proyek dapat bergerak menuju tahap berikutnya dengan landasan yang memadai.

Fadli menyampaikan bahwa pelaksanaan penandatanganan perjanjian pemegang saham juga berkaitan dengan persiapan proyek. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengaturan antarpihak yang terlibat, sehingga prosesnya perlu berjalan seiring dengan pematangan aspek teknis dan kelembagaan. Selain itu, berbagai perizinan masih menjadi pekerjaan yang harus dituntaskan sebelum konstruksi dapat dimulai. Denera sedang mengejar proses perizinan secara paralel, sembari melanjutkan persiapan lain yang diperlukan. Langkah paralel ini mencerminkan upaya perusahaan menjaga agar beberapa kebutuhan proyek dapat diproses bersamaan, tanpa mengabaikan tahapan yang harus dipenuhi.

Dengan desain rekayasa dasar, penunjukan mitra, perjanjian pemegang saham, dan perizinan yang masih berproses, jadwal konstruksi tetap bergantung pada penyelesaian tahapan-tahapan tersebut.

Baca juga: Menggandeng Industri Menuju Energi Berkelanjutan 2027 | Inovasi Pengelolaan Sampah Menjadi Energi di Bogor | Proyek Inovatif untuk Pengolahan Sampah di Bogor