SUMEDANG, Radarnusantara.net —
Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Minggu, 17 Agustus 2026, berlangsung khidmat di seluruh penjuru negeri. Mulai tingkat Ibu Kota, Provinsi, Kabupaten, hingga Kecamatan dan Desa, detik-detik proklamasi tahun 1945 kembali dikenang dengan upacara bendera.
Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, barisan pelajar dari jenjang SDN, SD Swasta, SLTP Negeri, SLTP Swasta, hingga SMA, SMK, dan sekolah kejuruan lainnya menjadi pasukan pengibar bendera. Sang Saka Merah Putih dikibarkan setinggi 17 meter sebagai simbol 17 Agustus, disaksikan jajaran legislatif, yudikatif, eksekutif, dan unsur lembaga lainnya.
Sorak gemuruh menyambut proklamasi menggema. Namun di sela kebanggaan itu, masih terdengar keluh kesah para pendidik.
Seusai upacara dan pembubaran pasukan, seorang guru paruh baya berjalan dengan nada kesal.
“Kami tidak butuh pujian, tapi kami butuh pengakuan,” ucapnya lirih namun tegas.
Kalimat yang sama juga terdengar dari barisan peserta upacara lainnya. Mereka menyoroti nasib belasan tahun pengabdian guru honorer yang hingga kini belum diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau P3K. Usia yang semakin mendekati masa purna tugas membuat harapan mereka kian tipis.
“Di mana wakil kami berada? Saat butuh suara dia datang, saat kami butuh dia hilang,” tutur guru tersebut.
Hal senada juga disampaikan para guru honorer murni di Kecamatan Situraja.
“Mengapa tangis pendidik tidak pernah didengar? Masih banyak guru tanpa jasa yang hidupnya kekurangan,” ujar salah seorang dari mereka.
Bagi para guru, pengabdian 6 tahun di SD, 3 tahun di SLTP, dan 3 tahun di SLTA bukan sekadar angka. Mereka telah mengantarkan anak didiknya mampu menjalankan tugas negara, mulai dari penaikan hingga penurunan bendera dengan khidmat.
“Bukan pujian yang kami cari. Kami hanya ingin negara hadir dan mengakui pengabdian kami,” tutupnya.
*Reporter: Deni Surya Sukumah*
