IHSG Berbalik Melemah Hampir 2% Setelah Sempat Menguat di Awal Perdagangan

IHSG Berbalik Melemah Hampir 2% Setelah Sempat Menguat di Awal Perdagangan

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan sesi I, Senin, 12 Oktober 2026. Pergerakan indeks yang sebelumnya dibuka di zona hijau berubah menjadi penurunan tajam menjelang pertengahan hari. Kondisi tersebut membuat IHSG bergerak hampir 2% lebih rendah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 12.00 WIB, IHSG berada di level 5.975,78. Posisi itu mencerminkan penurunan sebesar 61,44 poin atau 1,93% dibandingkan penutupan sebelumnya. Dengan demikian, indeks utama pasar saham Indonesia tersebut kembali berada di bawah tekanan setelah sempat mencatatkan penguatan pada awal perdagangan.

Sepanjang sesi I, IHSG juga sempat menyentuh level terendah sementara di 5.971,41. Level tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 2% dari posisi penutupan sebelumnya. Perubahan arah ini menjadi gambaran utama pergerakan bursa pada perdagangan Senin hingga paruh pertama hari. Pada awal sesi, indeks masih berada di zona hijau, tetapi penguatan itu tidak bertahan hingga perdagangan mendekati pukul 12.00 WIB.

Selisih penurunan 61,44 poin menempatkan IHSG pada level 5.975,78, sedangkan titik terendah intrasesi berada sedikit di bawah level tersebut, yakni 5.971,41. Data itu memperlihatkan rentang pergerakan indeks selama sesi I sekaligus menegaskan intensitas pelemahan yang mendekati 2%. Pergerakan IHSG selanjutnya akan tercermin pada perkembangan perdagangan setelah sesi pertama berakhir.

Pergerakan IHSG pada sesi perdagangan tersebut diawali dengan penguatan. Tepat pada pembukaan pukul 09.00 WIB, indeks tercatat berada di level 6.109,32. Posisi itu lebih tinggi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada pada 6.093,76. Dengan demikian, pada menit-menit awal perdagangan, IHSG masih bergerak di atas level penutupan hari sebelumnya.

Penguatan kemudian berlanjut hingga indeks mencapai titik tertinggi harian sementara di level 6.128,72. Namun, posisi tersebut tidak bertahan lama. Setelah menyentuh level tertingginya pada awal sesi, arah pergerakan IHSG berubah. Indeks mulai mengalami penurunan dan bergerak masuk ke zona merah, menandai berakhirnya penguatan yang terjadi sejak pembukaan.

Tekanan penurunan berlanjut ketika perdagangan mendekati pukul 10.00 WIB. Pergerakan indeks yang sebelumnya berada di area positif berangsur melemah seiring turunnya level perdagangan. Setelah melewati fase penguatan dan pembalikan arah pada pagi hari, IHSG masih berada dalam tekanan hingga mendekati waktu tersebut.

Memasuki pertengahan hari, posisi indeks tercatat lebih rendah dibandingkan level saat pembukaan maupun titik tertinggi sementara yang dicapai sebelumnya. Rangkaian pergerakan itu menunjukkan perubahan arah yang berlangsung dalam satu sesi, dari penguatan pada awal perdagangan menjadi pelemahan menjelang siang. Kronologi tersebut mencakup pembukaan pada level yang lebih tinggi, pencapaian titik tertinggi sementara, pembalikan ke zona merah, serta penurunan lanjutan hingga perdagangan memasuki tengah hari.

Sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar terhadap pergerakan IHSG pada sesi perdagangan tersebut. Setelah sempat bergerak menguat pada awal perdagangan, indeks berbalik melemah seiring tekanan jual yang meningkat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor ini. Sektor infrastruktur tercatat turun 6,70%, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap pelemahan indeks secara keseluruhan. Penurunan tersebut mencerminkan memburuknya sentimen investor terhadap saham-saham yang memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar.

Tekanan berikutnya datang dari sektor energi yang melemah 3,65%. Koreksi pada sektor ini turut memperbesar penurunan IHSG, terutama karena saham-saham energi menjadi salah satu kelompok yang aktif diperdagangkan. Sementara itu, sektor barang baku juga mengalami penurunan sebesar 2,82%. Pelemahan di sektor tersebut menambah luas tekanan pada pasar, setelah investor merespons pergerakan harga saham dan kondisi perdagangan secara lebih berhati-hati.

Beberapa saham dinyatakan menjadi penekan utama IHSG pada sesi tersebut. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) termasuk dalam kelompok yang memberikan tekanan terhadap indeks. Pergerakan saham-saham tersebut menjadi perhatian karena sebagian di antaranya memiliki kapitalisasi pasar besar atau likuiditas perdagangan yang tinggi.

Selain nama-nama tersebut, koreksi IHSG juga turut dipengaruhi oleh saham PT Astra International Tbk. (ASII), PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Tekanan yang muncul secara bersamaan pada berbagai sektor dan saham unggulan membuat penguatan pada awal sesi tidak dapat dipertahankan. Kondisi ini menunjukkan bahwa arah indeks sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham utama, khususnya ketika tekanan jual meluas ke beberapa kelompok industri.

Pergerakan IHSG pada sesi perdagangan tersebut berlangsung di tengah perhatian pelaku pasar terhadap berbagai agenda ekonomi dan keuangan yang akan berlangsung sepanjang pekan ini. Pasar keuangan global dan Indonesia dijadwalkan menghadapi sejumlah rilis data serta agenda penting, mulai dari China hingga Amerika Serikat. Informasi yang muncul dari agenda tersebut akan menjadi bagian dari perkembangan yang dipantau oleh investor dalam menilai kondisi ekonomi dan arah pasar.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand. Pertemuan tersebut dijadwalkan dihadiri sejumlah pejabat penting, yang juga akan menyampaikan pidato dalam rangkaian agenda. Chairman The Fed Kevin Warsh termasuk salah satu pejabat yang dijadwalkan hadir dan memberikan pidato. Pernyataan maupun pembahasan dalam forum internasional itu menjadi bagian dari agenda pasar yang akan dicermati selama pekan berjalan.

Rabu disebut sebagai salah satu hari yang krusial karena akan memuat rilis data inflasi Amerika Serikat. Data tersebut termasuk dalam rangkaian informasi ekonomi utama yang dijadwalkan hadir pada pekan ini, bersama dengan agenda dan rilis data dari negara lain, termasuk China. Dengan demikian, pelaku pasar akan mencermati perkembangan agenda global dan domestik tersebut sebagai konteks bagi pergerakan pasar keuangan. Berbagai agenda itu merupakan latar perkembangan pasar yang perlu diperhatikan, tanpa serta-merta menjadikannya sebagai penyebab pasti perubahan IHSG pada perdagangan hari ini.

Baca juga: IHSG Menguat Menuju Level 6.700