Jakarta | Daniel Mananta mengungkap keputusan besar yang diambilnya sebagai orang tua, yakni mengizinkan putri sulungnya, Mila Mananta, menempuh pendidikan di Jerman sejak berusia 14 tahun. Keputusan tersebut membuat Mila harus tinggal dan belajar sendiri di Eropa, jauh dari keluarga dan lingkungan yang selama ini dikenalnya. Bagi Daniel, langkah itu bukan sekadar pilihan mengenai pendidikan, melainkan perubahan besar dalam kehidupan putrinya sekaligus keluarganya.
Keberanian untuk melepas Mila tentu tidak datang dengan mudah. Sebagai ayah, Daniel perlu menghadapi berbagai perasaan ketika menyadari bahwa putrinya akan menjalani keseharian tanpa pendampingan langsung dari orang tua. Kehidupan di negara lain menuntut kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan untuk beradaptasi. Karena itu, keputusan tersebut menjadi pengalaman emosional bagi Daniel, terutama karena Mila masih berada pada usia yang relatif muda ketika mulai menjalani pendidikan jauh dari rumah.
Daniel menyadari bahwa memberi izin kepada Mila untuk bersekolah di Jerman berarti mempercayakan sebagian besar proses kehidupan putrinya kepada kemampuan Mila sendiri. Di satu sisi, ia harus memastikan keputusan itu dapat mendukung masa depan sang anak. Di sisi lain, ia perlu belajar menerima jarak dan mengelola kekhawatiran yang muncul sebagai orang tua. Posisi Daniel sebagai kepala keluarga juga membuat pilihan tersebut memiliki pertimbangan yang luas, bukan hanya menyangkut keinginan pribadi Mila, tetapi juga kesiapan keluarga dalam menghadapi perubahan.
Langkah Mila tinggal dan belajar sendiri di Eropa akhirnya menjadi titik penting dalam perjalanan keluarga Daniel. Keputusan itu menunjukkan adanya proses saling percaya orang tua dan anak. Bagi Mila, pengalaman tersebut membuka ruang untuk tumbuh lebih mandiri. Bagi Daniel, melepas putrinya menjadi pelajaran tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan keberanian untuk memberi kesempatan kepada anak menjalani jalannya sendiri.
Daniel Mananta mengungkapkan pergulatan batin ketika harus merelakan putrinya yang masih berusia 14 tahun bersekolah di Jerman. Keputusan tersebut tidak datang dengan mudah, terutama karena ia menyadari bahwa sang anak masih berada pada usia remaja dan membutuhkan pendampingan orang tua. Jarak Indonesia dan Jerman membuat perasaan khawatir semakin kuat. Di satu sisi, Daniel ingin memberikan ruang bagi putrinya untuk tumbuh, belajar mandiri, serta mengejar pengalaman baru. Di sisi lain, naluri sebagai ayah mendorongnya untuk terus melindungi anak dari berbagai hal yang mungkin terjadi.
Dalam pengakuannya, Daniel semula tidak menyangka akan mampu memberikan izin kepada anak perempuan berusia 14 tahun untuk bersekolah di luar negeri. Ia menyadari bahwa keputusan itu menuntut kepercayaan besar, bukan hanya kepada putrinya, tetapi juga kepada lingkungan yang akan menjadi tempat anak tersebut menjalani kehidupan sehari-hari. Keberanian untuk mengizinkan sang anak pergi harus berjalan beriringan dengan rasa cemas yang tidak mudah dihilangkan.
Bagi Daniel, melepaskan putri ke luar negeri bukan sekadar persoalan memilih sekolah atau menentukan tempat tinggal. Ada proses emosional yang harus dilalui sebelum akhirnya ia menerima bahwa anaknya perlu memiliki pengalaman sendiri. Ia harus belajar membedakan menjaga dan membatasi, sekaligus memahami bahwa kemandirian tidak dapat dibangun jika anak selalu berada dalam jangkauan orang tua.
Daniel juga menyatakan bahwa keputusan tersebut terasa berat bagi seorang ayah. Perasaan itu muncul karena seorang ayah pada dasarnya ingin memastikan anak perempuannya selalu aman, bahkan ketika sang anak mulai melangkah menuju kehidupan yang lebih mandiri. Meski berat, ia tetap berusaha menghormati pilihan dan kebutuhan putrinya untuk berkembang. Pergulatan tersebut memperlihatkan bahwa izin untuk bersekolah di luar negeri bukanlah tanda berkurangnya kasih sayang, melainkan bentuk kepercayaan yang diberikan dengan perasaan campur aduk.
Kepergian Mila untuk menempuh pendidikan di Jerman turut mengubah suasana di rumah Daniel Mananta dan Viola Maria. Rumah yang sebelumnya diwarnai kehadiran anak-anak setiap hari kini terasa lebih lengang. Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya aktivitas di dalam rumah, tetapi juga dengan hilangnya kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini menjadi bagian dari rutinitas keluarga. Momen makan bersama, percakapan spontan, hingga kegiatan sederhana di anggota keluarga kini terasa berbeda karena salah satu sosok penting tidak lagi berada di rumah.
Daniel menyadari bahwa perubahan itu merupakan bagian dari proses pertumbuhan seorang anak. Mila adalah anak mereka yang paling dewasa dan kini berusia 14 tahun. Keputusannya bersekolah jauh dari rumah membuat keluarga harus belajar memberikan ruang yang lebih besar bagi kemandiriannya. Bagi Daniel dan Viola, proses tersebut menghadirkan perasaan yang beragam. Mereka tentu bangga melihat keberanian Mila mengambil langkah baru, tetapi pada saat yang sama harus beradaptasi dengan rasa rindu serta kekhawatiran yang muncul ketika anak berada di negara lain.
Dampak kepergian Mila juga terasa dalam momen-momen khusus keluarga. Tahun ini, Daniel dan Viola merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-15. Perayaan tersebut menjadi anniversary pertama tanpa kehadiran anak sulung mereka. Meskipun tetap dapat dirayakan sebagai penanda perjalanan rumah tangga, ketidakhadiran Mila membuat suasananya terasa berbeda. Ada ruang kosong yang biasanya diisi oleh kehadiran, perhatian, dan interaksi sang anak dalam perayaan keluarga.
Situasi ini memperlihatkan bahwa perubahan besar dalam kehidupan satu anggota keluarga dapat memengaruhi seluruh anggota lainnya. Daniel dan Viola kini menjalani fase baru sebagai orang tua yang mendampingi anak dari jarak jauh. Mereka perlu menjaga komunikasi, menyesuaikan rutinitas, serta tetap membangun kedekatan meskipun tidak lagi berbagi rumah setiap hari. Bagi keluarga Daniel, kepergian Mila bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan pengalaman emosional yang mengubah cara mereka menikmati kebersamaan.
Kelanjutan pendidikan Mila di Jerman masih menjadi hal yang belum dapat dipastikan oleh Daniel Mananta. Hingga saat ini, putrinya telah menjalani pendidikan di negara tersebut selama kurang lebih satu tahun. Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang Mila, sekaligus memberi kesempatan baginya untuk mengenal lingkungan belajar, budaya, serta kehidupan sehari-hari yang berbeda dari Indonesia.
Meski demikian, Daniel belum dapat memastikan apakah Mila akan tetap tinggal di Jerman untuk melanjutkan pendidikan atau kembali ke Indonesia. Keputusan tersebut masih bergantung pada berbagai pertimbangan, termasuk kenyamanan Mila, kesiapan keluarga, dan rencana pendidikan yang paling sesuai bagi putrinya. Karena itu, Daniel memilih untuk tidak menyampaikan kepastian sebelum ada keputusan yang benar-benar matang.
Daniel menyebut, apabila Mila merasa betah dan mampu beradaptasi dengan baik, ada kemungkinan ia melanjutkan sekolah di Jerman. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai gambaran kemungkinan, bukan keputusan final mengenai masa depan pendidikan Mila. Ia tetap mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan anaknya dalam menentukan langkah berikutnya.
Keterangan mengenai rencana pendidikan tersebut disampaikan Daniel saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia memberikan penjelasan secara hati-hati mengenai perjalanan sekolah Mila selama setahun terakhir serta kemungkinan yang dapat terjadi setelahnya. Sampai ada keputusan resmi dari keluarga, belum dapat dipastikan apakah Mila akan meneruskan pendidikan di Jerman atau kembali bersekolah di Indonesia.
Baca juga: Pemerintah Kucurkan Dana Rp1,03 Miliar Untuk Revitalisasi SDN Ciburuy Kabupaten Bandung Plafon PVC,Lantai Marmer Tambah Suasana Sekolah Indah Nan Bikin Adem Murid | Kembali Normal: Sekolah di Jakarta Mulai Laksanakan Pembelajaran Tatap Muka | Audiensi SWI Jabar dan Disdik Kabupaten Bandung Soroti Anggaran Revitalisasi Sekolah

